Senin, 16 Januari 2017

Sejarah Lokal : Madura dalam Budaya






TRADISI KERAPAN SAPI DAN HUBUNGANNYA DENGAN MASYARAKAT MADURA


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang didalamnya tersebar berbagai macam kebudayaan suku bangsa. Dari Sabang sampai Merauke kebudayaan yang tersebar di Indonesia beraneka ragam, kebudayaan merupakan salah satu hasil karya yang kebanyakan telah dilakukan secara turun temurun dari zaman nenek moyang dan  pada masing-masing daerah memiliki karakteristik serta makna tersendiri. Salah satu kekayaan budaya  yang dimiliki Indonesia adalah Kerapan Sapi yang terdapat di pulau Madura. Kerapan Sapi merupakan budaya masyarakat Madura yang secara kultural sudah melekat dalam kehidupan orang Madura. Kerapan Sapi menjadi kegiatan budaya yang paling digemari oleh Masyarakat Madura di masing-masing kabupaten mulai dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, sampai Sumenep.
Kerapan Sapi merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan sesudah panen tembakau dalam bentuk perlombaan yang berlangsung secara turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Kerapan Sapi bukan hanya sekedar lomba melainkan juga merupakan gambaran tentang kebersamaan, kerja keras, prestis dan kegembiraan. Kerapan Sapi sebagai identitas budaya Madura, dan menjadi ikon budaya Jawa Timur.
Bedasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk mengkaji dan meneliti secara mendalam mengenai Kerapan Sapi Madura, yang dirumuskan dengan kalimat judul yaitu Tradisi Kerapan Sapi dan Hubungannya dengan Masyarakat Madura”.


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab 2 berisi tinjauan pustaka yang berisi teori dan sekilas tentang penjelasan Kerapan Sapi Madura.

2.1. Makna
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002 : 703) makna adalah arti, maksud pembicaraan dari penulis, pengertian yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan. Selanjutnya, penggunaan istilah makna dalam penelitian ini berfungsi sebagai makna khusus. Makna khusus yaitu makna kata atau istilah yang pemakaiannya terbatas pada bidang tertentu (KBBI, 2002: 703).
Dari pengertian tentang makna tersebut, dapat diketahui bahwa istilah makna dapat dipakai dalam berbagai keperluan tetapi sesuai dengan konteks kalimatnya. Di samping itu, pemakaiannya juga disesuaikan pula dengan bidang-bidang yang berkaitan dengan pemakaian istilah makna. Berkaitan dengan penelitian ini, makna yang dipakai adalah makna khusus yaitu istilah yang pemakaian dan maknanya terbatas pada bidang tertentu.

2.2. Tradisi
            Tradisi merupakan adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat. Tradisi (Bahasa Latin: traditio, "diteruskan") atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.
Tradisi merupakan hasil cipta dan karya manusia objek material, kepercayaan, khayalan, kejadian, atau lembaga yang di wariskan dari sesuatu generasi ke generasi berikutnya. Seperti misalnya adat-istiadat, kesenian dan properti yang digunakan. Sesuatu yang di wariskan tidak berarti harus diterima, dihargai, diasimilasi atau disimpan sampai mati. Bagi para pewaris setiap apa yang mereka warisi tidak dilihat sebagai “ tradisi ”. tradisi yang diterima akan menjadi unsur yang hidup didalam kehidupan para pendukungnya. Ia menjadi bagian dari masa lalu yang di pertahankan sampai sekarang dan mempunyai kedudukan yang sama dengan inovasi- inovasi baru. Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang.

2.3. Kerapan Sapi dan Hubungannya dengan Masyarakat Madura
            Kerapan atau kerrabhan (dalam bahasa Madura) dapat diartikan berpacu atau berlomba, untuk mendapatkan kemenangan atau mendapatkan tempat yang terdepan. Ada pula yang menyebutkan dari kata kirap artinya melepaskan berangkat bersama-sama, berbondong-bondong. Ada yang berpendapat kata kerapan dari bahasa Arab kirabah artinya persahabatan. Ada pula yang berpendapat kata kerapan dari kata garaban yang artinya bentukan baru atau hasil karya (Sulaiman, 1983/84: 3-4). Kerapan sebagai sebuah atraksi lomba balapan menjadi kegemaran masyarakat Madura. Perlu diketahui bahwa hewan yang dikerap tidak hanya sapeh (sapi) tetapi juga hewan lainnya seperti kambing, kelinci, merpati. Tradisi permainan ini menurut Rozaki (2004 : 73-74) merupakan bentuk perpaduan antara pemenuhan kepentingan dengan media permainan yang ada di lingkungannya.
            Kerapan Sapi merupakan permainan yang sangat digemari orang Madura, dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Selain itu, Kerapan Sapi merupakan permainan yang dominan milik masyarakat. Ada pula yang mengatakan bahwa Kerapan Sapi adalah sebuah pesta rakyat yang secara turun-temurun telah menjadi tradisi yang berkembang di lingkungan masyarakat Madura. Kerapan Sapi sudah menjadi kultur yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat Madura. Kerapan Sapi bukan hanya perlombaan semata, tetapi saat ini Kerapan Sapi sudah menjadi kebanggan bagi orang madura bahkan setiap kabupaten tersebut memiliki arena pacuan Kerapan Sapi, bahkan sampai tingkat kecamatan.
            Masyarakat Madura merupakan masyarakat yang di kenal berwatak keras, kasar, panas dan sebagainya. Sebenarnya Madura tidaklah demikian. Marilah kita meluruskan persepsi tersebut. Madura memiliki adat budaya yang kental dengan nuansa keagamaan dan memiliki tata krama yang tinggi. Ada banyak sekali pondok pesantren ternama dan ada banyak sekali tokoh negeri yang lahir di Madura. Suku Madura juga dikenal sebagai pekerja keras yang pantang menyerah. Nilai-nilai luhur dan nilai-nilai budaya dijaga dengan kuat oleh masyarakat Madura. Jika Anda bersikap sopan, Anda tidak akan diperlakukan kasar bahkan justru sebaliknya Anda akan diperlakukan bagai raja. Bagi masyarakat madura "Tamu adalah Raja", dan kerapan sapi merupakan salah satu kebudayaan yang masih diminati oleh masyarakat Madura.

2.3.1. Sejarah Kerapan Sapi Madura
Kerapan Sapi merupakan istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Pada perlombaan ini, sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai satu menit.
Sejarah Kerapan Sapi tidak ada yang tahu secara jelasnya, asal usul Kerapan Sapi ada beberapa versi. Versi pertama mengatakan bahwa Kerapan Sapi telah ada sejak abad ke-14. Waktu itu kerapan sapi digunakan untuk menyebarkan agama Islam oleh seorang kyai yang bernama Pratanu. Ada pula yang mengatakan bahwa kerapan sapi dipopulerkan oleh seorang tokoh yang berasal dari pulau kecil disebelah timur pulau Madura, seorang ulama Sumenep bernama Syeh Ahmad Baidawi (Pangeran Katandur) yang memperkenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu yang dikenal oleh masyarakat Madura dengan sebutan "nanggala" atau "salaga" yang ditarik dengan dua ekor sapi.
 Versi yang lain lagi mengatakan bahwa Kerapan Sapi diciptakan oleh Adi Poday, yaitu anak Panembahan Wlingi yang berkuasa di daerah Sapudi pada abad ke-14. Adi Poday mengembara di Madura membawa pengalamannya di bidang pertanian ke Pulau Sapudi, sehingga pertanian di pulau itu menjadi maju. Salah satu teknik untuk mempercepat penggarapan lahan pertanian yang diajarkan oleh Adi Poday adalah dengan menggunakan sapi. Lama-kelamaan, karena banyaknya para petani yang menggunakan tenaga sapi untuk menggarap sawahnya secara bersamaan, maka timbullah niat mereka untuk saling berlomba dalam menyelesaikannya. Dan, akhirnya perlombaan untuk menggarap sawah itu menjadi semacam olahraga lomba adu cepat yang disebut Kerapan Sapi.
Dari waktu kewaktu semakin ada perkembangan terhadap adu balapan sapi tersebut, sehinngga diadakanlah lomba adu balapan sapi yang diberi nama Kerapan Sapi. Gagasan ini kemudian menimbulkan adanya tradisi Kerapan Sapi, yang tentu tidak lepas dari latar belakang penduduk pulau Madura yaitu Petani. Kerapan Sapi segera menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya khususnya setelah menjelang musim panen habis. Kerapan Sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi musik saronen.
Sampai sekarang Kerapan Sapi sudah berkembang jauh berbeda dengan awal kemunculannya. Kerapan Sapi menjadi identitas budaya masyarakat Madura. Keberadaan dan kepopuleran Kerapan Sapi Madura diakui oleh pemerintah Indonesia dengan dikeluarkannya uang koin seratusan rupiah emisi tahun 1991-1998 yang pada salah satu sisinya bergambar kerapan sapi dan sisi sebaliknya bergambar Garuda Pancasila.

2.3.2. Makna yang Terkandung dalam Tradisi Kerapan Sapi Madura
Adanya tradisi kerapan sapi Madura bukan hanya sebagai ajang perlombaan yang memperebutkan menang atau kalah, tapi di dalam tradisi tersebut mengandung makna yang berhubungan dengan nilai budaya masyarakat Madura yaitu berupa kerja keras, kerja sama, persaingan, ketertiban, dan sportivitas.
Nilai kerja keras tercermin dalam proses pelatihan sapi, sehingga menjadi seekor sapi pacuan yang mengagumkan (kuat dan tangkas). Untuk menjadikan seekor sapi seperti itu tentunya diperlukan kesabaran, ketekunan dan kerja keras. Tanpa itu mustahil seekor sapi aduan dapat menunjukkan kehebatannya di arena kerapan sapi.
Nilai kerja sama yang dapat mempererat persaudaraan, tercermin dalam proses permainan itu sendiri. Permainan kerapan sapi, sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai pihak. Pihak-pihak itu satu dengan lainnya saling membutuhkan.. Pemilik Sapi Kerapan tidak bisa mengerap sapinya sendirian. Mengerap sepasang sapi membutuhkan orang lain, minimal enam orang dengan rincian, dua orang sebagai pelepas, dua orang sebagai pendamping pelepas, satu orang sebagai joki, satu orang sebagai penangkap sapi saat lepas dari finis. Keenam orang tersebut adalah komplementer yang saling melengkapi satu sama lain, jika satu orang tidak bisa, maka susah bahkan tidak bisa mengerap sapi. Untuk itu, diperlukan kerja sama sesuai dengan kedudukan dan peranan masing-masing. Tanpa itu mustahil permainan kerapan sapi dapat terselenggara dengan baik.
Saat perlombaan pun, seperti perlombaan kerapan sapi kresidenan atau yang lainnya, pesertanya dari berbagai daerah di Madura, bersatu di lapangan, saling tegur sapa. Mulai yang tidak kenal menjadi kenal, yang kenal menjadi akrab sampai adanya transaksi jual beli sapi kerapan. Hubungan sosial seperti inilah yang dapat mempertahankan kebudayaan kerapan sapi di Madura.
Nilai persaingan tercermin dalam arena kerapan sapi. Persaingan menurut Koentjaraningrat (2003: 187) adalah usaha-usaha yang bertujuan untuk melebihi usaha orang lain dalam masyarakat. Dalam konteks ini para peserta permainan kerapan sapi berusaha sedemikian rupa agar sapi aduannya dapat berlari cepat dan mengalahkan sapi pacuan lawan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, masing-masing berusaha agar sapinya dapat melakukan hal itu sebaik-baiknya. Jadi, antarpeserta bersaing dalam hal ini.
Nilai ketertiban tercermin dalam proses permainan kerapan sapi itu sendiri. Permainan apa saja, termasuk kerapan sapi, ketertiban selalu diperlukan. Ketertiban ini tidak hanya ditunjukkan oleh para peserta, tetapi juga penonton yang mematuhi peraturan-peraturan yang dibuat. Dengan sabar para peserta menunggu giliran sapi-sapi pacuannya untuk diperlagakan. Sementara, penonton juga mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Mereka tidak membuat keonaran atau perbuatan-perbuatan yang pada gilirannya dapat mengganggu atau menggagalkan jalannya permainan. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.
Dan selain nilai-nilai budaya, kerapan sapi juga mengandung beberapa makna yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, dan budaya.
Makna Sosial
Dalam konteks ini mengacu pada pemikiran bahwa pemenangan kerapan sapi dapat berpengaruh pada perilaku pengerap dalam membangun relasi sosial. Pengerap yang menang dalam kerapan secara otomatis akan terkenal, ia memiliki kebanggaan, prestis, yang memang dia kejar yaitu kehormatan dan gengsi.
Makna Ekonomi
Kerapan sapi merupakan gambaran kehidupan ekonomi orang Madura. Siapa pengerap itu, dari kalangan apa, dan bagaimana kerapan terselenggara. Adanya perlombaan kerapan sapi menjadi magnet terselenggaranya sebuah pasar serta bagi orang Madura sapi memiliki banyak fungsi dan menguntungkan, menurut mereka sapi merupakan tabungan sewaktu-waktu bisa digunakan untuk biaya sekolah anak, memperbaiki rumah, bahkan membeli alat transportasi. Dan harga sapi kerap bernilai tinggi atau mahal hingga puluhan juta rupiah.
Makna Budaya
Terselenggaranya kerapan sapi melibatkan banyak pihak baik dari warga pemilik kerapan, kalangan dari pejabat formal maupun non-formal. Keterlibatan mereka dalam pelaksanaan kerapan sapi memberikan makna bahwa kerapan sapi merupakan karya budaya milik rakyat Madura. Perlombaan kerapan sapi sangat populer dan digandrungi oleh sebagian besar orang Madura, sehingga memiliki makna sebagai proses dalam memeperoleh status sosial, dan jalinan pertemanan maupun persahabatan (Rozaki,2004: 73-74).

2.3.3. Macam-Macam Kerapan Sapi Madura
Kerapan Sapi yang menjadi ciri khas orang Madura ini sebenarnya terdiri dari beberapa macam, yaitu:
1. Kerap Keni (kerapan kecil)
Kerapan jenis ini pesertanya hanya diikuti oleh orang-orang yang berasal dari satu kecamatan atau kewedanaan saja. Dalam kategori ini jarak yang harus ditempuh hanya sepanjang 110 meter dan diikuti oleh sapi-sapi kecil yang belum terlatih. Sedangkan penentu kemenangannya, selain kecepatan, juga lurus atau tidaknya sapi ketika berlari. Bagi sapi-sapi yang dapat memenangkan perlombaan, dapat mengikuti kerapan yang lebih tinggi lagi yaitu kerap raja.
2. Kerap Raja (kerapan besar)
Perlombaan yang sering juga disebut kerap negara ini umumnya diadakan di ibukota kabupaten pada hari Minggu. Panjang lintasan balapnya sekitar 120 meter dan pesertanya adalah para juara kerap keni.
3. Kerap Onjangan (kerapan undangan)
Kerap onjangan adalah pacuan khusus yang para pesertanya adalah undangan dari suatu kabupaten yang menyelenggarakannya. Kerapan ini biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar tertentu.
4. Kerap Karesidenen (kerapan tingkat keresidenan)
Kerapan ini adalah kerapan besar yang diikuti oleh juara-juara kerap dari empat kabupaten di Madura. Kerap karesidenan diadakan di Kota Pamekasan pada hari Minggu, yang merupakan acara puncak untuk mengakhiri musim kerapan
5. Kerap jar-jaran (kerapan latihan)
Kerapan jar-jaran adalah kerapan yang dilakukan hanya untuk melatih sapi-sapi pacuan sebelum diturunkan pada perlombaan yang sebenarnya.

2.4. Teori dan Pendekatan
Penelitian ini menggunakan teori fungsionalisme. Warisan budaya akan bertahan lama karena terdapat fungsi yang dikandung oleh unsur-unsurnya. Secara kesatuan warisan budaya itu mempunyai fungsi yang terkait, yaitu merupakan satu sistem dimana berbagai unsur atau bagian didalamnya berfungsi antara yang satu dengan yang lainnya.
Teori lainnya yang digunakan dalam proses penelitian salah satunya teori deskriptif historis atau partikularis yang membantu deskripsi tentang asal-usul atau sejarah Kerapan Sapi.
Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini ialah antropologi budaya. Antropologi Budaya adalah salah satu cabang dari ilmu antropologi yang menekankan pada pola kehidupan manusia.


BAB 3. METODE PENELITIAN

Metode sejarah merupakan seperangkat asas dan aturan yang sistematik yang didesain guna membantu secara efektif untuk mengumpulkan sumber-sumber sejarah, menilainya secara kritis, dan menyajikan sintesis hasil-hasil yang dicapainya, yang pada umumnya berbentuk tertulis (Gilbert J. Garragan, S.J. 1957:33).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan makna yang terkandung dalam tradisi Karapan Sapi Madura dan hubungannya dengan masyarakat Madura. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata dalam bentuk tertulis maupun lisan. Seluruh data kemudian dianalisis secara induktif sehingga menghasilkan data yang deskriptif. Untuk memperoleh data, dilakukan atau dibutuhkan teknik pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan , diklasifikasikan dalam prosedur sejarah menjadi empat kegiatan, yakni: 1) Heuristik, 2) Kritik, 3) Interpretasi, 4) Historiografi.
1) Heuristik
Heuristik berasal dari kata “heuriskein” dalam bahasa Yunani yang berarti mencari atau menemukan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam objek penelitian pada bagian heuristik ini berupa sumber tertulis yaitu dokumentasi.
Tahap dokumentasi dilakukan untuk dapat memperkuat data. Dokumen-dokumen yang berisi data-data yang dibutuhkan meliputi buku-buku yang relevan, dan artikel atau sumber yang di dapat dari Perpustakaan Universitas Jember maupun dari internet, beserta foto-foto atau gambar tentang hal yang berkenaan dengan Kerapan Sapi Madura.
2) Kritik
Setelah mengumpulkan sumber-sumber sejarah, maka langkah selanjutnya yang harus dilaksanakan peneliti ialah mengadakan kritik sumber. Kritik sumber perlu dilakukan sebab sifat-sifat sumber data-data sejarah berbeda dengan sumber data ilmu sosial lainnya (Daliman, 2012:65).
Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap ini dengan memperoleh data baik yang di dapat dari perpustakaan atau internet yang dianggap relevan dan sudah terjamin keabsahannya 
3) Interpretasi
 Langkah yang kedua adalah identifikasi dari sejumlah data yang ada diambil data yang sesuai dengan topik penelitian. Proses berikutnya ialah klasifikasi yaitu pengelompokkan data. Data dari hasil pengumpulan yang telah dilakukan tadi, kemudian diperoleh jawaban umum, yaitu diperoleh jawaban responden yang menguasai dan ada responden yang tidak atau kurang menguasai topik penelitian. Responden yang bisa memberikan jawaban yang sesuai dengan topik penelitian dikelompokkan sendiri, sedangkan responden yang jawabannya kurang sesuai dengan topik penelitian dikelompokkan sendiri.
Teknik analisis data dalam Penelitian ini menggunakan analisis data yang bersifat kualitatif. Analisis ini mendeskripsikan mengenai makna yang terkandung dalam tradisi Kerapan Sapi Madura. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis induktif. Kemudian selanjutnya interpretasi, hasil dari data diinterpretasikan tentang makna-makna mengenai tradisi kerapan. Langkah yang berikutnya berupa inferensi atau membuat kesimpulan hasil akhir dari interpretasi yang sudah dilakukan.
4) Historiografi
Langkah terakhir ialah historiografi atau penulisan sejarah. Penyajian yang dilakukan peneliti didalam laporan penelitian pada tahap historiografi ada tiga bagian: 1) Bab 1 Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang, penegasan judul, ruang lingkup, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian; 2) Bab 2 Tinjauan Pustaka yang mengulas mengenai teori dan sekilas tentang tradisi kebudayaan Kerapan Sapi Madura; 3) Bab 3 Metode penelitian, dalam hal ini berisikan tentang metode penulisan sejarah yang terdiri dari empat langkah, yakni : heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. 

DAFTAR PUSTAKA

Sumintarsih, dkk. 2013. Kearifan Lokal. Yogyakarta : Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNP).
http://id.wikipedia.org/wiki/Karapan_sapi. [di akses pada tanggal  9 Mei 2014]
http://kerapan sapi madura/karapan-sapi-tradisi-madura-asli.html. [di akses pada tanggal  9 Mei 2014]
http://www.lontarmadura.com/.http://id.wikipedia.org/. [di akses pada tanggal  8 Mei 2014]
http://id.wikipedia.org/wiki/kerapan sapi madura/Pulau Madura - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.html. [di akses pada tanggal  10 Mei 2014]




Tidak ada komentar: