TRADISI
KERAPAN SAPI DAN HUBUNGANNYA DENGAN MASYARAKAT MADURA
BAB 1.
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang Masalah
Indonesia
merupakan salah satu negara kepulauan yang didalamnya tersebar berbagai macam kebudayaan
suku bangsa. Dari Sabang sampai Merauke kebudayaan yang tersebar di Indonesia
beraneka ragam, kebudayaan merupakan salah satu hasil karya yang kebanyakan
telah dilakukan secara turun temurun dari zaman nenek moyang dan pada
masing-masing daerah memiliki karakteristik serta makna tersendiri. Salah satu
kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia
adalah Kerapan Sapi yang terdapat di pulau Madura. Kerapan Sapi merupakan
budaya masyarakat Madura yang secara kultural sudah melekat dalam kehidupan
orang Madura. Kerapan Sapi menjadi kegiatan budaya yang paling digemari oleh
Masyarakat Madura di masing-masing kabupaten mulai dari Bangkalan, Sampang,
Pamekasan, sampai Sumenep.
Kerapan
Sapi merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan sesudah panen tembakau
dalam bentuk perlombaan yang berlangsung secara turun-temurun dari generasi ke
generasi berikutnya. Kerapan Sapi bukan hanya sekedar lomba melainkan
juga merupakan gambaran tentang kebersamaan, kerja keras, prestis dan
kegembiraan. Kerapan Sapi sebagai
identitas budaya Madura, dan menjadi ikon budaya Jawa Timur.
Bedasarkan
latar belakang tersebut penulis tertarik untuk mengkaji dan meneliti secara
mendalam mengenai Kerapan Sapi Madura, yang
dirumuskan dengan kalimat judul yaitu “Tradisi
Kerapan Sapi dan Hubungannya dengan Masyarakat Madura”.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Pada bab 2 berisi tinjauan pustaka yang
berisi teori dan sekilas tentang penjelasan Kerapan Sapi Madura.
2.1. Makna
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002 : 703) makna
adalah arti, maksud pembicaraan dari penulis, pengertian
yang diberikan kepada suatu bentuk kebahasaan. Selanjutnya, penggunaan istilah makna dalam
penelitian ini berfungsi sebagai makna khusus. Makna khusus yaitu makna kata
atau istilah yang pemakaiannya terbatas pada bidang tertentu (KBBI, 2002: 703).
Dari pengertian tentang makna tersebut, dapat
diketahui bahwa istilah makna dapat dipakai dalam berbagai keperluan tetapi
sesuai dengan konteks kalimatnya. Di samping itu, pemakaiannya juga disesuaikan
pula dengan bidang-bidang yang berkaitan dengan pemakaian istilah makna.
Berkaitan dengan penelitian ini, makna yang dipakai adalah makna khusus yaitu
istilah yang pemakaian dan maknanya terbatas pada bidang tertentu.
2.2. Tradisi
Tradisi merupakan adat kebiasaan
turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat. Tradisi (Bahasa Latin:
traditio, "diteruskan") atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu
yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu
kelompok masyarakat,
biasanya dari suatu negara,
kebudayaan, waktu,
atau agama
yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi
yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali)
lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.
Tradisi merupakan hasil
cipta dan karya manusia objek material, kepercayaan, khayalan, kejadian, atau
lembaga yang di wariskan dari sesuatu generasi ke generasi berikutnya. Seperti misalnya
adat-istiadat, kesenian
dan properti yang digunakan. Sesuatu yang di wariskan tidak berarti harus
diterima, dihargai, diasimilasi atau disimpan sampai mati. Bagi para pewaris
setiap apa yang mereka warisi tidak dilihat sebagai “ tradisi ”. tradisi yang
diterima akan menjadi unsur yang hidup didalam kehidupan para pendukungnya. Ia
menjadi bagian dari masa lalu yang di pertahankan sampai sekarang dan mempunyai
kedudukan yang sama dengan inovasi- inovasi baru. Tradisi merupakan suatu
gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan
dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi yang telah
membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang.
2.3. Kerapan
Sapi dan Hubungannya dengan Masyarakat Madura
Kerapan atau kerrabhan (dalam bahasa Madura) dapat diartikan berpacu atau
berlomba, untuk mendapatkan kemenangan atau mendapatkan tempat yang terdepan.
Ada pula yang menyebutkan dari kata kirap
artinya melepaskan berangkat bersama-sama, berbondong-bondong. Ada yang
berpendapat kata kerapan dari bahasa
Arab kirabah artinya persahabatan.
Ada pula yang berpendapat kata kerapan
dari kata garaban yang artinya
bentukan baru atau hasil karya (Sulaiman, 1983/84: 3-4). Kerapan sebagai sebuah atraksi lomba balapan menjadi kegemaran
masyarakat Madura. Perlu diketahui bahwa hewan yang dikerap tidak hanya sapeh (sapi) tetapi juga hewan lainnya
seperti kambing, kelinci, merpati. Tradisi permainan ini menurut Rozaki (2004 :
73-74) merupakan bentuk perpaduan antara pemenuhan kepentingan dengan media
permainan yang ada di lingkungannya.
Kerapan
Sapi merupakan permainan yang sangat digemari orang Madura, dari Bangkalan,
Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Selain itu, Kerapan Sapi merupakan permainan
yang dominan milik masyarakat. Ada pula yang mengatakan bahwa Kerapan
Sapi adalah sebuah pesta rakyat yang secara turun-temurun telah menjadi tradisi
yang berkembang di lingkungan masyarakat Madura. Kerapan Sapi sudah
menjadi kultur yang
menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat Madura. Kerapan Sapi bukan hanya
perlombaan semata, tetapi saat ini Kerapan Sapi sudah menjadi
kebanggan bagi
orang madura bahkan setiap kabupaten
tersebut memiliki arena pacuan Kerapan Sapi, bahkan sampai tingkat kecamatan.
Masyarakat
Madura merupakan masyarakat yang di kenal berwatak keras, kasar, panas dan
sebagainya. Sebenarnya Madura tidaklah demikian. Marilah
kita meluruskan persepsi tersebut. Madura memiliki adat budaya yang kental
dengan nuansa keagamaan dan memiliki tata krama yang tinggi. Ada banyak sekali
pondok pesantren ternama dan ada banyak sekali tokoh negeri yang lahir di
Madura. Suku Madura juga dikenal sebagai pekerja keras yang pantang menyerah.
Nilai-nilai luhur dan nilai-nilai budaya dijaga dengan kuat oleh masyarakat
Madura. Jika Anda bersikap sopan, Anda tidak akan diperlakukan kasar bahkan
justru sebaliknya Anda akan diperlakukan bagai raja. Bagi masyarakat madura
"Tamu adalah Raja", dan kerapan sapi merupakan salah satu kebudayaan
yang masih diminati oleh masyarakat Madura.
2.3.1. Sejarah
Kerapan Sapi Madura
Kerapan Sapi merupakan
istilah untuk menyebut perlombaan pacuan sapi
yang berasal dari Pulau Madura,
Jawa Timur. Pada perlombaan ini,
sepasang sapi yang menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan
mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan
pasangan-pasangan sapi lain. Trek pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter
dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh detik sampai
satu menit.
Sejarah Kerapan Sapi tidak ada yang tahu secara
jelasnya, asal usul Kerapan Sapi
ada beberapa versi. Versi pertama mengatakan bahwa Kerapan Sapi telah ada sejak
abad ke-14. Waktu itu kerapan sapi digunakan untuk menyebarkan agama Islam oleh
seorang kyai yang bernama Pratanu.
Ada pula yang mengatakan
bahwa kerapan sapi dipopulerkan oleh seorang tokoh yang berasal
dari pulau kecil disebelah timur pulau Madura, seorang ulama Sumenep
bernama Syeh Ahmad Baidawi (Pangeran
Katandur) yang memperkenalkan cara bercocok tanam dengan menggunakan
sepasang bambu yang dikenal oleh
masyarakat Madura
dengan sebutan "nanggala"
atau "salaga" yang ditarik
dengan dua ekor sapi.
Versi yang lain lagi mengatakan bahwa Kerapan
Sapi diciptakan oleh Adi Poday, yaitu anak Panembahan Wlingi yang berkuasa di
daerah Sapudi pada abad ke-14. Adi Poday mengembara di Madura membawa pengalamannya
di bidang pertanian ke Pulau Sapudi, sehingga pertanian di pulau itu menjadi
maju. Salah satu teknik untuk mempercepat penggarapan lahan pertanian yang
diajarkan oleh Adi Poday adalah dengan
menggunakan sapi. Lama-kelamaan, karena banyaknya para petani yang menggunakan
tenaga sapi untuk menggarap sawahnya secara bersamaan, maka timbullah niat
mereka untuk saling berlomba dalam menyelesaikannya. Dan, akhirnya
perlombaan untuk menggarap sawah itu menjadi semacam olahraga lomba adu cepat
yang disebut Kerapan Sapi.
Dari
waktu kewaktu semakin ada perkembangan terhadap adu balapan sapi tersebut, sehinngga diadakanlah lomba adu balapan sapi
yang diberi nama Kerapan Sapi. Gagasan ini kemudian
menimbulkan adanya tradisi Kerapan
Sapi, yang tentu tidak lepas dari
latar belakang penduduk pulau Madura
yaitu Petani. Kerapan
Sapi segera menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya khususnya setelah menjelang
musim panen habis. Kerapan
Sapi didahului dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan
dengan diiringi musik saronen.
Sampai
sekarang Kerapan Sapi sudah berkembang jauh berbeda dengan awal kemunculannya.
Kerapan Sapi menjadi identitas budaya masyarakat Madura. Keberadaan dan
kepopuleran Kerapan Sapi Madura diakui oleh pemerintah Indonesia dengan
dikeluarkannya uang koin seratusan rupiah emisi tahun 1991-1998 yang pada salah
satu sisinya bergambar kerapan sapi dan sisi sebaliknya bergambar Garuda
Pancasila.
2.3.2. Makna yang Terkandung dalam Tradisi Kerapan Sapi
Madura
Adanya tradisi
kerapan sapi Madura bukan hanya sebagai ajang perlombaan yang memperebutkan
menang atau kalah, tapi di dalam tradisi tersebut mengandung makna yang berhubungan dengan nilai budaya
masyarakat Madura yaitu berupa kerja keras, kerja sama, persaingan, ketertiban,
dan sportivitas.
Nilai kerja keras tercermin dalam
proses pelatihan sapi, sehingga menjadi seekor sapi pacuan yang mengagumkan (kuat
dan tangkas). Untuk menjadikan seekor sapi seperti itu tentunya diperlukan
kesabaran, ketekunan dan kerja keras. Tanpa itu mustahil seekor sapi aduan
dapat menunjukkan kehebatannya di arena kerapan sapi.
Nilai kerja sama yang dapat mempererat persaudaraan, tercermin dalam proses
permainan itu sendiri. Permainan kerapan sapi, sebagaimana telah disinggung
pada bagian atas, adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai pihak.
Pihak-pihak itu satu dengan lainnya saling membutuhkan.. Pemilik Sapi Kerapan tidak
bisa mengerap sapinya sendirian. Mengerap sepasang sapi membutuhkan orang lain,
minimal enam orang dengan rincian, dua orang sebagai pelepas, dua orang sebagai
pendamping pelepas, satu orang sebagai joki, satu orang sebagai penangkap sapi
saat lepas dari finis. Keenam orang tersebut adalah komplementer yang saling
melengkapi satu sama lain, jika satu orang tidak bisa, maka susah bahkan tidak
bisa mengerap sapi. Untuk itu, diperlukan kerja sama sesuai dengan kedudukan
dan peranan masing-masing. Tanpa itu mustahil permainan kerapan sapi dapat
terselenggara dengan baik.
Saat perlombaan pun, seperti perlombaan
kerapan sapi kresidenan atau yang lainnya, pesertanya dari berbagai daerah di
Madura, bersatu di lapangan, saling tegur sapa. Mulai yang tidak kenal menjadi
kenal, yang kenal menjadi akrab sampai adanya transaksi jual beli sapi kerapan.
Hubungan sosial seperti inilah yang dapat mempertahankan kebudayaan kerapan
sapi di Madura.
Nilai persaingan tercermin dalam
arena kerapan sapi. Persaingan menurut Koentjaraningrat
(2003: 187) adalah usaha-usaha yang bertujuan untuk melebihi usaha orang lain
dalam masyarakat. Dalam konteks ini para peserta permainan kerapan sapi
berusaha sedemikian rupa agar sapi aduannya dapat berlari cepat dan mengalahkan
sapi pacuan lawan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, masing-masing
berusaha agar sapinya dapat melakukan hal itu sebaik-baiknya. Jadi,
antarpeserta bersaing dalam hal ini.
Nilai ketertiban tercermin dalam
proses permainan kerapan sapi itu sendiri. Permainan apa saja, termasuk kerapan
sapi, ketertiban selalu diperlukan. Ketertiban ini tidak hanya ditunjukkan oleh
para peserta, tetapi juga penonton yang mematuhi peraturan-peraturan yang
dibuat. Dengan sabar para peserta menunggu giliran sapi-sapi pacuannya untuk
diperlagakan. Sementara, penonton juga mematuhi aturan-aturan yang berlaku.
Mereka tidak membuat keonaran atau perbuatan-perbuatan yang pada gilirannya
dapat mengganggu atau menggagalkan jalannya permainan. Dan, nilai sportivitas
tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat
berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang
dada.
Dan selain
nilai-nilai budaya, kerapan sapi juga mengandung beberapa makna yang berkaitan
dengan sosial, ekonomi, dan budaya.
Makna Sosial
Dalam
konteks ini mengacu pada pemikiran bahwa pemenangan kerapan sapi dapat
berpengaruh pada perilaku pengerap dalam membangun relasi sosial. Pengerap yang
menang dalam kerapan secara otomatis akan terkenal, ia memiliki kebanggaan,
prestis, yang memang dia kejar yaitu kehormatan dan gengsi.
Makna Ekonomi
Kerapan
sapi merupakan gambaran kehidupan ekonomi orang Madura. Siapa pengerap itu,
dari kalangan apa, dan bagaimana kerapan terselenggara. Adanya perlombaan
kerapan sapi menjadi magnet terselenggaranya sebuah pasar serta bagi orang
Madura sapi memiliki banyak fungsi dan menguntungkan, menurut mereka sapi
merupakan tabungan sewaktu-waktu bisa digunakan untuk biaya sekolah anak,
memperbaiki rumah, bahkan membeli alat transportasi. Dan harga sapi kerap
bernilai tinggi atau mahal hingga puluhan juta rupiah.
Makna
Budaya
Terselenggaranya
kerapan sapi melibatkan banyak pihak baik dari warga pemilik kerapan, kalangan
dari pejabat formal maupun non-formal. Keterlibatan mereka dalam pelaksanaan
kerapan sapi memberikan makna bahwa kerapan sapi merupakan karya budaya milik
rakyat Madura. Perlombaan kerapan sapi sangat populer dan digandrungi oleh
sebagian besar orang Madura, sehingga memiliki makna sebagai proses dalam
memeperoleh status sosial, dan jalinan pertemanan maupun persahabatan
(Rozaki,2004: 73-74).
2.3.3. Macam-Macam Kerapan
Sapi Madura
Kerapan Sapi yang menjadi
ciri khas orang Madura ini sebenarnya terdiri dari beberapa macam, yaitu:
1. Kerap Keni (kerapan kecil)
Kerapan jenis ini pesertanya
hanya diikuti oleh orang-orang yang berasal dari satu kecamatan atau kewedanaan
saja. Dalam kategori ini jarak yang harus ditempuh hanya sepanjang 110 meter
dan diikuti oleh sapi-sapi kecil yang belum terlatih. Sedangkan penentu
kemenangannya, selain kecepatan, juga lurus atau tidaknya sapi ketika berlari.
Bagi sapi-sapi yang dapat memenangkan perlombaan, dapat mengikuti kerapan yang
lebih tinggi lagi yaitu kerap raja.
2. Kerap Raja (kerapan besar)
Perlombaan yang sering juga disebut
kerap negara ini umumnya diadakan di ibukota kabupaten pada hari Minggu.
Panjang lintasan balapnya sekitar 120 meter dan pesertanya adalah para juara
kerap keni.
3.
Kerap Onjangan (kerapan undangan)
Kerap onjangan adalah pacuan khusus yang para pesertanya
adalah undangan dari suatu kabupaten yang menyelenggarakannya. Kerapan ini
biasanya diadakan untuk memperingati hari-hari besar tertentu.
4.
Kerap Karesidenen (kerapan tingkat keresidenan)
Kerapan ini adalah kerapan besar yang diikuti oleh
juara-juara kerap dari empat kabupaten di Madura. Kerap karesidenan diadakan di
Kota Pamekasan pada hari Minggu, yang merupakan acara puncak untuk mengakhiri
musim kerapan
5. Kerap jar-jaran (kerapan latihan)
Kerapan jar-jaran adalah kerapan yang dilakukan hanya
untuk melatih sapi-sapi pacuan sebelum diturunkan pada perlombaan yang
sebenarnya.
2.4.
Teori dan Pendekatan
Penelitian
ini menggunakan teori fungsionalisme. Warisan budaya akan bertahan lama karena
terdapat fungsi yang dikandung oleh unsur-unsurnya. Secara kesatuan warisan
budaya itu mempunyai fungsi yang terkait, yaitu merupakan satu sistem dimana
berbagai unsur atau bagian didalamnya berfungsi antara yang satu dengan yang
lainnya.
Teori
lainnya yang digunakan dalam proses penelitian salah satunya teori deskriptif
historis atau partikularis yang membantu deskripsi tentang asal-usul atau
sejarah Kerapan Sapi.
Pendekatan yang dipakai
dalam penelitian ini ialah antropologi budaya. Antropologi Budaya adalah salah satu cabang
dari ilmu antropologi yang menekankan pada pola kehidupan manusia.
BAB 3. METODE PENELITIAN
Metode sejarah merupakan seperangkat asas dan aturan yang sistematik
yang didesain guna membantu secara efektif untuk mengumpulkan sumber-sumber
sejarah, menilainya secara kritis, dan menyajikan sintesis hasil-hasil yang
dicapainya, yang pada umumnya berbentuk tertulis (Gilbert J. Garragan, S.J. 1957:33).
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan makna yang terkandung dalam tradisi Karapan
Sapi Madura dan hubungannya dengan masyarakat Madura. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata dalam bentuk
tertulis maupun lisan. Seluruh data kemudian dianalisis secara induktif
sehingga menghasilkan data yang deskriptif. Untuk memperoleh data,
dilakukan atau dibutuhkan teknik pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan
data yang digunakan , diklasifikasikan dalam prosedur sejarah menjadi empat kegiatan,
yakni: 1) Heuristik, 2) Kritik, 3) Interpretasi, 4) Historiografi.
1) Heuristik
Heuristik
berasal dari kata “heuriskein” dalam
bahasa Yunani yang berarti mencari atau menemukan. Teknik
pengumpulan data yang
digunakan dalam
objek penelitian pada bagian heuristik ini berupa sumber tertulis
yaitu
dokumentasi.
Tahap
dokumentasi dilakukan untuk dapat memperkuat data. Dokumen-dokumen
yang berisi data-data yang dibutuhkan meliputi buku-buku yang relevan, dan artikel atau sumber yang
di dapat dari Perpustakaan Universitas Jember maupun dari internet, beserta foto-foto atau
gambar tentang hal
yang berkenaan dengan Kerapan Sapi Madura.
2) Kritik
Setelah
mengumpulkan sumber-sumber sejarah, maka langkah selanjutnya yang harus
dilaksanakan peneliti ialah mengadakan kritik sumber. Kritik sumber perlu
dilakukan sebab sifat-sifat sumber data-data sejarah berbeda dengan sumber data
ilmu sosial lainnya (Daliman, 2012:65).
Langkah-langkah
yang dilakukan dalam tahap ini dengan memperoleh data baik yang di dapat dari perpustakaan
atau internet yang dianggap relevan dan sudah terjamin keabsahannya
3) Interpretasi
Langkah yang kedua adalah identifikasi dari
sejumlah data yang ada diambil data yang sesuai dengan topik penelitian. Proses
berikutnya ialah klasifikasi yaitu pengelompokkan data.
Data dari hasil pengumpulan yang telah dilakukan tadi, kemudian diperoleh jawaban umum, yaitu diperoleh
jawaban responden yang menguasai dan ada responden yang tidak atau kurang
menguasai topik penelitian. Responden yang bisa memberikan jawaban yang sesuai
dengan topik penelitian dikelompokkan sendiri, sedangkan responden yang
jawabannya kurang sesuai dengan topik penelitian dikelompokkan sendiri.
Teknik analisis
data dalam Penelitian ini menggunakan analisis data yang bersifat kualitatif.
Analisis ini mendeskripsikan mengenai makna yang
terkandung dalam tradisi Kerapan Sapi Madura. Teknik
analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis induktif. Kemudian selanjutnya interpretasi, hasil dari data diinterpretasikan tentang makna-makna mengenai tradisi kerapan. Langkah yang berikutnya
berupa inferensi atau membuat kesimpulan hasil akhir dari interpretasi yang
sudah dilakukan.
4) Historiografi
Langkah
terakhir ialah historiografi atau penulisan sejarah. Penyajian yang dilakukan peneliti didalam laporan penelitian pada tahap historiografi ada tiga bagian: 1) Bab 1 Pendahuluan yang berisi
tentang latar belakang, penegasan judul, ruang lingkup, rumusan masalah, tujuan
dan manfaat penelitian; 2) Bab 2 Tinjauan Pustaka yang mengulas mengenai teori dan sekilas tentang tradisi kebudayaan Kerapan Sapi Madura; 3) Bab 3 Metode penelitian, dalam hal ini berisikan tentang metode
penulisan sejarah yang terdiri dari empat langkah, yakni : heuristik, kritik
sumber, interpretasi dan historiografi.
DAFTAR PUSTAKA
Sumintarsih, dkk. 2013. Kearifan Lokal. Yogyakarta : Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNP).
http://id.wikipedia.org/wiki/Karapan_sapi. [di akses pada tanggal
9 Mei 2014]
http://kerapan sapi
madura/karapan-sapi-tradisi-madura-asli.html. [di akses
pada tanggal 9 Mei 2014]
http://id.wikipedia.org/wiki/kerapan sapi madura/Pulau
Madura - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.html. [di akses pada tanggal 10 Mei 2014]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar