Senin, 16 Januari 2017

LAPORAN : Kepariwisataan Sejarah dan Budaya "MONJALI"





MONUMEN JOGYA KEMBALI (MONJALI) SEBAGAI OBYEK PARIWISATA EDUKASI DI KOTA YOGYAKARTA



BAB 1. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Museum merupakan tempat yang menyimpan dan menyajikan berbagai bukti sejarah manusia di masa lampau.Berbagai bukti sejarah dimasa lalu menjadi sumber belajar nyata bagi pengunjung.Sehingga museum menjadi salah satu tempat yang tepat untuk dijadikan sebagai sumber belajar.Melalui benda yang dipamerkannya, pengunjung dapat belajar tentang nilai dan perhatian serta kehidupan generasi pendahulu sebagai bekal di masa kini dan gambaran untuk kehidupan di masa mendatang.Selain itu, melalui pemanfaatan museum sebagai sumber belajar, sebagai bagian dari pembelajaran dengan pendekatan warisan budaya, diharapkan siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang pintar dengan tidak melupakan akar budaya bangsanya.
Tujuan museum didirikan adalah untuk melestarikan budaya, mengenang jasa para pahlawan kepada generasi penerus bangsa agar mereka dapat terus menjaga nilai-nilai bangsa tercinta.Museum sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan rekreasi, jangan sampai museum hanya dipandang sebagai gudang tempat penyimpanan barang tua dengan suasana yang menyeramkan.
Museum sebagai sumber belajar tentunya memiliki organisasi di dalamnya yang mengatur semua hal agar museum benar-benar menjadi tempat belajar sekaligus tempat rekreasi yang efektif dan menyenangkan.Sebagai orang pendidikan sangat penting bagi kita mengetahui bagaimana organisasi sumber belajar yang ada di museum.
Salah satu musium yang ada di Kota Yogyakarta adalah Musium Yogya Kembali (MONJALI) yang didirikkan tanggal 29 Juni 1985, yang mana isinnya menggambarkan sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, dalam musium tersedia diorama-diorama yang menyimpan barang-barang dan menyimpan kenangan kejadian masa keerdekaan yang menarik sekali dijadikan obyek pariwisata dalam bidang pendidikan, musium ini berbentuk kerucut dengan dikelilingi kolam serta taman pelangi.
Dari uraian diatas, dalam laporan ini akan kami paparkan lebih dalam mengenai hasil observasi kami di musium monumen yogya kembali yang nantinya akan kami sajikan dalam judul “Monumen Yogya Kembali (MONJALI) sebagai obyek pariwisata edukasi di kota Yogyakarta”.

1.2    Rumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang di atas dapat kita tarik rumusan masalah sebagai berikut:
1) Bagaimana hakekat dari sebuah museum?
2) Bagaimana Sejarah dari dibangunnya Monumen Yogya Kembali (Monjali)?
3) Apa saja koleksi yang disediakan di dalam museum monumen yogya kembali ?
4) Bagaimana bentuk manajemen pengelolaan monjali sebagai obyek pariwisata?
5) Bagaiman bentuk kelebihan museum monjali sebagai sumber belajar?
6) Bagaimana bentuk keterbatasan yang mengahambat perkembangan monjali?
7) Bagaimana bentuk faktor penarik monumen jogja kembali sebagai daerah tujuan wisata?
8)  Apa saja dampak dibidang Sosial-Budaya, Sosial-Ekonomi dari keberadaan Monumen Yogja Kembali?

1.3    Tujuan Penelitian
Dari pemaparan rumusan masalah di atas, dapat kita simpulkan tujuan dari penulisan makalah ini ialah sebagai berikut:
1)   Untuk Menganalisis hakekat museum;
2)   Untuk memahami sejarah kaitannya dengan tujuan dari dibangunnya Monumen Yogya Kembali (Monjali);
3)   Untuk mengetahui koleksi apa saja yang tersedia di dalam museum monumen yogya kembali;
4)   Untuk mengetahui pemanajemenan dari pengelolaan monjali sebagai obyek pariwisata;
5)   Mengetahui kelebihan monjali sebagai sumber belajar;
6)   Mengetahui keterbatasan monjali sebagai sumber belajar;
7)   Mengetahui faktor yang menjadi daya tarik dari monumen jogja kembali sebagai daerah tujuan wisata;
8)   Mengetahui dampak dibidang Sosial-Budaya, Sosial-Ekonomi dari keberadaan Monumen Yogja Kembali;


BAB 2. KAJIAN TEORI


2.1 Hakekat Museum
 Museum dikenal dengan sebuah gedung atau bangunan yang menyimpan koleksi benda-benda warisan budaya yang bernilai luhur yang dianggap patut disimpan.Dalam sejarah perkembangan museum mengalami perubahan-perubahan yang berdasarkan pada fungsi pada awalnya.Kemudian berkembang dan bertambah dengan fungsi pemeliharaaan, pengawetan, penyajian atau pameran, dan akhirnya fungsi ini semakin bertambah.
 Dengan perkembangan museum muncul berbagai teori tentang pengertian museum. Beberapa pengertian museum :
1.    Museum adalah Sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan pendidikan, penelitian dan kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya. (International Council of Museum).
2.    Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.(Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1995 Pasal 1 ayat (1)).
3.    Museum adalah tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, merawat melestarikan, mengkaji, mengkomunikasikan bukti material hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya. (Amir Sutaarga,1995:1)

Dari beberapa pengertian tentang museum diatas dapat disimpulkan bahwa museum adalah suatu lembaga yang berupa bangunan atau tempat yang berfungsi sebagai tempat mengumpulkan, menyimpan, merawat melestarikan, mengkaji, mengkomunikasikan bukti material hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya, yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari (edukasi,rekreasi,dan konservasi).

2.1.1 Klasifikasi Museum
Tiap museum memiliki koleksi yang berbeda-beda baik asal koleksi, jenis, kedudukan dan penyelenggara sehingga museum dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Menurut asal koleksi :
a)      Museum Umum
Museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi.
b)      Museum Khusus
Museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia atau lingkungannya yang berkaitan dengan satu cabang seni, cabang ilmu atau satu cabang teknologi.
2) Menurut kedudukannya :
a)    Museum Tingkat Nasional
b)   Museum Tingkat Regional
c)    Museum Tingkat Lokal
3) Menurut Penyelenggara :
a) Museum Pemerintah ( Diselenggarakan dan dikelola oleh pemerintah).
b)   Museum Swasta (Diselenggarakan dan dikelola oleh swasta).

Museum biasanya mengadakan kegiatan yang diperuntukkan untuk pengunjung, yang berupa :Pameran pendidikan,  Kegiatan Pendidikan (Ceramah, Diskusi, Kursus, Perpustakaan, Pemutaran Slide, film documenter, film ilmiah, dan Penerbitan katalog yang berhubungan dengan program yang dilaksanakan oleh museum) , Kegiatan Konservasi dan Pengolaan Koleksi, danKegiatan Pelayanan Teknis.

2.2 Sejarah Musium Monumen Yogya Kembali (Monjali)
Indonesia yang memiliki banyak keindahan alam, keunikan budaya serta tempat bersejarah masa lalu.Berbagai tempat yang ada di wilayah Indonesia bernilai positif bagi pariwisata Indonesia.Beberapa daerah yang ada di wilayahnya pun berpotensi tinggi dibidang pariwisata. Yogyakarta menempati  posisi kedua setelah Bali, dimana Yogakarta menyimpan banyak kisah sejarah yang terlukis yang memberikanya  manfaat tentang berbagai macam budaya dan tempat bersejarah yang menjadi tujuan wisata. Yogyakarta selain dikenal sebagai kota pelajar, kota pendidikan, Yogyakarta sangat dikenal sebagai kota pariwisata. Hal ini juga didukung letak geografis kota Yogyakarta. Bahkan untuk menjangkau tempat pariwisata sangat mudah aksesnya.Adapun yang dapat dijadikan tujuan wisata di Yogyakarta salah satunya adalah Monjali.

2.2.1 Sejarah pembangunan Monumen Yogya Kembali
Monumen Yogya Kembali atau dikenal oleh masyarakat setempat dengan istilah Monjali dibangun pada tanggal 29 Juni 1985 yang ditandai dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Gagasan untuk mendirikan monumen ini dilontarkan oleh Kolonel Sugiarto, selaku Walikotamadya Yogyakarta dalam Peringatan Yogya Kembali yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1983.
Dipilihnya nama Yogya Kembali dengan maksud sebagai tetenger atau penanda peristiwa sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949. Hal ini sebagai tanda awal bebasnya Bangsa Indonesia secara nyata dari kekuasaan pemerintahan Belanda.
Pembangunan monumen dengan bentuk kerucut dan terdiri dari tiga lantai ini selesai dibangun dalam waktu empat tahun dan diresmikan pembukaannya tanggal 6 Juli 1989 oleh Presiden RI pada waktu itu, Soeharto.Monumen setinggi kurang lebih 31.8 m ini terletak di Dusun Jongkang, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman.Bentuk kerucutnya melambangkan bentuk gunung yang menjadi perlambang kesuburan selain memiliki makna melestarikan budaya nenek moyang pra-sejarah. Pemilihan lokasi Monumen Yogya Kembali juga memiliki alasan berlatarkan budaya Yogya, yaitu monumen terletak pada sumbu atau poros imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan pantai Parang Tritis. Sumbu imajiner ini sering disebut dengan Poros Makrokosmos atau Sumbu Besar Kehidupan.Titik imajinernya sendiri bisa anda lihat pada lantai 3 ditempat berdirinya tiang bendera.

2.2.2 Isi Monumen Yogya Kembali
Monumen Jogjakarta Kembali terdiri dari taman depan dimana pengunjung bisa melihat Meriam PSU Kaliber 60mm buatan Rusia, sedangkan dihalaman paling depan anda bisa jumpai Replika Pesawat Guntai dan Pesawat Cureng yang dipakai dalam peristiwa perjuangan ini.
Memasuki halaman museum terdapat dinding yang memenuhi satu sisi selatan monumen yang berisi Rana Daftar Nama Pahlawan dimana pengunjung bisa melihat 422 nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949 dan puisi Karawang-Bekasi karangan Khairil Anwar.
Bangunan monumen yang terdiri dari tiga lantai terbagi dalam beberapa bagian.Seluruh bangunan dikelilingi oleh kolam air. Di lantai satu adalah museum dimana terdapat empat ruang museum yang menyajikan benda-benda koleksi berupa: realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk evokatif dapur umum yang kesemuanya menggambarkan suasana perang kemerdekaan 1945-1949. Pengunjung bisa melihat tandu yang digunakan untuk menggotong Panglima Besar Jenderal Soedirman selama perang gerilya, seragam tentara dan dokar yang juga pernah digunakan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Konon total koleksi barang-barang dalam museum tersebut mencapai ribuan.
Perpustakaan menggunakan satu ruang di lantai satu yang merupakan perpustakaan khusus yang menyediakan bahan-bahan referensi sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dapat dimanfaatkan oleh umum.
Ruang Serbaguna adalah ruangan yang terletak ditengah-tengah ruangan lantai satu lengkap dengan panggung terbuka-nya.Setiap hari Sabtu dan Minggu diruangan ini digelar berbagai atraksi diantaranya tarian klasik, gamelan, musik electone yang memainkan lagu-lagu perjuangan.Ruangan Serbaguna ini bisa digunakan oleh umum untuk acara-acara pernikahan, seminar, wisuda dan lain-lain.
Di lantai 2 bagian dinding paling luar yang melindungi tubuh monumen, pengunjung bisa melihat 40 buah Relief Perjuangan Phisik dan Diplomasi perjuangan Bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. Pengunjung bisa melihat antara lain relief Jenderal Mayor Meyer yang mengancam Sri Sultan HB IX pada tanggal 3 Maret 1949, Presiden dan para pemimpin lain kembali ke Yogyakarta, pernyataan dari Sri Sultan HB IX yang menyatakan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta adalah bagian dari Negara Republik Indonesia, Perayaan Kemerdekaan di halaman Kraton Ngayogyakarta dan lain-lain.
Di dalam bangunan lantai dua terdapat sepuluh diorama perjuangan Phisik dan Diplomasi Bangsa Indonesia sejak 19 Desember 1948 hingga 17 Agustus 1949 dengan ukuran life-size melingkari bangunan monumen. Diorama diawali dengan Agresi Militer Belanda memasuki kota Yogyakarta dalam rangka menguasai kembali Replublik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948 dimana pengunjung bisa menyaksikan miniatur pesawat-pesawat Belanda yang dibuat mirip dengan asli-nya. Apabila anda datang didampingi pemandu maka pemandu akan dengan senang hati menjelaskan kepada anda peristiwa sesungguhnya yang terjadi dimana pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Van Langen berhasil menguasai Lapangan Udara Maguwo (kini Adisucipto) pada pukul 08.00 dan mengadakan sapu bersih terhadap apa yang dijumpai sepanjang jalan menuju Kota Yogyakarta (Jalan Solo). Kurang lebih pukul 16.00 pasukan Belanda sudah menguasai seluruh kota Yogyakarta dan beberapa tempat-tempat penting lain seperti Istana Presiden (Gedung Agung) dan Benteng Vredeburg. Sejak itu perjuangan merebut kembali Negara RI dimulai.
Kesepuluh diorama disajikan dalam kronologis waktu sehingga memudahkan pengunjung untuk memahami urutan kejadian yang sebenarnya. Disini pengunjung dapat memahami peran perjuangan Jenderal Soedirman yang waktu itu dengan kondisi kesehatan sangat lemah dan paru-paru sebelah tetap memaksakan diri ikut berjuang dengan cara gerilya walaupun Presiden Soekarno sudah memintanya untuk tinggal bersamanya saja. Diorama ini disajikan diawal-awal.
Ditengah-tengah diorama disisipkan juga adegan yang terkenal dengan sebutan Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dipimpin oleh Letkol Soeharto yang memiliki tujuan politik, psikologis dan militer dimana bangsa Indonesia ingin mengabarkan pada dunia mengenai eksistensi-nya. Berita keberhasilan SU 1 Maret 1949 tersebut berhasil disebarluaskan melalui jaringan radio AURI dengan sandi PC-2 di Banaran, Playen, Gunung Kidul secara beranting hingga sampai ke Burma, India dan sampai kepada perwakilan RI di PBB.
Menjelang diorama terakhir kita bisa melihat akhir dari perjuangan panjang dan melelahkan bangsa dimana akhirnya tentara Belanda ditarik dari Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan Sri Sultan HB IX bertindak selaku koordinator keamanan yang mengawasi jalannya penarikan pasukan tersebut dan diakhiri dengan adanya Persetujuan Roem-Royen pada tanggal 7 Mei 1949.
Pada lantai tiga dari gedung monumen yang dinamakan Garbha Graha atau Ruang Hening.Dalam ruangan ini terdapat tiang bendera dengan bendera merah putih terpasang ditengah ruangan.  Terdapat relief di dinding berupa gambar tangan yang dapat diartikan sebagai perjuangan phisik dan perjuangan diplomasi yang digambarkan dengan tangan memegang pena. Pemandu akan meminta pengunjung untuk menundukkan kepala dan berdoa sejenak bagi arwah para pahlawan yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan dapat diterima di sisi Tuhan sesuai dengan amal baktinya.

2.3Kajian tentang Organisasi Sumber Belajar
Organisasi sumber belajar merupakan sub unit kerja yang berada di bawah Depertemen Pendidikan yang bertugas membantu terselenggaranya kegiatan pembelajaran yang menyediakan pelayanan media pembelajaran yang diharapkan bisa meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar. Terdapat beberapa jenis OSB (Organisasi Sumber Belajar), antara lain:
1)      Perpustakaan
2)      Laboratorium
3)      Pusat Kegiatan Belajar
4)      Pusat Sumber Belajar

Berbagai jenis OSB tersebut dalam pelaksanaannya, bentuk dan pola pengelolaan suatu organisasi sumber belajar itu dapat dipengaruhi oleh lingkungan yang ada. Menurut Schmid dalam Manajemen Sumber Belajar, sedikitnya ada lima faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pola organisasi sumber belajar, yaitu: masalah manajemen, faktor politik, penyediaan fasilitas, keterbatassan dana, dan perhatian terhadap dan dari pemakai/klien.
Organisasi Pusat Sumber Belajar merupakan suatu wadah yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi belajar sebanyak-banyaknya dan akurat serta sebagai sarana peunjang keberhasilan akan tercapainya suatu tujuan pembelajaran dengan lebih maksimal. Fungsi organisasi pusat sumber belajar secara operasional bila dikaitkan dengan kegiatan yang dilaksanakan, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a)   Fungsi Pengembangan Sistem Intruksional
Fungsi ini menolong jurusan atau departemen dan staf tenaga pengajar secara individual di dalam membuat rancangan (desain) dan pemilihan options (pilihan) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar dan mengajar.
b)   Fungsi Pelayanan Media
Fungsi ini berhubungan dengan pembuatan rencana program media dan pelayanan pendukung yang dibutuhkan oleh staf pengajar dan pelajar.
c)    Fungsi Administratif
Fungsi ini berhubungan dengan cara-cara bagaimana tujuan dan prioritas program dapat tercapai. Fungsi ini berhubungan dengan semua segi program yang dilaksanakan dan akan melibatkan semua staf dan pemakai dengan cara-cara yang sesuai
d)   Fungsi Produksi
Fungsi ini berhubungan dengan penyediaan materi dan bahan pelajaran yang tidak dapat diperoleh melalui sumber komersial
e)    Fungsi Evaluasi
Fungsi ini berkaitan dengan fungsi pelayanan evaluasi untuk membantu menentukan efektivitas berbagai metode pembelajaran.

Sedangkan dalam pelayanan pusat sumber belajar stidaknya berisikan pelayanan-pelayanan sebagai berikut:
1)      Bilik Media
2)      SALC (Self Acess Learning Center)
3)      Perpustakaan
4)      Pusat Sumber Multimedia

2.4  Manajemen Monjali obyek pariwisata sebagai sumber belajar
Berdasarkan pada kajian teroi pada BAB II, tentang Manajemen Organisasi Sumber Belajar menurut Mudhoffir dan Ali Muhtadi, menyebutkan bahwa Monjali termasuk pada pola organisasi sumber belajar yang terpusat. Selain itu juga Monjali merupakan salah satu pusat sumber belajar di yogyakarta. Monjali sebaagi sumber belajar perlu diorganisasikan dengan baik agar memudahkan pengunjung mendapatkan ilmu pengetahuan dan informasi tentang sejarah perjuangan kota Yogyakarta. Berikut adalah aspek – aspek yang mendukung Monjali sebagai sumber belajar, yang mana aspek tersebut di organisasikan untuk membuat manajemen sumber belajar Monjali:

2.4.1 Fasilitas di Monjali sebagai Sumber Belajar
 Sesuai dengan pendapat Ali Muhtadi yang menyebutkan bahwa Fasilitas fisik dalam organisasi sumber belajar berfungsi untuk menunjang dan menggalakkan kegiatan program organisasi sumber belajar agar semua kegiatan tersebut dapat berjalan dengan efisisen.Dengan fasilitas yang baik, sumber belajar seolah memiliki kekuatan, semua peralatan berdayaguna, produksi media meningkat dan pengunjung merasa tertarik dan makin sering datang (Ali Muhtadi. 2005: 59).Begitu pula fasilitas yang tersedia di Monjali merupakan fasilitas untuk menunjang program belajar sebagai sumber belajar dan pengembangan pembelajaran.Fasilitas di Monjali juga menjadi salah satu bentuk kegiatan program penunjang dan promosi sebagai sumber belajar. Fasilitas yang tersedia di monjali terbagi menjadi dua, yaitu fasilitas fisik dan non fisik. Fasilitas fisik yang tersedia di monjali adalah sebagai berikut :Museum, Perpustakaan, Relief, Ruang Diorama, Ruang Garba Graha, dan Ruang serbaguna
Sedangkan fasilitas non fisik yang tersedia di monjali berupa asuransi / jasa raharja putra untuk pengunjung dan karyawan (JAMSOSTEK).Adanya jaminan kesehatan ini untuk mengantisipasi adanya kecelakaan atau sakit secara tiba – tiba yang diderita pengunjung.Fasilitas tersebut diperoleh dari akumulasi tiket masuk monjali.
Monjali melakukan kegiatan produksi media berupa produksi poster, pamflet, leaflet, brosur dan buku panduan dengan desain menarik dan menggunakan dua bahasa.Kegiatan ini dilakukan untuk menarik minat pengunjung untuk mengunjungi Monjali dan memberikan informasi keluar bagi masyarakat tentang Monjali.Sehingga bisa menjadi referensi tempat untuk belajar dan berekreasi.
2.4.2 Manajemen Sistem informasi di Monjali
Sistem informasi merupakan aspek penting dalam Manajemen Monjali sebagai sumber belajar. Sebagai pusat sumber belajar, pengelolaan informasi di Monjali menjadi garapan utama untuk meningkatkan kualitas fasilitas maupun program pendukungnya..Melalui konsep penyebarluasan informasi yang dilakukan oleh pusat sumber belajar tersebut, diharapkan kebebasan menerima informasi bagi masyarakat luas bisa terlaksana tanpa membeda-bedakan status dan kedudukan yang bersangkutan. Dengan banyaknya informasi yang diterima oleh masyarakat maka masalah pemerataan di segala bidang pengetahuan masyarakat akan terlaksana, yang pada akhirnya nanti akan terbentuk masyarakat informasi yang informatifse sehingga bersifat responsive terhadap gejala-gejala yang bersifat inovatif. Begitu pula di Monjali, yang mana memiliki sistem informasi terbagi menajdi dua maca, yaitu sistem informasi di dalam  dan sistem informasi keluar.
Sistem informasi di dalam merupakan layanan di dalam yang dilakukan Monjali untuk memberikan informasi tentang Monjali secara keseluruhan kepada pengunjung di dalam Monjali.Sedangkan sistem informasi keluar merupakan layanan dan program keluar yang dilakukan Monjali untuk pemerataan informasi tentang sumber belaajr di Monjali dan sebagai ajang promosi monjali.
Sehingga layanan yang diberikan oleh monjali kepada pengunjung menjadi sistem informasi sebaagi salah satu aspek organisasi sumber belajar Monjali. Layanannya meliputi layanan di dalam yaitu diberikan kepada pengunjung  yang datang langsung ke monjali dan dilayani langsung oleh petugas yang khusus melayani pengunjung, yaitu pemandu. Misalnya saja ada rombongan dari suatu sekolah mengadakan kunjungan ke monjali, pemandu harus sudah siap memberikan pengarahan dan memandu mereka mulai dari awal sampai akhir.Pemandu ini biasanya menceritakan sejarah perjuangan bangsa Indonesia serta menjelaskan bagian per bagian dari tiap diorama, gambar, maupun relief yang disajikan.
Selain pelayanan di dalam monjali juga memberikan pelayanan di luar dengan tujuan mengenalkan monjali kepada pengunjung sekaligus mempromosikan monjali agar masyarakat tahu bahwa ada tempat yang cocok untuk rekreasi keluarga maupun untuk kepentingan pembelajaran yaitu di monjali tersebut.Hal ini juga dimaksudkan untuk menjaga eksistensi monjali di kalangan masyarakat agar tidak hilang dan ditinggalkan begitu saja seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.Namun pelayanan di luar ini masih sangat terbatas karena terbentur minimnya biaya yang dianggarkan. Biasanya pihak monjali hanya menyediakan leaflet sebagai media promosi cetak dan beberapa buku yang jumlahnya sangat terbatas. Monjali juga menyediakan jasa online dengan menggunakan web sebagai media promosi dan pelayanan di luar monjali.
Selain kepada pengunjung umum, monjali juga memberikan program atau layanan khusus bagi para calon lulusan SMA maupun para mahasiswa yang ingin belajar bagaimana cara menjadi bagian dari personalia monjali melalui Training Job. Training Job ini pelaksanaannya tergantung adanya permintaan/permohonan dari SMA/universitas yang mengajukan.Melalui Training Job ini mereka yang ingin berlatih menjadi pemandu maupun bagian personalia lainnya dibimbing dan diarahkan kepada bidang yang mereka minati. Misalnya saja mahasiswa dari jurusan bahasa asing datang ke monjali memohon untuk dibimbing menjadi pemandu disitu (karena di monjali sendiri tidak hanya wisatawan lokal namun juga ada beberapa turis bahkan kunjungan dari perwakilan pemerintah luar negeri tidak jarang datang ke monjali), mereka dengan senang hati akan memberikan pelayanan terbaik mereka.
Dalam manajemen sistem informasi di Monjali, selain layanan di dalam dan keluar serta program khusus, tersedia pula pelayanan referensi.Pengunjung dapat mencari bahan pustaka sesuai katalog yang disediaan.Namun di Monjali tidak tersedia pelayanan sirkulasi, ini terbukti dengan tidak diperbolehkannya pengunjung meminjam bahan pustaka.Pengunjung hanya boleh membaca di tempat perpustakaan.

2.4.3 Personalia dan staf
Personalia dan staff dalam organisasi sumber belajar berfungsi untuk menjalankan program dan layanan dalam organisasi sumber belajar.Selain itu juga menajdi personil yang melaksanakan semua tugas beradasarkan kompetensinya dalam mengorganisasikan sumber belajar.
Sesuai dengan pendapat Alex Nitisemito dalam Ali Muhtadi (2005) , Personalia dapat diartikan sebagai tenaga kerja seperti buruh, karyawan, dan pegawai. Secara umum masyarakat memaknai istilah buruh atau karyawan sebagai tenaga kerja dalam suatu perusahaan tertentu, sedangkan istilah pegawai lebih dimaknai sebagai tenaga kerja yang bekerja untuk pemerintah atau pegawai negeri (Alex Nitisemito:1982).
Fungsi dari prinsip-prinsip pengelolaan organisasi sumber belajar, baru dapat berjalan apabila didukung oleh tanaga yang kompeten, dinamis, dan cukup jumlahnya. Menurut Nitisemito (1982:14), sebuah organisasi sumber belajar harus dapat melaksanakan penempatan pegawai secara baik sesuai dengan ungkapan yang terkenal yaitu : “The right man in the right place” atau “Orang yang tepat pada tempat yang tepat”. Dalam UU Sisdiknas juga telah diatur ketentuan tenaga kependidikan (personalia) tentang tenaga pendidik dan tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan (Depdiknas, 2003).
Berdasarkan pada pengertian dan tugas  dari persoalia, di Monjali pun mempunyai personalia yang ditempatkan di bagian – bagiannya. Personalia yang mendukung kegiatan dan fungsi Monjali sebagai sumber belajar adalah sebagai berikut:
a)      Pimpinan, kepala dan wakil kepala
Dalam melakasanakan tugas pemimpin, kepala, dan wakil kepala menerapakan prinsip kepemimpinan anatara lain: koordinasi, integrasi, simplifikasi dan sinkronisasi secara vertical dan horizontal. Setiap pimpinan komponen di lingkungan Badan Pengelolaan bertanggung jawab memimpin, memberikan teladan, dan mengkoordinasikan tugas bawahannya dan memberikan bimbingan serta petunjuk pelaksanaan tugas bawahannya;

b)     Bagian Umum dan Bagian Operasional
Bagian umum mempunyai tugas dan kewajiban mengurus dan melaksanakan segala kegiatan dibidang umum: Tata usaha, keuangan, pemeliharaan dan rumah tangga, dan tugas-tugas lain yang diberikan oleh pemimpin. Sedangkan bagian operasional mempunyai tugas dan kewajiban mengurus serta melaksanakan kegiatan dibidang operasional yaitu: museum/perpustakaan, pemanduan (bimbingan), hubungan masyarakat dan pemasaran, keamanan serta tugas-tugas lain yang diberikan oleh pimpinan. Bagian umum dan bagian operasional masing-masing dipimpin oleh seorang kepala bagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada pimpinan;
c)      Tata usaha
Urusan tata usaha mempunyai tugas seperti: (a) menyelenggarakan surat-menyurat, agenda, ekspedisi dan kearsipan, (b) menyelenggarakan administrasi personil dan pembinaan personil, (c) mempersiapakan penyelenggaraan rapat-rapat dan penerimaan tamu, (d) melaksanakan pengadaan, pengaturan, penggunaan, penyaluran, pemeliharaan, penyimpanan dan pengamanan alat-alat tulis/kantor;
d)     Keuangan
Urusan keuangan mempunyai tugas: (a) menyusun anggaran pendapatan dan belanja badan pengelola, (b) mengurus belanja pegawai, (c) menyelenggarakan tata usaha keuangan meliputi; pembukuan penerimaan dan pengeluaran, dan menyusun surat pertanggungan jawab, (d) merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan;
e)      Pemeliharaan dan rumah tangga
Urusan pemeliharaan dan rumah tangga mempunyai tugas: (a) melaksanakan perencanaan dan pembinaan tentang cara-cara pemeliharaan dan perawatan Monumen Yogya Kembali, (b) melaksanakan pemeliharaan dan perawatan bangunan dalam dan luar serta bagian-bagian lainnya, (c) menyusun kebutuhan dan menyelenggarakan administrasi peralatan dan perlengkapan, (d) menyelenggarakan urusan rumah tangga Badan Pengelolaan Monumen Yogya Kembali, (e) melaksanakan pemeliharaan kebersihan dan keindahan monumen, bangunan, keserasian lingkungan, tata lampu, dan tata suara yang menarik;
f)       Keamanan
Urusan keamanan mempunyai tugas: (a) menjaga keamanan dan ketertiban umum di lingkungan Monumen Yogya Kembali, (b) menjaga keamanan dan ketertiban serta pengawasan terhadap pengunjung Monumen, untuk mewujudkan “Sapta Pesona” ,(c) menjaga keamanan dan ketertiban serta pengawasan terhadap peralatan dan perlengkapan monument, antara lain dengan latihan “Pemadam Kebakaran”, (d) mengkoordinasikan segala sesuatu kegiatan keamanan dan ketertiban umum dengan aparat keamanan, pemerintah dan TNI/POLRI;
g)      Museum dan Perpustakaan
Urusan museum dan perpustakaan mempunyai tugas: (a) melakasanakan perencanaan dan pembinaan terhadap perkembangan museum, diorama, relief, garbha graha, dan daftar pahlawan, (b) melakasanakan penyelidikan, penelitian, pengamatan, dan penulisan benda-benda sejarah, pelaku sejarah, dan peristiwa sejarah, (c) melaksanakan kegiatan pengumpulan benda-benda sejarah perjuangan bangsa dan data peristiwa sejarah, (d) melaksanakan administrasi benda-benda koleksi monumen-monumen sejarah perjuangan di DIY dan data peristiwa sejarah yang meliputi upaya regristasi, inventarisasi, katalogisasi, klaperisasi, dan labelisasi, (e) melaksanakan upaya pemanfaatan benda-benda koleksi dan data peristiwa sejarah perjuangan bangsa yang meliputi tata pameran yang menarik dan bimbingan;
h)     Pemanduan, Humas, dan Pemasaran
Urusan pemanduan, humas, dan pemasaran mempunyai tugas: (a) melaksanakan perencanaan dan pembinaan tentang cara-cara kegiatan pemanduan/bimbingan dan penjelasan, (b) melaksanakan kegiatan pemanduan/bimbingan dan penjelasan terhadap kelompok-kelompok pengunjung, seperti siswa TK/SD, siswa SLTP, siswa SLTA, mahasiswa, umum, dan pengunjung mancanegara, (c) melaksanakan kegiatan penelitian, pencermatan, dan memberikan jawaban terhadap kesan-kesan dan saran-saran pengunjung, (d) menghimpun, mengolah, menyusun dan menyajikan bahan-bahan informasi yang obyektif, (e) merencanakan, menyiapkan, dan melaksanakan kegiatan dokumentasi foto, dokumentasi film/video, dan lain-lain milik badan pengelola, (f) melaksanakan perencanaan dan pembianaan terhadap obyek wisata perjuangan dengan promosi berkoordinasi dengan sesame instasi terkait melalui aneka jalur untuk meningkatkan pengunjung.

Urusan-urusan sebagaimana tersebut diatas masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Urusan yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Bagian.


BAB 3. PEMBAHASAN LAPORAN

                                                                                                                        
3.1  Hasil Observasi di Museum Monumen Yogya Kembali
Monumen Jogja Kembali terletak di Jalan Lingkar Utara (RIng Road Utara), di Kelurahan Jongkang, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.Dengan posisi yang strategis ini, Monjali bisa diakses dari manapun baik dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi.
Monjali atau Monumen Yogya Kembali merupakan ikon tempat wisata di Yogyakarta selain Keraton Yogyakarta.Monumen ini menawarkan nuansa edukasi dan heroik. Dikatakan heroik karena di sana bisa ditemukan benda bersejarah seperti dokar dan tandu Jendral Soedirman, jas Sultan Hamengku Buwono IX,hingga diorama dapur umum para pejuang.Sisi edukasinya sangat cocok untuk mengenalkan langsung para pelajar dalam mengenang jasa dan pengorbanan pahlawan terdahulu.
Monjali mulai dibangun pada 29 Juni 1985.monumen yang sengaja dibangun untuk memperingati perebutan kembali Kota Yogyakarta setelah Belanda kembali menjajah Indonesia pasca 1945. Perebutan kembali Yogyakarta ke pangkuan ibu pertiwi ini menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar berdaulat dan tidak mau dijajah.Oleh karenanya dinamakan Monumen Jogja Kembali sebagai bentuk perebutan Yogyakarta kembali.Bangunan Monjali merupakan bangunan yang terlihat unik.
Nah, setelah kita melakukan penelitian ataupun observasi di monjali ini, kita menemukan beberapa hal yang menarik di Monjali.Sehingga hal tersebut yang menjadikan monjali cocok untuk wisata edukasi dan rekreasi. Setelah kita memasuki komplek bangunan monumen ini, maka kita akan menikmati taman depan serta menyaksikan aneka replika dan bentuk lampion warna-warni yang mempunyai satu keasyikan tersendiri. Kita juga akan disuguhkan beberapa alat perang sisa perjuangan yang dipajang di halaman Monumen Jogja Kembali, seperti pesawat tempur dan tank atau Meriam PSU Kaliber 60mm buatan Rusia, sedangkan dihalaman paling depan kita bisa jumpai Replika Pesawat Guntai dan Pesawat Cureng yang dipakai dalam peristiwa perjuangan ini.  Memasuki halaman museum terdapat dinding yang memenuhi satu sisi selatan monumen yang berisi Rana Daftar Nama Pahlawan dimana kita bisa melihat 422 nama pahlawan yang gugur selama perjuangan merebut kembali Kota Jogja dari tangan Belanda di daerah Wehrkreise III antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949 dan puisi 'Karawang-Bekasi' karangan Khairil Anwar. 
Monumen Jogja Kembali Bangunan monumen yang terdiri dari tiga lantai terbagi dalam beberapa bagian.Seluruh bangunan dikelilingi oleh kolam air dengan 4 buah jembatan di tiap sisi mata angin sehingga seolah-olah terdapat 4 kolam di sekeliling bangunan.Sisi barat dan timur digunakan sebagai pintu masuk dan keluar sedangkan sisi utara dan selatan digunakan untuk tangga naik ke atas karena bangunan Monumen.
Sesampai disana, kita juga akan diberi informasi sekilas mengenai sejarah berdirinya monjali dan di ajak untuk menyaksikan film dokumentaris hubungannya dengan perjuangan bangsa Indonesia. Disamping menyaksikan film dokumentaris, pemandu wisata dari monjali akan memberikan sedikit penjelasan apa-apa yang terjadi di film tersebut.
Di lantai satu Monjali merupakan museum dimana terdapat empat ruang museum yang menyajikan benda-benda koleksi berupa: realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk evokatif dapur umum yang kesemuanya menggambarkan suasana perang kemerdekaan 1945-1949. Kita bisa melihat tandu yang digunakan untuk menggotong Panglima Besar Jenderal Soedirman selama perang gerilya, seragam tentara dan dokar yang juga pernah digunakan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Konon total koleksi barang-barang dalam museum tersebut mencapai ribuan. Perpustakaan menggunakan satu ruang di lantai satu yang merupakan perpustakaan khusus yang menyediakan bahan-bahan referensi sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan dapat dimanfaatkan oleh umum.Ruang serbaguna adalah ruangan yang terletak ditengah-tengah ruangan lantai satu lengkap dengan panggung terbuka-nya.Setiap hari Sabtu dan Minggu diruangan ini digelar berbagai atraksi diantaranya tarian klasik, gamelan, musik electone yang memainkan lagu-lagu perjuangan.Ruangan Serbaguna ini bisa digunakan oleh umum untuk acara-acara pernikahan, seminar, wisuda dan lain-lain. 
Selesai mengunjungi lantai satu, kita kemudian melanjutkan ke lantai dua dimana di lantai 2 ini bagian dinding paling luar yang melindungi tubuh monumen, kita bisa melihat 40 buah Relief Perjuangan Phisik dan Diplomasi perjuangan Bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. Pengunjung bisa melihat antara lain relief Jenderal Mayor Meyer yang mengancam Sri Sultan HB IX pada tanggal 3 Maret 1949, Presiden dan para pemimpin lain kembali ke Yogyakarta, pernyataan dari Sri Sultan HB IX yang menyatakan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta adalah bagian dari Negara Republik Indonesia, Perayaan Kemerdekaan di halaman Kraton Ngayogyakarta dan lain-lain.
Monumen Jogja Kembali Didalam bangunan lantai dua terdapat sepuluh diorama perjuangan Phisik dan Diplomasi Bangsa Indonesia sejak 19 Desember 1948 hingga 17 Agustus 1949 dengan ukuran life-size melingkari bangunan monumen. Diorama diawali dengan Agresi Militer Belanda memasuki kota Yogyakarta dalam rangka menguasai kembali Replublik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948 dimana kita bisa menyaksikan miniatur pesawat-pesawat Belanda yang dibuat mirip dengan asli-nya. Disini pemandu menjelaskan kepada kita peristiwa sesungguhnya yang terjadi dimana pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Van Langen berhasil menguasai Lapangan Udara Maguwo (kini Adisucipto) pada pukul 08.00 dan mengadakan ‘sapu bersih’ terhadap apa yang dijumpai sepanjang jalan menuju Kota Yogyakarta (Jalan Solo). Kurang lebih pukul 16.00 pasukan Belanda sudah menguasai seluruh kota Yogyakarta dan beberapa tempat-tempat penting lain seperti Istana Presiden (Gedung Agung) dan Benteng Vredeburg. Sejak itu perjuangan merebut kembali Negara RI dimulai.
Kesepuluh diorama disajikan dalam kronologis waktu sehingga memudahkan kita untuk memahami urutan kejadian yang sebenarnya. Disini kita juga semakin memahami peran perjuangan Jenderal Soedirman yang waktu itu dengan kondisi kesehatan sangat lemah dan paru-paru sebelah tetap memaksakan diri ikut berjuang dengan cara gerilya walaupun Presiden Soekarno sudah memintanya untuk tinggal bersamanya saja. Diorama ini disajikan diawal-awal. Di tengah-tengah diorama disisipkan juga adegan yang terkenal dengan sebutan Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dipimpin oleh Letkol Soeharto yang memiliki tujuan politik, psikologis dan militer dimana bangsa Indonesia ingin mengambarkan pada dunia mengenai eksistensi-nya. Berita keberhasilan SU 1 Maret 1949 tersebut berhasil disebarluaskan melalui jaringan radio AURI dengan sandi PC-2 di Banaran, Playen, Gunung Kidul secara beranting hingga sampai ke Burma, India dan sampai kepada perwakilan RI di PBB. Menjelang diorama terakhir kita bisa melihat akhir dari perjuangan panjang dan melelahkan bangsa dimana akhirnya tentara Belanda ditarik dari Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan Sri Sultan HB IX bertindak selaku koordinator keamanan yang mengawasi jalannya penarikan pasukan tersebut dan diakhiri dengan adanya Persetujuan Roem-Royen pada tanggal 7 Mei 1949.
Diorama-diorama tersebut disusun rapi dan runtun berdasarkan fakta sejarah.Dari lantai dua terdapat tangga menuju lantai tiga.Lantai tiga merupakan ruang kosong yang digunakan sebagai ruang perenungan untuk mengingat jasa-jasa pahlawan yang telah berjuang untuk Indonesia.Seperti yang kita lihat bahwa terdapat titik imajiner atau sumbu imajiner yang sering disebut dengan Poros Makrokosmos atau Sumbu Besar Kehidupan ditempat berdirinya tiang bendera. Nah lantai tiga ini merupakan lantai paling atas dan lantai terakhir yang kami kaji dimana setelah sampai pada lantai ini pemandu meminta kita atau semua pengunjung untuk mendoakan para pahlawa baik yang dikenal atau yang tidak dikenali, kemudian berlanjut dengan menyanyikan lagu padaMu Negeri serta gugur bungan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan, karena itulah ruangann lantai tiga juga dikenal sebagai ruangan hening. Di ruangan ini terdapat tiang bendera yang berdiri tegak dan relief tangan di dinding langit ruangan.
Monumen Jogja Kembali sangat tepat menjadi sarana kita untuk memahami sejarah tanpa harus merasa digurui karena peran pemandu dalam menyampaikan setiap cerita dalam diorama sangat menarik dan tidak menjenuhkan. Disini kita akan disegarkan kembali ingatannya akan sejarah perjuangan bangsa dan mengetahui siapa saja tokoh-tokoh dibalik perjuangan itu. Adapun fasilitas Monumen Yogya Kembali dapat di jelaskan lebih rinci pada bagian berikut ini:

2.1.1 Fasilitas Monumen Yogya Kembali
1) Taman dan Sekitarnya
       Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa bila pengunjung masuk Monumen Yogya Kembali melalui pintu Timur dapat diamati koleksi antara lain:
a)    Replika Pesawat Cureng , Pesawat ini sumbangan dari KSAU Marsekal Madya Rilo Pambudi, tanggal 29 juni 1994.
b)   Meriam PSU - S60 kaliber 57 mm dan Meriam PSU Bofors L - 60 kaliber 40 mm. Meriam ini sumbangan dari Kasad, diambil dari Gudbalkir, Guspusgat dan optic Sidoarjo, Jawa Timur tanggal 28 April 1996.
c)    Replika Pesawat Guntai. Pesawat ini sumbangan dari KSAU Marsekal pertama Sutria Tubagus pada tanggal 29 juli 1996.
d)   Meriam PSU - S60 kal. 57 mm dan PSU Bofors L-60 kal. 40 mm.
e)    Daftar nama – nama 420 Pahlawan yang gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949 serta puisi Karawang Bekasi-nya Chairil Anwar untuk pahlawan yang tidak diketahui namanya.

2) Koleksi Hall Lantai Satu
            Lantai pertama terdiri dari:
a)      Ruang Pengelola atau Ruang Bagian Umum
b)      Ruang Perpustakaan
c)      Ruang Serbaguna
d)     Ruang Bagian Operasional
e)      Ruang Souvenir

Hall lantai 1 ini dipamerkan koleksi antara lain :
a)        Patung Dada Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Letnan Jenderal Oerip Soemoharjo.
b)        Panil foto pelaksanaan Pembangunan Monumen Jogja Kembali.
c)        Patung foto Imam Bonjol ( 1722 - 1864 ).
d)       Meriam Jugo M - 48.
e)        Meriam PSU akan Bofors.
f)         Patung Teungku Umar ( 1854 - 1899 ).
g)        Patung Tjut Nya dien ( 1850 - 1908 ).
h)        Dinding Ruang Serbaguna.
i)          Dokar Tentara Pelajar
j)          Patung Nyi Ageng Serang
k)        Meriam PSU Ourlikon Kal. 20 mm
l)          Meriam Jugo M-48 kal.76 mm
m)      Panil Dinding foto kegiatan Tentara Pelajar

3) Koleksi Museum
Ruang museum yang merupakan ruang pamer tetap dengan tema “Seputar Pelaksanaan Serangan Umum 1 Maret 1949”.
a)      Evokatif Dapur Umum
b)      Evokatif Palang Merah Indonesia
c)      Peta Timbul Route Konsolidasi Kompenggunan WK III
d)     Peta Timbul Pembagian Wilayah Wehrkreis III
e)      Alat Cetak Proef
f)       Unit Caraka
g)      Seperangkat Meja Kursi Tamu
h)      Peta Timbul Serangan Umum 1 Maret 1949
i)        Potret Diri Para Kompenggunan Sub Wehrkreis III
j)        Seperangkat Meja Kursi
k)      Vitrin Sudut
l)        Dinding Ruang Museum Sebelah Utara
m)    Meja Kerja Sri Sulta Hamengkubuwono IX
n)      Meja Kerja Sri Paduka Paku Alam VIII
o)      Bagan Susunan Pemerintahan

Ruang museum yang merupakan ruang pamer tetap dengan tema “Yogya Sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia”
a)      Patung Dada Ir. Soekarno
b)      Patung Dada drs. Moh. Hatta
c)      Teks Proklamasi
d)     Foto Dokumen kegiatan Presiden dan Wakil Presiden di Yogyakarta
e)      Tempat tidur Presiden Soekarno
f)       Foto Dokumen kegiatan Presiden Bersama Keluarga dan Wakil Presiden di Yogyakarta
g)      Patung Dada Ki Hadjar DewantaraPatung Dada Kyai Haji Mas Mansyur
h)      Peta Timbul Wilayah RIS
i)        Meja Dan Kursi Tamu Wakil Presiden Moh. Hatta
j)        Potret Diri Tokoh Pimpinan Republic Indonesia
k)      Kursi Kerja Komite Nasional Indonesia Daerah
l)        Foto Dokumen Kegiatan KNID Dan KNIP

4)Koleksi Relief
Di lantai II pada lapik luar pagar langkan yang mengelilingi tubuh Monumen dipaparkan 40 epiode relief yang menggambarkan perjuangan fisik, diplomasi bangsa Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 hingga tanggal 28 Desember 1949 ketika Presiden Soekarno akan meninggalkan kota Yogyakarta.
a)         Relief 01, Proklamasi Kemerdekaan Republic Indonesia 17 Agustus 1945 Di Pegangsaan Timur No.56 Jakarta
b)        Relief 02, Gema Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Di Yogyakarta 05 September 1945
c)         Relief 03, Pertempuran Kota Baru 07 Oktober 1945 Di Butai Kotabaru Yogyakarta
d)        Relief 04, Kongres Pemuda Dib Alai Mataram Yogyakarta 10 November 1945
e)         Relief 05, Pemilihan Panglima Besar TKR Di Yogyakarta 12 November 1945
f)         Relief 06, Serangan Udara Sekutu Di Kota Yogyakarta 27 September 1945
g)        Relief 07, Yogyakarta Menjadi Ibu Kota Republic Indonesia 04 Januari 1946
h)        Relief 08, Berdirinya Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada Di Yogyakarta 03 Maret 1946
i)          Relief 09, Pengawalan Dan Pengangkutan Tawanan Jepang Di Yogyakarta 29 April 1946
j)          Relief 10, Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Yang Pertama Di Yogyakarta 17 Agustus 1946
k)        Relief 11, Hari Ulang Tahun Pertama Angkatan Perang Republic Indonesia Di Yogyakarta 05 Oktober 1946
l)          Relief 12, Peringatan 6 Bulan Berdirinya Militer Akademi Yogyakarta 05 Oktober 1946
m)      Relief 13, Perjanjian Linggar Jati 15 November 1947
n)        Relief 14, Pelantikan Pucuk Pimpinan TNI 28 Juni 1947
o)        Relief 15, Persiapan Serangan Balas Angkatan Udara Republic Indonesia 29 Juli 1947
p)        Relief 16, Kapal Selam Yang Pertama Di Indonesia Juli 1947
q)        Relief 17, Notulen Kaliurang 13 Januari 1948
r)          Relief 18, Penpenggunatanganan Perjanjian Renvile, 17 Januari 1948
s)         Relief 19, Pasukan Hijrah Tiba Di Yogyakarta Februari 1948
t)          Relief 20, Bantuan Obat-Obatan Dari Mesir 05 Maret 1948, dst.

5. Koleksi Diorama
Di dalam bangunan tepatnya dilantai II, disajikan10 episode dengan ukuran life size yang menggambarkan perjuangan fisik diplomasi bangsa Indonesia sejak Agresi Militer Belanda kedua tanggal 19 Desember 1948, Serangan Umum 1 Maret, Perjanjian Roem Royen hingga Peringatan Proklamasi keempat tanggal 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.
a)      Diorama 1, Penyerbuan Tentara Belanda Belanda Terhadap Lapangan Terbang Maguwo, 19 Desember 1948
b)      Diorama 2, Panglima Besar Soedirman Melapor Kepada Presiden RI Untuk Memimpin Perang Gerilya, 19 Desember 1948
c)      Diorama 3, Presiden, Wakil Presiden dan Para Pemimpin lainnya Diasingkan ke Sumatra, 22 Desember 1948
d)     Diorama 4, Perlawanan Rakyat bersama Tentara Nasional Indonesia terhadap Belanda, 23 Desember 1948
e)      Diorama 5, Konsolidasi dan Pembentukan Sektor Pertahanan di Ngoto, 23 Desember 1948
f)       Diorama 6, Serangan Umum 1 Maret 1949
g)      Diorama 7, Penandatanganan Roem-Royem Statement, 29 Juni 1949
h)      Diorama 8, Penarikan Tentara Belanda Dari Yogyakarta, 17 Agustus 1949
i)        Diorama 9, Panglima Besar Jenderal Soedirman Tiba Kembali di Yogyakarta, 10 Juli 1949
j)        Diorama 10, Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Yogyakarta 17 Agustus 1949


6. Ruangan Garbha Graha
a)    Unit Bendera Pusaka
b)   Unit Relief Simbolik
c)    Unit Kata Mutiara (Pesan Pelaku Pejuang)
Lantai teratas merupakan tempat hening berbentuk lingkaran, dilengkapi dengan tiang bendera yang dipasangi bendera merah putih di tengah ruangan.Unit Kata Mutiara (Pesan Pelaku Pejuang) relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik pada dinding barat dan perjuangan diplomasi pada dinding timur.Ruangan bernama Garbha Graha itu berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan merenungi perjuangan mereka.

3.2  Faktor Penarik Monumen Jogja Kembali Sebagai Daerah Tujuan Wisata
3.2.1 Letak Strategis
Jalan Lingkar Utara, Dusun Jongkang, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Keberadaan Monumen Jogja Kembali ini terbilang mudah aksesnya. Tambah lagi jika akan dijangkau dengan menggunakan kendaraan yang bentuknya relatif besar seperti bus pariwisata. Tidak akan sulit untuk mencari jalan menuju ke tempat tersebut. Letaknya berada di jalur ring road utara Yogyakarta, jalan tersebut sering kali menjadi jalan yang digunakan.Kondisi jalan yang baik, berakibat jalan tersebut menjadi jalan alternatif.  Trans Jogja juga memudahkan para wisatawan yang menginginkan berkunjung ke Monumen Jogja Kembali. Tepat berada di depan Monumen ada halte trans Jogja.

3.2.2   Harga Tiket Masuk Terjangkau
Rp 7.500,00 harga yang sangat terjangkau bukan, bahkan tempat ini sering menjadi pilihan sekolah tingkat TK sebagai tujuan wisata.Tidak mencapai seratus ribu rupiah bisa mendapatkan ilmu pengetahuan terkait kepahlawan serta dapat merasakan rekreasi.

3.2.3   Bentuk Bangunan Monumen Unik
Bentuk kerucut yang tinggi membuat para pengguna jalan yang melintasi ring road utara penasaran untuk mengunjunginya. Sekilas apabila melihat maka banyak pertanyaan yang akan tersirat dalam benak wisatawan sehingga akan minat untuk mengunjungi.

3.2.4   Nilai Sejarah
Esensi dari Monumen Jogja Kembali sangatlah baik, untuk dikenalkan kepada generasi muda.Nilai-nilai sejarah yang termuat sangat memberi manfaat bagi penanaman nilai-nilai budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.Bahkan dari temapat tersebut dapat kita temui ilmu-ilmu baru yang bisa dijadikan sebagai bahan penelitian.
Monumen Jogja Kembali, di dalamnya juga terdapat terdapat struktur organisasi yang menjalankan serta mengaturnya. Masing- masing anggota tersebut menjalankan fungsinya sesuai dengan jabatan yang dimiliki, misalnya petugas kebersihan bertugas menciptakan keindahan dan bertanggung jawab terhadap kebersihan sekitar Monumen, penjaga monumen bertugas menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan, penjaga loket bertugas melayani pengunjung dalam pembelian tiket dan lain sebagainya. Untuk saat ini cukup baik kinerja dari strukturnya, namun harus tetap ditingkatkan agar dapat menarik para pengunjung berwisata ke tempat tersebut.Pengawasan yang cukup ketat harusnya diberikan oleh pimpinan ke bawahannya agar mereka dapat bekerja dengan baik.Peran pemerintah juga diperlukan mengingat, Monumen Jogja Kembali juga membutuhkan perawatan menjaga keindahnnya.

3.3  Fungsi Obyek Pariwisata Monumen Yogja Kembali
Sebagai bagian dari pariwisata kota Yogyakarta, Monumen Jogja Kembali atau yang lebih sering disebut monjali memiliki daya tarik bagi wisatawan lokal maupun interlokal, ini dikarenakan ada sesuatu yang menarik di Monjali, banyak hal yanag didapat dari monjali, selain tempat rekreasi juga merupakan tempat pembelajaran mengenai sejarah bangsa Indonesia dan Yogyakarta. Tentu ini merupakan tempat wisata yang sangan representatif bagi keluarga, karena bisa mengenalkan sejarah kepada anak-anaknya.
Adapun pariwisata monjali memiliki beberapa fungsi yang dimilikinya, antara lain:
a)    Rekreasi, Monumen Jogja Kembali menyediakan sarana permainan yang dapat menjadi sarana rekreasi bagi keluarga yang ingin menghabiskan waktu liburan bersama keluarga, karena didalam Monumen Jogja Kembali di sediakan wahana permainan, seperti perahu air dan sebagainya.
b)   Pengenalan sejarah dan budaya, sudah sepantasnya pariwisata Monumen Jogja Kembali menyediakan sarana dan prasarana untuk memberikan informasi mengenai sejarah dan kebudayaan yang ada di Indonesia khusunya di yogyakarta, karena hal yang paling pokok pada Monumen Jogja Kembali adalah pengenalan sejarah Indonesia saat berada di Yogyakarta. Lebih dalam lagi, Monumen Jogja Kembali juga menyediakan diorama dan foto-foto bersejarah yang akan menambah daya tarik dalam mempelajari sejarah bangsa.
c)    Penanaman karakter (character building), selain menjadi pengenalan sejarah dan  budaya, Monumen Jogja Kembali juga dapat berfungsi sebagai penanaman karakter pada  setiap pengunjung, penanaman karakter ini dilakukan melalui media-media sejarah yang di sediakan oleh pengelola Monumen Jogja Kembali. Keterangan yang kami ambil, bahwa setiap pengunjung yang datang ke Monumen Jogja Kembali diharapkan mampu untuk mengambil pelajaran dari setiap peristiwa sejarah yang pernah terjadi, agar tindakan yang dilakukan oleh para pejuang dalam memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan dapat di tiru dan di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih lanjut, pejabat yang melakukan tindakan korupsi seharusnya datang ke Monumen Jogja Kembali dan mengambil pelajaran dari situ agar menyadari bahwa tindakan yang di lakukannya salah dan merupakan tindakan yang menciderai hati para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk kemerdekaan bangsa ini.

Dengan fungsi-fungsi tersebut, maka wisata Monumen Jogja Kembali yang ada di kota yogyakarta sangatlah mendukung dalam pengenalan sejarah dan membangun karakter warga negara agar lebih baik dan lebih mencintai negara dan menghargai jasa para pahlawan.

3.4Dampak Sosial-Budaya, Sosial-Ekonomi Monumen Yogja Kembali
Keberadaan Monumen Yogja Kembali menimbulkan adanya dampak positif dan dampak negatif meliputi dampak sosial-ekonomi dan sosial-budaya bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya diantaranya adalah:

3.4.1   Dampak Sosial-Ekonomi
a)    Dengan berdirinya Monumen Jogja Kembali membawa dampak positif bagi masyarakat sekitarnya berupa mata pencaharian misalnya sebagai satpam, petugas karcis, petugas kebersihan, dan berjualan di sekitar kawasan Monumen Jogja Kembali sehingga memberikan pendapatan bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya terhadap Monumen Jogja Kembali.
b)   Dalam aspek ekonomi Monumen Jogja Kembali memberikan dampak bagi kota Yogjakarta yaitu menambah pendapatan daerah dari hasil penjualan karcis sehingga bisa menambah kas dan pemasukan daerah.
c)    Monumen Jogja Kembali bisa menjadi suatu icon tempat pariwisata yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke kota Jogja sehingga dari segi ekonomi akan menguntungkan bagi kota Yogyakarta itu sendiri.
d)   Berdirinya Monumen Jogja Kembali menjadi salah satu bukti berhasilnya pembangunan di kota Yogyakarta.
e)    Ada dampak negatif dari berdirinya Monumen Jogja Kembali dari segi ekonomi adalah menambahnya anggaran pemerintah daerah untuk perawatan dan pemeliharaan Monumen Jogja Kembali.
Sedangkan dampak pasar di sebelah barat Monumen Jogja Kembali sebagai berikut:
a. Dampak Positif Pasar Monjali
1) Meningkatkan perekonomian
Pedagang pasar Monjali memiliki karakteristik umur antara 20 hingga 49 tahun. Peluang sebagai pedagang kaki lima dimanfaatkan dengan kejelian mereka meraih pendapatan dengan memanfaatkan pengunjung yang datang di Monjali pada saat tertentu seperti Hari libur nasional, liburan sekolah serta Hari Minggu. Pedagang kaki lima yang memiliki usaha berdagang sebagai mata pencaharian guna memperoleh pendapatan sebagian mereka juga memiliki sumber pendapatan lain di luar kegiatan berdagang di Monjali. Dikemukakan bahwa usaha sebagai pedagang kaki lima merupakan mata pencaharian pokok dan sebagaian ada yang menganggap sebagai pekerjaan sampingan.
2) Membuka lapangan pekerjaan
Alasan pedagang kaki lima melakukan kegiatan berdagang hanya pada saat tertentu adalah memanfaatkan kesempatan banyaknya pengunjung di Monjali pada saat tersebut apabila mereka menggelar dagangannya diluar saat tersebut akan kesulitan menjual barang dagangannya karena sepi pembeli. Pedagang kaki lima memanfaatkan lokasi wisata Monjali sebagai tempat memperoleh pendapatan karena melihat kesempatan yang tersedia saat itu yakni banyaknya pengunjung sehingga muncul gagasan untuk berdagang di Monjali.
3) Menambah asset daerah atau Monjali (khususnya)
Dengan adanya pasar menambah penghasilan atau anggaran masuk ke pengelola Monjali.Lapak-lapak atau tempat pedagang tidak gratis tetapi menggunakan system sewa dengan harga yang tidak murah pula.Pasar monjali memberikan banyak keuntungan bagi pengelola Monjali selain membuka lapangan kerja.Pekerja pun merasa senang dengan adanya pasar tersebut karena akses mendapatkan akses makanan lebih cepat.
4) Mempermudah akses pengunjung mencari oleh-oleh
Menurut jenis barang dagangan yang diusahakan memiliki variasi mulai dari jenis makanan, minuman, mainan dan assesories, barang kerajinan serta pakaian.Pengunjung menjadi lebih mudah memilih aneka barang dagangan karena lokasinya yang terbuka.Pengunjung memiliki akses cepat karena lokasinya tidak jauh pula dari Monumennya selain itu banyak pilihan pula yang ditawarkan.Mengenai harga memang jauh lebih mahal dari harga biasanya karena memang lokasinya di tempat wisata.Penjual pun ingin mencari laba yang setingi-tingginya karena memang hanya hari-hari tertentu yang ramai.

b. Dampak Negatif Pasar Monjali
1) Membuat lingkungan kotor
 Bukanya pasar di Monjali memang selain berdampak positif memunculkan pula dampak negative.Pasar Monjali mengubah lingkungan menjadi tidak tertata atau tampak terlihat kumuh karena lapak-lapak pedagang yang tidak tertata rapi.Selain itu sampah yang dibuang para pengunjung dan pedagang pun sembarangan sehingga memperburuk keindahan dan kenyamanan Monjali sendiri.
2) Menganggu kenyamanan pengunjung
Sebagian para pengunjung banyak yang berpendapat bahwa dengan adanya pasar di Monjali justru mengganggu kenyamanan mereka selama berwisata.Keindahan Monjali pun sedikit terganggu karena pemandangan lapak-lapak yang kurang tertata rapi. Selain itu para orang tua sedikit mengeluh karena dengan banyaknya pedagang yang berjualan maka anak-anak mereka akan merogoh kantong semakin dalam akibat banyaknya penjual yang menawarkan dagangannya karena kita tahu sendiri pengunjung Monjali kebanyakan adalah anak-anak.
3) Peluang terjadinya kriminalitas
Meningkatnya potensi kejahatan seperti pencopetan, penjabretan, dan sebagainya tidak lepas pula terjadi di Monjali.Keramaian pengunjung dimanfaatkan oleh mereka untuk mengais rejeki.Kurangnya penjagaan yang di lakukan oleh satpam dan aparat sejenisnya membuat orang-orang luar mudah untuk keluar masuk.Sehingga potensi tindak kejahatan semakin besar. Selain itu tidak jarang pula bedagang yang sampai tidur dan menginap di lapak bahkan banyak pula yang kadang mabuk-mabukan di lapak mereka karena mereka merasa telah membeli atau menyewanya sehingga bebas berbuat apapun di sana.

3.4 2. Dampak Sosial-Budaya
1)   Berdirinya Monumen Jogja Kembali menjadi sarana baru dalam dunia pendidikan yaitu sebagai tempat belajar para pelajar maupun mahasiswa dalam menuntut ilmu tentang sejarah bangsa kita.
2)   Dengan adanya Monumen Jogja Kembali dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan kecintaan bagi masyarakat terhadap negaranya sendiri yaitu Indonesia.
3)   Monumen Jogja Kembali merupakan salah satu simbol kebudayaan di kota Yogyakarta dilihat dari nilai historicalnya, misalnya dari bangunan yang membentuk kerucut menyerupai gunung.
4)   Monumen Jogja Kembali menjadi satu warisan budaya yang menjunjung tinggi kearifan lokal dan nilai – nilai luhur sejarah bangsa kita dalam memperjuangkan kemerdekaan dan Monumen Jogja Kembali berfungsi sebagai bukti yang mampu menceritakan kembali seiring dengan berjalannya waktu yang terus berlalu meninggalkan masalalu.


DAFTAR PUSTAKA

Utami, Sri. 2000. Buku Petunjuk Koleksi Monumen Yogya Kembali. Yogyakarta: Badan Pengelola Monumen Yogya Kembali






LAMPIRAN:

A.  Identitas  Narasumber
Nama                      : Gunadi (Historical Struggle Guide)
Alamat                    : Badran JT 1/766 Yogyakarta, Telp (0274) 549056.
Nomor Hp              : 082329244665
B.  Waktu dan Tempat Observasi
Hari/Tanggal           : Sabtu/14 November 2015
Tempat                   : Monumen Yogya Kembali. Jl.  Ring Road Utara Yogyakarta, Telp (0274) 868225
C.  Hasil Wawancara
1)        Bagaimana latar belakang dibangunnya monjali?
Jawab:
Pembangunan dari monumen ini dilakukan untuk mengenang suatu kejadian dan peringatan ditarik mundurnya tentara belanda dari ibukota yang saat itu berada di Yogyakarta pada tanggal 29 juni 1949.  Selain itu pembangunan monumen juga atas usulan dari Kolonel Soegiarto walikotamadya Yogyakarta, dan peringatan yogya kembali di selenggarakan pada tanggal 20 juni 1983. Dan monumen ini mulai dibangun pada tanggal 29 juni tahun 1985;

2)        Mengapa bentuk dari monumen berbentuk kerucut. Berbeda dengan monumen seperti biasanya ?
Jawab:
Iya, Monumen ini memeng berbentuk kerucut ataau layaknya seperti gunung dengan ketinggian 31, 80 dan ini merupakan sebuah gambaran kecil gunung yang ditempatkan disebuah lereng gunung merapi. Gunung Merapi ini sangat berarti bagi Yogyakarta baik secara faktual maupun simbolik. Muntahan lava Gunung Merapi memberikan kesuburan bagi daerah Yogyakarta dan sekitarnya, sementara itu konturnya di langit selalu menghias Cakrawala Yogyakarla dimanapun seseorang berada, dari Gunung Merapi pula Sungai Winongo dan Code yang mengalir melalui Kota Yogyakarta.
Secara simbolik bersama laut selatan ( Istana Ratu Kidul ) yang berfungsi sebagai "Yoni" dan Gunung Merapi sebagai "Lingga" merupakan suatu kepercayaan yang sangat tua dan berlaku sepanjang masa. Bahkan sementara orang menyebut Monumen Yogya Kembali sebagai tumpeng raksasa bertutup warna putih mengkilat, dalam tradisi Jawa tumpeng seolah-olah sebagai bentuk gunung yang dapat dihubungkan denoan kakayon atau gunungan dalam wayang kulit, yang melambangkan kebahagiaan I kekayaan kesucian dan sebagai penutup setiap episode Perjuangan Bangsa. gunungan dalam wayang kulit, yang melambangkan kebahagiaan I kekayaan kesucian dan sebagai penutup setiap episode Perjuangan Bangsa;

3)        Dimana letak dari monumen Monjali ?
Jawab:
 Monumen Yogya Kembali atau Monjali Ini  terletak di Jalan Lingkar Utara, Dusun Jongkang, Desa Sarihafio, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Didirikan diatas lahan seluas 49.920 m2. Lokasi ini ditetapkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwuno IX dengan alternatif diantaranya terletak di garis poros antara Gunung Merapi - Monumen Yogya Kembali - Tugu Pal Putih - Kraton - Panggung Krapyak - Laut Selatan merupakan "Sumbu Imajiner" yang pada kenyataannya sampai sekarang masih dihormati oleh masyarakat Yogyakarta, dan menurut kepercayaan bersatunya Lingga dan Yoni akan menimbulkan kemakmuran di tempat ini sebagai batas akhir ditariknya mundur Tentara Belanda ke arah Utara; Usaha kesinambungan tata kota kegiatan dan keserasian Daerah Yogyakarta.
4)        Selain dari sejarahnya yang panjang dari monumen ini, Apa tujuan dari dibangunnya monumen Yogya kembali ?
Jawab:
 tujuan pembangunan Monumen Yogya Kembali adalah sebagai berikut :
a.    Mengabadikan peristiwa kembalinya Ibukota Yogyakartaka tangan bangsa Indonesia. Perjuangan tersebut tidak melalui jalan yang mudah, tetapi dengan berbagai cara baik bersenjata, diplomasi maupun perang urat saraf dan  sebagainya;
b.    Memperingati kembalinya Ibukota RI Yogyakarta ke tangan bangsa Indonesia sekaligus berakhirnya penjajahan kolonialis Belanda di Indonesia;
c.    Merupakan ungkapan penghargaan dan rasa terima kasih kepada para Pahlawan yang telah mengorbankan jiwanya dalam merebut kernbali Yogyakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia;
d.   Mewariskan dan melestarikan jiwa, semangat nilai-nilai luhur perjuangan bangsa Indonesia kepada generasi penerus, sebagai wahana pendidikan mempertebal identitas dan watak bangsa Indonesia yang patriotik, luhur,  harga diri, ulet dan tabah menderita dalam memperjuangkan cita-cita bangsa;
b)   Selain itu tujuan dibangunnya monumen ini Sebagai bangunan monumental diharapkan Monumen Yogya Kembali dapat digunakan sebagai sarana Rekreasi, Sarana Pendidikan dan penelitian akan kronik sejarah perjuangan bangsa atau perjnlanan Sejarah perjuangan bangsa. Secara nyata akan bisa  dilihat, dirasakan dan diresapi oleh generasi penerus dengan demikian pada gilirannya rasa nasionalisme. Kecintaan  akan tanah airr dan Sejarah perjuangan bangsanya tidak akan larut oleh situasi dan arus globalisasi;
Selain dijadikan sebuah monumen akan kejadian yang mengantarkan perjuangan di daerah Yogyakarta. Monumen ini juga dapat dijadikan sebagai objek wisata dimana selain melakukan kegiatan wisata dapat pula melihat sejarah yang ada disekitar dengan mengunjungi Monumen tersebut. Dapat dikatakan bahwa tempat ini memiliki dua tujuan sekaligus yaitu sebagai tempat yang bersejarah  dan tempat ini juga bisa digunakan untuk melakukan kegiatan rekeasi atau wsata bersama keluarga maupun perseorangan.
5)        Bagaimana gambaaran umum dari taman sekitar dari Monumen Yogya Kembali?
Jawab:
 Bila pengunjung masuk Monumen Yogya Kembali melalui Pintu Timur dapat diamati, koleksinya  antara lain :
a)    Replika Pesawat Cureng terletak di taman bermain sebclah Utara portirtimur. Pesawat ini sumbangan dari KSAU Marsekal Rilo Pambudi, tanggal 29 Juni 1994. Jenis pesawat latih yang digunakan AURI selama Perang Kemerdekaan diantaranya dipergunakan untuk serangan balas kedudukan tentara Belanda di kota Salatiga, Ambarawa pada tanggal 29 Juli 1947 dengan pilot Bapak Suharnoko Harbani dan Cadet Soetardjo Sigit;
b)   Meriam PSU - S60 kaliber 57 mm dan Meriam PSU BoforsL-60 kaliber40mm. Pengunjung naik trap menuju Plaza, di sudut Plaza Timur ini dipamerkan sepucuk senjata Meriam PSU - S60, buatan Rusia dan disamping utara diparnerkan pula  sepucuk Meriam PSU Bofors L-60 sebagai penghias taman. Meriam ini sumbangan dari KASAD, diambil dari Gudbalkir, Guspusgat dan Optik Sidoarjo, Jawa Timur tanggal 28 April 1996;
c)    Bila pengunjung masuk melalui Pintu Portir Barat dapat diamati koleksi antara lain: Replika Pesawat Guntai yang terletak di taman sebelah area parkir. Pesawat ini sumbangan dari KSAU Marsekal Madya Sutriya Tubagus pada tanggal 29 Juli 1996, jenis pesawat ini dipakai oleh AURI selama perang kemerdekaan, diantaranya : Untuk melaksanakan serangan balas kedudukan Belanda di kota Semarang tanggal 29 Juli 1947 yang terkenal dengan Serangan Tiga ( 3 ) kota;
d)   Meriam PSU - S 60 Kaliber 57 mm dan PSU Bofors L-60 Kaliber40mm. Pengunjung Monumen Yogya Kembali naik trap menuju Plaza, sebagaimana di sudut Plaza Timur, di sudut Plaza Barat ini sama dipamerkan sepucuk Meriam PSU - S60 Kaliber 57 mm dan di taman Plaza Barat juga dipamerkan sepucuk Meriam PSU Bofors L-60 Kaliber 40 mm;
e)    Logo/ Lambang;
f)    Di tengah Plaza berdiri tiang bendera merah-putih sebagai tanda bahwa plaza ini berfungsi sebagai tempat Upacara, juga berfungsi untuk menikmati pemandangan Monumen Yogya Kembali dengan latar belakang Gunung Merapi;
g)   Sebagai pembatas Plaza dan halaman dalam, dibangun dinding rana yang memanjang dari timur ke barat, tinggi 3 meter dan panjang 60 meter di tengah- tengah dinding rana bagian luar ini dipasang logo atau lambang Monumen Yogya Kembali yang berbentuk lingkaran dengan garis silang yang membelah dan dihiasi dengan ornamen gapuro berjumlah empat. Logo atau lambang tersebut dibaca;
h)   Gapuro Papat Ambuka Jagad yang ditulis dengan huruf Jawa, hal ini merupakan surya sengkalan yang dapat diartikan sebagai angka tahun terjadinya peristiwa Yogya Kembali;
i)     Gapuro = 9, Papat =4, Ambuko = 9, Jagad = 1 membacanya terbalik sehingga menjadi tahun masehi 1949;
j)     Daftar Nama - nama Pahlawan
Pengunjung turun trap menuju halaman dalam melalui sebelah barat dinding rana, pada dinding rana yang menghadap ke arah utara ke arah bangunan induk dipahatkan dengan tinta emas nama para Pahlawan yang gugur di Daerah Wehrkreis Ill antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan tanggal 28 Juni 1949, sejumlah 422 nama pahlawan, terdiri dari : Angkatan Darat 168 orang; Angkatan Laut 3 orang; Angkatan Udara 42 orang; Polisi Negara 32 orang; Cadet Militer akademi 8 orang; Pelajar Pejuang yang tergabung dalam TNI Brigade XVII/TP 37 orang; PNS 10 orang dan Gerilyawan / Rakyat Pejuang 122 orang, sedangkan untuk pahlawan yang tidak dikenal disediakan satu bidang khusus di tengah-tengah rana dengan dituliskan kalimat "Pahlawan tidak dikenal " dan dibawahnya dikutip Syair Chairil Anwar berjudul " Kerawang - Bekasi ".
Sudah terlihat menarik apa yang ada disekitar bangunan monumen tersebut mulai dari peninggalan-peninggalan senjata saat pertempuran perebutan ibukota pada saat itu. Selain itu, taman di area monumen ini dihias dengan bermacam-macam lampion dimana memperindah tempat ini dan menunjang sebagai objek wisata.
6)   Bagaiman promosi yang dilakukan pihak musium untuk menarik penggunjung ?
Jawab:
Dari pihak museum sendiri melakukan promosi melalui sekolah dengan mengundang untuk mendatangi monumen tersebut, selain itu menggunakan poster, pamlet dan sebagainya, selain itu juga menggunakan promosi mandiri artinya promosi dari mulut ke mulut;

7)   Bagaimana pengelolahan dari museum Monumen Yogya Kembali?
Jawab:
Karena ini merupakan museum yang berdiri dibawah yayasan bukan dari pemerintah, jadi dalam pengelolahannnya mandiri dari pihak-pihak museum itu sendiri. Dan melakukan pengelolahan secara berkala.

8)   Untuk pengelolahannya merupakan dari pihak museum sendiri, bagaimana memperoleh dana untuk penembangan museum tersebut ?
Jawab:
Dalam hal ini kami memperoleh dana dari pengunjung yang datang ke museum tersebut, untuk perseorangan dikenakan biaya Rp.10.000 sedangakan untuk pengunjng lebih dari 30 orang kami kenakan diskon gratis 1 orang seperti itu;

9)   Bagaimana waktu kunjungan yang ada di musium monumen Yogya kembali?
Jawab:
Monumen Yogya Kembali dibuka setiap hari selasa sampai minggu dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore . sedangkan untuk masa liburan hari senen dibuka mulai jam 8 sampai jam 2 siang. Namun untuk taman yang berhiaskan lampion kami buka sampai malam sekitar jam 11 malam karena disana merupakan taman hibuaran yang praktis untuk kelurga dimalam hari.


Tidak ada komentar: