MONUMEN JOGYA KEMBALI (MONJALI) SEBAGAI OBYEK PARIWISATA EDUKASI DI KOTA YOGYAKARTA
BAB
1. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Museum merupakan
tempat yang menyimpan dan menyajikan berbagai bukti sejarah manusia di masa
lampau.Berbagai bukti sejarah dimasa lalu menjadi sumber belajar nyata bagi
pengunjung.Sehingga museum menjadi salah satu tempat yang tepat untuk dijadikan
sebagai sumber belajar.Melalui benda yang dipamerkannya, pengunjung dapat
belajar tentang nilai dan perhatian serta kehidupan generasi pendahulu sebagai
bekal di masa kini dan gambaran untuk kehidupan di masa mendatang.Selain itu,
melalui pemanfaatan museum sebagai sumber belajar, sebagai bagian dari
pembelajaran dengan pendekatan warisan budaya, diharapkan siswa dapat tumbuh
menjadi generasi yang pintar dengan tidak melupakan akar budaya bangsanya.
Tujuan museum
didirikan adalah untuk melestarikan budaya, mengenang jasa para pahlawan kepada
generasi penerus bangsa agar mereka dapat terus menjaga nilai-nilai bangsa
tercinta.Museum sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan rekreasi, jangan
sampai museum hanya dipandang sebagai gudang tempat penyimpanan barang tua dengan
suasana yang menyeramkan.
Museum sebagai
sumber belajar tentunya memiliki organisasi di dalamnya yang mengatur semua hal
agar museum benar-benar menjadi tempat belajar sekaligus tempat rekreasi yang
efektif dan menyenangkan.Sebagai orang
pendidikan sangat penting bagi kita mengetahui bagaimana organisasi sumber
belajar yang ada di museum.
Salah
satu musium yang ada di Kota Yogyakarta adalah Musium Yogya Kembali (MONJALI)
yang didirikkan tanggal 29 Juni 1985, yang mana isinnya menggambarkan sejarah
pergerakan kemerdekaan Indonesia, dalam musium tersedia diorama-diorama yang
menyimpan barang-barang dan menyimpan kenangan kejadian masa keerdekaan yang
menarik sekali dijadikan obyek pariwisata dalam bidang pendidikan, musium ini
berbentuk kerucut dengan dikelilingi kolam serta taman pelangi.
Dari
uraian diatas, dalam laporan ini akan kami paparkan
lebih dalam mengenai hasil observasi kami
di musium monumen yogya kembali yang nantinya akan kami sajikan dalam judul “Monumen
Yogya Kembali (MONJALI) sebagai obyek pariwisata edukasi di kota Yogyakarta”.
1.2
Rumusan
Masalah
Dari pemaparan latar belakang di atas dapat kita tarik
rumusan masalah sebagai berikut:
1)
Bagaimana hakekat dari sebuah museum?
2)
Bagaimana Sejarah dari dibangunnya Monumen Yogya Kembali (Monjali)?
3)
Apa saja koleksi yang
disediakan di dalam museum monumen yogya kembali ?
4)
Bagaimana bentuk
manajemen pengelolaan monjali sebagai obyek pariwisata?
5)
Bagaiman bentuk kelebihan
museum monjali sebagai sumber belajar?
6)
Bagaimana bentuk keterbatasan
yang mengahambat perkembangan monjali?
7)
Bagaimana bentuk faktor
penarik monumen jogja kembali sebagai daerah tujuan wisata?
8)
Apa saja dampak dibidang
Sosial-Budaya, Sosial-Ekonomi dari keberadaan Monumen Yogja Kembali?
1.3
Tujuan
Penelitian
Dari
pemaparan rumusan masalah di atas, dapat kita simpulkan tujuan dari penulisan
makalah ini ialah sebagai berikut:
1) Untuk
Menganalisis hakekat museum;
2) Untuk
memahami sejarah
kaitannya dengan tujuan dari dibangunnya Monumen
Yogya Kembali (Monjali);
3) Untuk
mengetahui koleksi apa saja yang tersedia di dalam museum monumen yogya kembali;
4) Untuk
mengetahui pemanajemenan dari pengelolaan monjali sebagai obyek pariwisata;
5) Mengetahui
kelebihan monjali sebagai sumber belajar;
6) Mengetahui
keterbatasan monjali sebagai sumber belajar;
7) Mengetahui faktor
yang menjadi daya tarik dari monumen jogja kembali sebagai daerah tujuan wisata;
8) Mengetahui
dampak dibidang Sosial-Budaya, Sosial-Ekonomi dari keberadaan Monumen Yogja Kembali;
BAB 2. KAJIAN TEORI
2.1 Hakekat Museum
Museum
dikenal dengan sebuah gedung atau bangunan yang menyimpan koleksi benda-benda
warisan budaya yang bernilai luhur yang dianggap patut disimpan.Dalam sejarah
perkembangan museum mengalami perubahan-perubahan yang berdasarkan pada fungsi
pada awalnya.Kemudian berkembang dan bertambah dengan fungsi pemeliharaaan,
pengawetan, penyajian atau pameran, dan akhirnya fungsi ini semakin bertambah.
Dengan
perkembangan museum muncul berbagai teori tentang pengertian museum. Beberapa
pengertian museum :
1. Museum
adalah Sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani
masyarakat dan pengembangannya terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat,
menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan pendidikan, penelitian dan
kesenangan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya. (International
Council of Museum).
2. Museum
adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan
benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya
guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya
bangsa.(Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1995 Pasal 1 ayat (1)).
3. Museum
adalah tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, merawat melestarikan, mengkaji,
mengkomunikasikan bukti material hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya. (Amir
Sutaarga,1995:1)
Dari beberapa
pengertian tentang museum diatas dapat disimpulkan bahwa museum adalah suatu
lembaga yang berupa bangunan atau tempat yang berfungsi sebagai tempat
mengumpulkan, menyimpan, merawat melestarikan, mengkaji, mengkomunikasikan
bukti material hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya, yang bermanfaat
bagi kehidupan sehari-hari (edukasi,rekreasi,dan konservasi).
2.1.1 Klasifikasi Museum
Tiap museum
memiliki koleksi yang berbeda-beda baik asal koleksi, jenis, kedudukan dan
penyelenggara sehingga museum dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Menurut asal koleksi :
a) Museum
Umum
Museum
yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya
yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi.
b) Museum
Khusus
Museum
yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia atau lingkungannya
yang berkaitan dengan satu cabang seni, cabang ilmu atau satu cabang teknologi.
2) Menurut kedudukannya :
a) Museum
Tingkat Nasional
b) Museum
Tingkat Regional
c) Museum
Tingkat Lokal
3) Menurut Penyelenggara :
a)
Museum Pemerintah (
Diselenggarakan dan dikelola oleh pemerintah).
b) Museum
Swasta (Diselenggarakan dan
dikelola oleh swasta).
Museum biasanya
mengadakan kegiatan yang diperuntukkan untuk pengunjung, yang berupa :Pameran
pendidikan, Kegiatan Pendidikan (Ceramah, Diskusi, Kursus, Perpustakaan,
Pemutaran Slide, film documenter, film ilmiah, dan Penerbitan katalog yang
berhubungan dengan program yang dilaksanakan oleh museum) , Kegiatan
Konservasi dan Pengolaan Koleksi, danKegiatan Pelayanan Teknis.
2.2 Sejarah Musium Monumen Yogya Kembali (Monjali)
Indonesia
yang memiliki banyak keindahan alam, keunikan budaya serta tempat bersejarah
masa lalu.Berbagai tempat yang ada di wilayah Indonesia bernilai positif bagi
pariwisata Indonesia.Beberapa daerah yang ada di wilayahnya pun berpotensi
tinggi dibidang pariwisata. Yogyakarta menempati posisi kedua setelah Bali, dimana Yogakarta
menyimpan banyak kisah sejarah yang terlukis yang memberikanya manfaat tentang berbagai macam budaya dan
tempat bersejarah yang menjadi tujuan wisata. Yogyakarta selain dikenal sebagai
kota pelajar, kota pendidikan, Yogyakarta sangat dikenal sebagai kota
pariwisata. Hal ini juga didukung letak geografis kota Yogyakarta. Bahkan untuk
menjangkau tempat pariwisata sangat mudah aksesnya.Adapun yang dapat dijadikan
tujuan wisata di Yogyakarta salah satunya adalah Monjali.
2.2.1 Sejarah
pembangunan
Monumen
Yogya Kembali
Monumen Yogya
Kembali atau dikenal oleh masyarakat setempat dengan istilah Monjali dibangun
pada tanggal 29 Juni 1985 yang ditandai dengan upacara tradisional penanaman
kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan
Sri Paduka Paku Alam VIII. Gagasan untuk mendirikan monumen ini dilontarkan
oleh Kolonel Sugiarto, selaku Walikotamadya Yogyakarta dalam Peringatan Yogya
Kembali yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Tingkat II Yogyakarta pada
tanggal 29 Juni 1983.
Dipilihnya nama
Yogya Kembali dengan maksud sebagai tetenger atau penanda peristiwa
sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada
tanggal 29 Juni 1949. Hal ini sebagai tanda awal bebasnya Bangsa Indonesia
secara nyata dari kekuasaan pemerintahan Belanda.
Pembangunan
monumen dengan bentuk kerucut dan terdiri dari tiga lantai ini selesai dibangun
dalam waktu empat tahun dan diresmikan pembukaannya tanggal 6 Juli 1989
oleh Presiden RI pada waktu itu, Soeharto.Monumen setinggi kurang lebih 31.8 m
ini terletak di Dusun Jongkang, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten
Sleman.Bentuk kerucutnya melambangkan bentuk gunung yang menjadi perlambang
kesuburan selain memiliki makna melestarikan budaya nenek moyang pra-sejarah.
Pemilihan lokasi Monumen Yogya Kembali juga memiliki alasan berlatarkan budaya
Yogya, yaitu monumen terletak pada sumbu atau poros imajiner yang menghubungkan
Gunung Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan pantai Parang Tritis. Sumbu
imajiner ini sering disebut dengan Poros Makrokosmos atau Sumbu Besar
Kehidupan.Titik imajinernya sendiri bisa anda lihat pada lantai 3 ditempat
berdirinya tiang bendera.
2.2.2 Isi
Monumen Yogya Kembali
Monumen
Jogjakarta Kembali terdiri dari taman depan dimana pengunjung bisa melihat
Meriam PSU Kaliber 60mm buatan Rusia, sedangkan dihalaman paling depan anda
bisa jumpai Replika Pesawat Guntai dan Pesawat Cureng yang dipakai dalam
peristiwa perjuangan ini.
Memasuki halaman
museum terdapat dinding yang memenuhi satu sisi selatan monumen yang berisi
Rana Daftar Nama Pahlawan dimana pengunjung bisa melihat 422 nama pahlawan yang
gugur di daerah Wehrkreise III antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29
Juni 1949 dan puisi Karawang-Bekasi karangan Khairil Anwar.
Bangunan monumen
yang terdiri dari tiga lantai terbagi dalam beberapa bagian.Seluruh bangunan
dikelilingi oleh kolam air. Di lantai satu adalah museum dimana terdapat empat
ruang museum yang menyajikan benda-benda koleksi berupa: realia, replika, foto,
dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk evokatif dapur umum yang
kesemuanya menggambarkan suasana perang kemerdekaan 1945-1949. Pengunjung bisa
melihat tandu yang digunakan untuk menggotong Panglima Besar Jenderal Soedirman
selama perang gerilya, seragam tentara dan dokar yang juga pernah digunakan oleh
Panglima Besar Jenderal Soedirman. Konon total koleksi barang-barang dalam
museum tersebut mencapai ribuan.
Perpustakaan
menggunakan satu ruang di lantai satu yang merupakan perpustakaan khusus
yang menyediakan bahan-bahan referensi sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa
Indonesia dan dapat dimanfaatkan oleh umum.
Ruang Serbaguna
adalah ruangan yang terletak ditengah-tengah ruangan lantai satu lengkap
dengan panggung terbuka-nya.Setiap hari Sabtu dan Minggu diruangan ini digelar
berbagai atraksi diantaranya tarian klasik, gamelan, musik electone yang
memainkan lagu-lagu perjuangan.Ruangan Serbaguna ini bisa digunakan oleh umum
untuk acara-acara pernikahan, seminar, wisuda dan lain-lain.
Di lantai 2
bagian dinding paling luar yang melindungi tubuh monumen, pengunjung bisa
melihat 40 buah Relief Perjuangan Phisik dan Diplomasi perjuangan Bangsa
Indonesia sejak 17 Agustus 1945 hingga 28 Desember 1949. Pengunjung bisa
melihat antara lain relief Jenderal Mayor Meyer yang mengancam Sri Sultan HB IX
pada tanggal 3 Maret 1949, Presiden dan para pemimpin lain kembali ke
Yogyakarta, pernyataan dari Sri Sultan HB IX yang menyatakan bahwa Daerah
Istimewa Yogyakarta adalah bagian dari Negara Republik Indonesia, Perayaan
Kemerdekaan di halaman Kraton Ngayogyakarta dan lain-lain.
Di dalam
bangunan lantai dua terdapat sepuluh diorama perjuangan Phisik dan Diplomasi
Bangsa Indonesia sejak 19 Desember 1948 hingga 17 Agustus 1949 dengan ukuran
life-size melingkari bangunan monumen. Diorama diawali dengan Agresi Militer
Belanda memasuki kota Yogyakarta dalam rangka menguasai kembali Replublik
Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948 dimana pengunjung bisa menyaksikan
miniatur pesawat-pesawat Belanda yang dibuat mirip dengan asli-nya. Apabila
anda datang didampingi pemandu maka pemandu akan dengan senang hati menjelaskan
kepada anda peristiwa sesungguhnya yang terjadi dimana pasukan Belanda yang
dipimpin oleh Kapten Van Langen berhasil menguasai Lapangan Udara Maguwo (kini
Adisucipto) pada pukul 08.00 dan mengadakan sapu bersih terhadap apa yang
dijumpai sepanjang jalan menuju Kota Yogyakarta (Jalan Solo). Kurang lebih
pukul 16.00 pasukan Belanda sudah menguasai seluruh kota Yogyakarta dan
beberapa tempat-tempat penting lain seperti Istana Presiden (Gedung Agung) dan
Benteng Vredeburg. Sejak itu perjuangan merebut kembali Negara RI dimulai.
Kesepuluh
diorama disajikan dalam kronologis waktu sehingga memudahkan pengunjung untuk
memahami urutan kejadian yang sebenarnya. Disini pengunjung dapat memahami
peran perjuangan Jenderal Soedirman yang waktu itu dengan kondisi kesehatan
sangat lemah dan paru-paru sebelah tetap memaksakan diri ikut berjuang dengan
cara gerilya walaupun Presiden Soekarno sudah memintanya untuk tinggal
bersamanya saja. Diorama ini disajikan diawal-awal.
Ditengah-tengah
diorama disisipkan juga adegan yang terkenal dengan sebutan Serangan Umum 1
Maret 1949 yang dipimpin oleh Letkol Soeharto yang memiliki tujuan politik,
psikologis dan militer dimana bangsa Indonesia ingin mengabarkan pada dunia
mengenai eksistensi-nya. Berita keberhasilan SU 1 Maret 1949 tersebut berhasil
disebarluaskan melalui jaringan radio AURI dengan sandi PC-2 di Banaran,
Playen, Gunung Kidul secara beranting hingga sampai ke Burma, India dan sampai
kepada perwakilan RI di PBB.
Menjelang
diorama terakhir kita bisa melihat akhir dari perjuangan panjang dan melelahkan
bangsa dimana akhirnya tentara Belanda ditarik dari Yogyakarta pada tanggal 29
Juni 1949 dan Sri Sultan HB IX bertindak selaku koordinator keamanan yang
mengawasi jalannya penarikan pasukan tersebut dan diakhiri dengan adanya
Persetujuan Roem-Royen pada tanggal 7 Mei 1949.
Pada lantai tiga
dari gedung monumen yang dinamakan Garbha Graha atau Ruang Hening.Dalam ruangan
ini terdapat tiang bendera dengan bendera merah putih terpasang ditengah
ruangan. Terdapat relief di dinding berupa gambar tangan yang dapat
diartikan sebagai perjuangan phisik dan perjuangan diplomasi yang digambarkan
dengan tangan memegang pena. Pemandu akan meminta pengunjung untuk menundukkan
kepala dan berdoa sejenak bagi arwah para pahlawan yang gugur dalam
mempertahankan kemerdekaan dapat diterima di sisi Tuhan sesuai dengan amal
baktinya.
2.3Kajian
tentang Organisasi Sumber Belajar
Organisasi
sumber belajar merupakan sub unit kerja yang berada di bawah Depertemen
Pendidikan yang bertugas membantu terselenggaranya kegiatan pembelajaran yang
menyediakan pelayanan media pembelajaran yang diharapkan bisa meningkatkan
efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar. Terdapat beberapa jenis OSB
(Organisasi Sumber Belajar), antara lain:
1) Perpustakaan
2) Laboratorium
3) Pusat
Kegiatan Belajar
4) Pusat
Sumber Belajar
Berbagai jenis
OSB tersebut dalam pelaksanaannya, bentuk dan pola pengelolaan suatu organisasi
sumber belajar itu dapat dipengaruhi oleh lingkungan yang ada. Menurut Schmid
dalam Manajemen Sumber Belajar, sedikitnya ada lima faktor lingkungan yang
berpengaruh terhadap pola organisasi sumber belajar, yaitu: masalah manajemen,
faktor politik, penyediaan fasilitas, keterbatassan dana, dan perhatian
terhadap dan dari pemakai/klien.
Organisasi Pusat
Sumber Belajar merupakan suatu wadah yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan
informasi belajar sebanyak-banyaknya dan akurat serta sebagai sarana peunjang
keberhasilan akan tercapainya suatu tujuan pembelajaran dengan lebih maksimal.
Fungsi organisasi pusat sumber belajar secara operasional bila dikaitkan dengan
kegiatan yang dilaksanakan, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a)
Fungsi
Pengembangan Sistem Intruksional
Fungsi ini menolong
jurusan atau departemen dan staf tenaga pengajar secara individual di dalam
membuat rancangan (desain) dan pemilihan options (pilihan) untuk
meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar dan mengajar.
b)
Fungsi
Pelayanan Media
Fungsi ini berhubungan
dengan pembuatan rencana program media dan pelayanan pendukung yang dibutuhkan
oleh staf pengajar dan pelajar.
c)
Fungsi
Administratif
Fungsi ini berhubungan
dengan cara-cara bagaimana tujuan dan prioritas program dapat tercapai. Fungsi
ini berhubungan dengan semua segi program yang dilaksanakan dan akan melibatkan
semua staf dan pemakai dengan cara-cara yang sesuai
d)
Fungsi
Produksi
Fungsi ini berhubungan
dengan penyediaan materi dan bahan pelajaran yang tidak dapat diperoleh melalui
sumber komersial
e)
Fungsi
Evaluasi
Fungsi ini berkaitan
dengan fungsi pelayanan evaluasi untuk membantu menentukan efektivitas berbagai
metode pembelajaran.
Sedangkan dalam
pelayanan pusat sumber belajar stidaknya berisikan pelayanan-pelayanan sebagai
berikut:
1) Bilik
Media
2) SALC
(Self Acess Learning Center)
3) Perpustakaan
4) Pusat
Sumber Multimedia
2.4 Manajemen Monjali obyek
pariwisata sebagai
sumber belajar
Berdasarkan pada
kajian teroi pada BAB II, tentang Manajemen Organisasi Sumber Belajar menurut
Mudhoffir dan Ali Muhtadi, menyebutkan bahwa Monjali termasuk pada pola
organisasi sumber belajar yang terpusat. Selain itu juga Monjali merupakan
salah satu pusat sumber belajar di yogyakarta. Monjali sebaagi sumber belajar
perlu diorganisasikan dengan baik agar memudahkan pengunjung mendapatkan ilmu
pengetahuan dan informasi tentang sejarah perjuangan kota Yogyakarta. Berikut
adalah aspek – aspek yang mendukung Monjali sebagai sumber belajar, yang mana
aspek tersebut di organisasikan untuk membuat manajemen sumber belajar Monjali:
2.4.1 Fasilitas
di Monjali sebagai Sumber Belajar
Sesuai
dengan pendapat Ali Muhtadi yang menyebutkan bahwa Fasilitas fisik dalam
organisasi sumber belajar berfungsi untuk menunjang dan menggalakkan kegiatan
program organisasi sumber belajar agar semua kegiatan tersebut dapat berjalan
dengan efisisen.Dengan fasilitas yang baik, sumber belajar seolah memiliki
kekuatan, semua peralatan berdayaguna, produksi media meningkat dan pengunjung
merasa tertarik dan makin sering datang (Ali Muhtadi. 2005: 59).Begitu pula
fasilitas yang tersedia di Monjali merupakan fasilitas untuk menunjang program
belajar sebagai sumber belajar dan pengembangan pembelajaran.Fasilitas di
Monjali juga menjadi salah satu bentuk kegiatan program penunjang dan promosi
sebagai sumber belajar. Fasilitas yang tersedia di monjali terbagi menjadi
dua, yaitu fasilitas fisik dan non fisik. Fasilitas fisik yang tersedia di monjali
adalah sebagai berikut :Museum, Perpustakaan, Relief, Ruang Diorama, Ruang
Garba Graha, dan Ruang serbaguna
Sedangkan
fasilitas non fisik yang tersedia di monjali berupa asuransi / jasa raharja
putra untuk pengunjung dan karyawan (JAMSOSTEK).Adanya jaminan kesehatan ini
untuk mengantisipasi adanya kecelakaan atau sakit secara tiba – tiba yang
diderita pengunjung.Fasilitas tersebut diperoleh dari akumulasi tiket masuk
monjali.
Monjali
melakukan kegiatan produksi media berupa produksi poster, pamflet, leaflet,
brosur dan buku panduan dengan desain menarik dan menggunakan dua
bahasa.Kegiatan ini dilakukan untuk menarik minat pengunjung untuk mengunjungi
Monjali dan memberikan informasi keluar bagi masyarakat tentang
Monjali.Sehingga bisa menjadi referensi tempat untuk belajar dan berekreasi.
2.4.2 Manajemen
Sistem informasi di Monjali
Sistem informasi
merupakan aspek penting dalam Manajemen Monjali sebagai sumber
belajar. Sebagai pusat sumber belajar, pengelolaan informasi di Monjali
menjadi garapan utama untuk meningkatkan kualitas fasilitas maupun program
pendukungnya..Melalui konsep penyebarluasan informasi yang dilakukan oleh pusat
sumber belajar tersebut, diharapkan kebebasan menerima informasi bagi
masyarakat luas bisa terlaksana tanpa membeda-bedakan status dan kedudukan yang
bersangkutan. Dengan banyaknya informasi yang diterima oleh masyarakat maka
masalah pemerataan di segala bidang pengetahuan masyarakat akan terlaksana,
yang pada akhirnya nanti akan terbentuk masyarakat informasi yang informatifse
sehingga bersifat responsive terhadap gejala-gejala yang bersifat inovatif.
Begitu pula di Monjali, yang mana memiliki sistem informasi terbagi menajdi dua
maca, yaitu sistem informasi di dalam dan sistem informasi keluar.
Sistem informasi
di dalam merupakan layanan di dalam yang dilakukan Monjali untuk memberikan
informasi tentang Monjali secara keseluruhan kepada pengunjung di dalam
Monjali.Sedangkan sistem informasi keluar merupakan layanan dan program keluar
yang dilakukan Monjali untuk pemerataan informasi tentang sumber belaajr di
Monjali dan sebagai ajang promosi monjali.
Sehingga layanan
yang diberikan oleh monjali kepada pengunjung menjadi sistem informasi sebaagi
salah satu aspek organisasi sumber belajar Monjali. Layanannya meliputi layanan
di dalam yaitu diberikan kepada pengunjung yang datang langsung ke
monjali dan dilayani langsung oleh petugas yang khusus melayani pengunjung,
yaitu pemandu. Misalnya saja ada rombongan dari suatu sekolah mengadakan
kunjungan ke monjali, pemandu harus sudah siap memberikan pengarahan dan
memandu mereka mulai dari awal sampai akhir.Pemandu ini biasanya menceritakan
sejarah perjuangan bangsa Indonesia serta menjelaskan bagian per bagian dari
tiap diorama, gambar, maupun relief yang disajikan.
Selain pelayanan
di dalam monjali juga memberikan pelayanan di luar dengan tujuan mengenalkan
monjali kepada pengunjung sekaligus mempromosikan monjali agar masyarakat tahu
bahwa ada tempat yang cocok untuk rekreasi keluarga maupun untuk kepentingan
pembelajaran yaitu di monjali tersebut.Hal ini juga dimaksudkan untuk menjaga
eksistensi monjali di kalangan masyarakat agar tidak hilang dan ditinggalkan
begitu saja seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi yang semakin
pesat.Namun pelayanan di luar ini masih sangat terbatas karena terbentur
minimnya biaya yang dianggarkan. Biasanya pihak monjali hanya menyediakan
leaflet sebagai media promosi cetak dan beberapa buku yang jumlahnya sangat
terbatas. Monjali juga menyediakan jasa online dengan menggunakan web sebagai media
promosi dan pelayanan di luar monjali.
Selain kepada
pengunjung umum, monjali juga memberikan program atau layanan khusus bagi para
calon lulusan SMA maupun para mahasiswa yang ingin belajar bagaimana cara
menjadi bagian dari personalia monjali melalui Training Job. Training
Job ini pelaksanaannya tergantung adanya permintaan/permohonan dari
SMA/universitas yang mengajukan.Melalui Training Job ini mereka yang
ingin berlatih menjadi pemandu maupun bagian personalia lainnya dibimbing dan
diarahkan kepada bidang yang mereka minati. Misalnya saja mahasiswa dari
jurusan bahasa asing datang ke monjali memohon untuk dibimbing menjadi pemandu
disitu (karena di monjali sendiri tidak hanya wisatawan lokal namun juga ada
beberapa turis bahkan kunjungan dari perwakilan pemerintah luar negeri tidak
jarang datang ke monjali), mereka dengan senang hati akan memberikan pelayanan
terbaik mereka.
Dalam manajemen
sistem informasi di Monjali, selain layanan di dalam dan keluar serta program
khusus, tersedia pula pelayanan referensi.Pengunjung dapat mencari bahan
pustaka sesuai katalog yang disediaan.Namun di Monjali tidak tersedia pelayanan
sirkulasi, ini terbukti dengan tidak diperbolehkannya pengunjung meminjam bahan
pustaka.Pengunjung hanya boleh membaca di tempat perpustakaan.
2.4.3 Personalia dan
staf
Personalia dan
staff dalam organisasi sumber belajar berfungsi untuk menjalankan program dan
layanan dalam organisasi sumber belajar.Selain itu juga menajdi personil yang
melaksanakan semua tugas beradasarkan kompetensinya dalam mengorganisasikan
sumber belajar.
Sesuai dengan
pendapat Alex Nitisemito dalam Ali Muhtadi (2005) , Personalia dapat diartikan
sebagai tenaga kerja seperti buruh, karyawan, dan pegawai. Secara umum
masyarakat memaknai istilah buruh atau karyawan sebagai tenaga kerja dalam
suatu perusahaan tertentu, sedangkan istilah pegawai lebih dimaknai sebagai
tenaga kerja yang bekerja untuk pemerintah atau pegawai negeri (Alex
Nitisemito:1982).
Fungsi dari
prinsip-prinsip pengelolaan organisasi sumber belajar, baru dapat berjalan
apabila didukung oleh tanaga yang kompeten, dinamis, dan cukup jumlahnya.
Menurut Nitisemito (1982:14), sebuah organisasi sumber belajar harus dapat
melaksanakan penempatan pegawai secara baik sesuai dengan ungkapan yang
terkenal yaitu : “The right man in the right place” atau “Orang yang tepat pada
tempat yang tepat”. Dalam UU Sisdiknas juga telah diatur ketentuan tenaga
kependidikan (personalia) tentang tenaga pendidik dan tenaga kependidikan
bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan
pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan
(Depdiknas, 2003).
Berdasarkan pada
pengertian dan tugas dari persoalia, di Monjali pun mempunyai personalia
yang ditempatkan di bagian – bagiannya. Personalia yang mendukung kegiatan dan
fungsi Monjali sebagai sumber belajar adalah sebagai berikut:
a)
Pimpinan,
kepala dan wakil kepala
Dalam
melakasanakan tugas pemimpin, kepala, dan wakil kepala menerapakan prinsip
kepemimpinan anatara lain: koordinasi, integrasi, simplifikasi dan sinkronisasi
secara vertical dan horizontal. Setiap pimpinan komponen di lingkungan Badan
Pengelolaan bertanggung jawab memimpin, memberikan teladan, dan
mengkoordinasikan tugas bawahannya dan memberikan bimbingan serta petunjuk
pelaksanaan tugas bawahannya;
b)
Bagian
Umum dan Bagian Operasional
Bagian
umum mempunyai tugas dan kewajiban mengurus dan melaksanakan segala kegiatan
dibidang umum: Tata usaha, keuangan, pemeliharaan dan rumah tangga, dan
tugas-tugas lain yang diberikan oleh pemimpin. Sedangkan bagian operasional
mempunyai tugas dan kewajiban mengurus serta melaksanakan kegiatan dibidang
operasional yaitu: museum/perpustakaan, pemanduan (bimbingan), hubungan
masyarakat dan pemasaran, keamanan serta tugas-tugas lain yang diberikan oleh
pimpinan. Bagian umum dan bagian operasional masing-masing dipimpin oleh
seorang kepala bagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung
kepada pimpinan;
c)
Tata
usaha
Urusan
tata usaha mempunyai tugas seperti: (a) menyelenggarakan surat-menyurat,
agenda, ekspedisi dan kearsipan, (b) menyelenggarakan administrasi personil dan
pembinaan personil, (c) mempersiapakan penyelenggaraan rapat-rapat dan
penerimaan tamu, (d) melaksanakan pengadaan, pengaturan, penggunaan,
penyaluran, pemeliharaan, penyimpanan dan pengamanan alat-alat tulis/kantor;
d)
Keuangan
Urusan
keuangan mempunyai tugas: (a) menyusun anggaran pendapatan dan belanja badan
pengelola, (b) mengurus belanja pegawai, (c) menyelenggarakan tata usaha
keuangan meliputi; pembukuan penerimaan dan pengeluaran, dan menyusun surat
pertanggungan jawab, (d) merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu yang
berhubungan dengan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan;
e)
Pemeliharaan
dan rumah tangga
Urusan pemeliharaan dan
rumah tangga mempunyai tugas: (a) melaksanakan perencanaan dan pembinaan
tentang cara-cara pemeliharaan dan perawatan Monumen Yogya Kembali, (b)
melaksanakan pemeliharaan dan perawatan bangunan dalam dan luar serta
bagian-bagian lainnya, (c) menyusun kebutuhan dan menyelenggarakan administrasi
peralatan dan perlengkapan, (d) menyelenggarakan urusan rumah tangga Badan
Pengelolaan Monumen Yogya Kembali, (e) melaksanakan pemeliharaan kebersihan dan
keindahan monumen, bangunan, keserasian lingkungan, tata lampu, dan tata suara
yang menarik;
f)
Keamanan
Urusan keamanan
mempunyai tugas: (a) menjaga keamanan dan ketertiban umum di lingkungan Monumen
Yogya Kembali, (b) menjaga keamanan dan ketertiban serta pengawasan terhadap
pengunjung Monumen, untuk mewujudkan “Sapta Pesona” ,(c) menjaga keamanan dan
ketertiban serta pengawasan terhadap peralatan dan perlengkapan monument,
antara lain dengan latihan “Pemadam Kebakaran”, (d) mengkoordinasikan segala
sesuatu kegiatan keamanan dan ketertiban umum dengan aparat keamanan,
pemerintah dan TNI/POLRI;
g)
Museum
dan Perpustakaan
Urusan museum dan
perpustakaan mempunyai tugas: (a) melakasanakan perencanaan dan pembinaan
terhadap perkembangan museum, diorama, relief, garbha graha, dan daftar
pahlawan, (b) melakasanakan penyelidikan, penelitian, pengamatan, dan penulisan
benda-benda sejarah, pelaku sejarah, dan peristiwa sejarah, (c) melaksanakan
kegiatan pengumpulan benda-benda sejarah perjuangan bangsa dan data peristiwa
sejarah, (d) melaksanakan administrasi benda-benda koleksi monumen-monumen sejarah
perjuangan di DIY dan data peristiwa sejarah yang meliputi upaya regristasi,
inventarisasi, katalogisasi, klaperisasi, dan labelisasi, (e) melaksanakan
upaya pemanfaatan benda-benda koleksi dan data peristiwa sejarah perjuangan
bangsa yang meliputi tata pameran yang menarik dan bimbingan;
h)
Pemanduan,
Humas, dan Pemasaran
Urusan pemanduan,
humas, dan pemasaran mempunyai tugas: (a) melaksanakan perencanaan dan
pembinaan tentang cara-cara kegiatan pemanduan/bimbingan dan penjelasan, (b)
melaksanakan kegiatan pemanduan/bimbingan dan penjelasan terhadap
kelompok-kelompok pengunjung, seperti siswa TK/SD, siswa SLTP, siswa SLTA,
mahasiswa, umum, dan pengunjung mancanegara, (c) melaksanakan kegiatan
penelitian, pencermatan, dan memberikan jawaban terhadap kesan-kesan dan
saran-saran pengunjung, (d) menghimpun, mengolah, menyusun dan menyajikan
bahan-bahan informasi yang obyektif, (e) merencanakan, menyiapkan, dan
melaksanakan kegiatan dokumentasi foto, dokumentasi film/video, dan lain-lain
milik badan pengelola, (f) melaksanakan perencanaan dan pembianaan terhadap
obyek wisata perjuangan dengan promosi berkoordinasi dengan sesame instasi
terkait melalui aneka jalur untuk meningkatkan pengunjung.
Urusan-urusan
sebagaimana tersebut diatas masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Urusan
yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Bagian.
BAB 3. PEMBAHASAN LAPORAN
3.1 Hasil Observasi di Museum Monumen Yogya
Kembali
Monumen Jogja Kembali terletak di Jalan Lingkar Utara (RIng Road Utara), di Kelurahan
Jongkang, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.Dengan posisi yang strategis ini,
Monjali bisa diakses dari manapun baik dengan kendaraan umum atau kendaraan
pribadi.
Monjali
atau Monumen Yogya Kembali merupakan ikon tempat wisata di Yogyakarta selain
Keraton Yogyakarta.Monumen ini menawarkan nuansa edukasi dan heroik. Dikatakan heroik karena di sana bisa ditemukan benda bersejarah seperti
dokar dan tandu Jendral Soedirman, jas Sultan Hamengku Buwono IX,hingga diorama
dapur umum para pejuang.Sisi edukasinya sangat cocok untuk mengenalkan langsung
para pelajar dalam mengenang jasa dan pengorbanan pahlawan terdahulu.
Monjali
mulai dibangun pada 29 Juni 1985.monumen yang sengaja dibangun untuk
memperingati perebutan kembali Kota Yogyakarta setelah Belanda kembali menjajah
Indonesia pasca 1945. Perebutan kembali Yogyakarta ke pangkuan ibu pertiwi ini
menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar berdaulat dan tidak mau dijajah.Oleh
karenanya dinamakan Monumen Jogja Kembali sebagai bentuk perebutan Yogyakarta kembali.Bangunan
Monjali merupakan bangunan yang terlihat unik.
Nah,
setelah kita melakukan penelitian ataupun observasi di monjali ini, kita
menemukan beberapa hal yang menarik di Monjali.Sehingga hal tersebut yang
menjadikan monjali cocok untuk wisata edukasi dan rekreasi. Setelah kita
memasuki komplek bangunan monumen ini, maka kita akan
menikmati taman depan serta menyaksikan aneka
replika dan bentuk lampion warna-warni yang mempunyai satu keasyikan
tersendiri. Kita juga akan disuguhkan beberapa alat perang sisa
perjuangan yang dipajang di halaman Monumen Jogja Kembali, seperti pesawat
tempur dan tank atau Meriam PSU Kaliber 60mm
buatan Rusia, sedangkan dihalaman paling depan kita bisa jumpai Replika Pesawat
Guntai dan Pesawat Cureng yang dipakai dalam peristiwa perjuangan ini. Memasuki halaman museum terdapat
dinding yang memenuhi satu sisi selatan monumen yang berisi Rana Daftar Nama
Pahlawan dimana kita bisa melihat 422 nama pahlawan yang gugur selama
perjuangan merebut kembali Kota Jogja dari
tangan Belanda di daerah Wehrkreise III antara
tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949 dan puisi 'Karawang-Bekasi'
karangan Khairil Anwar.
Monumen
Jogja Kembali Bangunan monumen yang terdiri dari tiga lantai terbagi dalam
beberapa bagian.Seluruh bangunan dikelilingi oleh kolam air dengan
4 buah jembatan di tiap sisi mata angin sehingga seolah-olah terdapat 4 kolam
di sekeliling bangunan.Sisi barat dan timur digunakan sebagai pintu masuk dan
keluar sedangkan sisi utara dan selatan digunakan untuk tangga naik ke atas
karena bangunan Monumen.
Sesampai
disana, kita juga akan diberi informasi sekilas mengenai sejarah berdirinya
monjali dan di ajak untuk menyaksikan film dokumentaris hubungannya dengan
perjuangan bangsa Indonesia. Disamping menyaksikan film dokumentaris, pemandu
wisata dari monjali akan memberikan sedikit penjelasan apa-apa yang terjadi di
film tersebut.
Di
lantai satu Monjali merupakan museum
dimana terdapat empat ruang museum yang menyajikan benda-benda koleksi berupa:
realia, replika, foto, dokumen, heraldika, berbagai jenis senjata, bentuk
evokatif dapur umum yang kesemuanya menggambarkan suasana perang kemerdekaan
1945-1949. Kita bisa melihat tandu yang digunakan untuk menggotong Panglima
Besar Jenderal Soedirman selama perang gerilya, seragam tentara dan dokar yang
juga pernah digunakan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman. Konon total
koleksi barang-barang dalam museum tersebut mencapai ribuan. Perpustakaan
menggunakan satu ruang di lantai satu yang merupakan perpustakaan khusus yang
menyediakan bahan-bahan referensi sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa
Indonesia dan dapat dimanfaatkan oleh umum.Ruang serbaguna adalah ruangan yang
terletak ditengah-tengah ruangan lantai satu lengkap dengan panggung
terbuka-nya.Setiap hari Sabtu dan Minggu diruangan ini digelar berbagai atraksi
diantaranya tarian klasik, gamelan, musik electone yang memainkan lagu-lagu
perjuangan.Ruangan Serbaguna ini bisa digunakan oleh umum untuk acara-acara
pernikahan, seminar, wisuda dan lain-lain.
Selesai
mengunjungi lantai satu, kita kemudian melanjutkan ke lantai dua dimana di lantai 2 ini bagian dinding paling luar yang
melindungi tubuh monumen, kita bisa melihat 40 buah Relief Perjuangan Phisik
dan Diplomasi perjuangan Bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945 hingga 28
Desember 1949. Pengunjung bisa melihat antara lain relief Jenderal Mayor Meyer
yang mengancam Sri Sultan HB IX pada tanggal 3 Maret 1949, Presiden dan para pemimpin
lain kembali ke Yogyakarta, pernyataan dari Sri Sultan HB IX yang menyatakan
bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta adalah bagian dari Negara Republik Indonesia,
Perayaan Kemerdekaan di halaman Kraton Ngayogyakarta dan lain-lain.
Monumen
Jogja Kembali Didalam bangunan lantai dua terdapat sepuluh diorama perjuangan
Phisik dan Diplomasi Bangsa Indonesia sejak 19 Desember 1948 hingga 17 Agustus
1949 dengan ukuran life-size melingkari bangunan monumen. Diorama diawali
dengan Agresi Militer Belanda memasuki kota Yogyakarta dalam rangka menguasai
kembali Replublik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948 dimana kita bisa
menyaksikan miniatur pesawat-pesawat Belanda yang dibuat mirip dengan asli-nya.
Disini pemandu menjelaskan kepada kita peristiwa sesungguhnya yang terjadi
dimana pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Van Langen berhasil menguasai
Lapangan Udara Maguwo (kini Adisucipto) pada pukul 08.00 dan mengadakan ‘sapu
bersih’ terhadap apa yang dijumpai sepanjang jalan menuju Kota Yogyakarta
(Jalan Solo). Kurang lebih pukul 16.00 pasukan Belanda sudah menguasai seluruh
kota Yogyakarta dan beberapa tempat-tempat penting lain seperti Istana Presiden
(Gedung Agung) dan Benteng Vredeburg. Sejak itu perjuangan merebut kembali
Negara RI dimulai.
Kesepuluh
diorama disajikan dalam kronologis waktu sehingga memudahkan kita untuk
memahami urutan kejadian yang sebenarnya. Disini kita juga semakin memahami
peran perjuangan Jenderal Soedirman yang waktu itu dengan kondisi kesehatan
sangat lemah dan paru-paru sebelah tetap memaksakan diri ikut berjuang dengan
cara gerilya walaupun Presiden Soekarno sudah memintanya untuk tinggal
bersamanya saja. Diorama ini disajikan diawal-awal. Di tengah-tengah diorama
disisipkan juga adegan yang terkenal dengan sebutan Serangan Umum 1 Maret 1949
yang dipimpin oleh Letkol Soeharto yang memiliki tujuan politik, psikologis dan
militer dimana bangsa Indonesia ingin mengambarkan pada dunia mengenai
eksistensi-nya. Berita keberhasilan SU 1 Maret 1949 tersebut berhasil
disebarluaskan melalui jaringan radio AURI dengan sandi PC-2 di Banaran,
Playen, Gunung Kidul secara beranting hingga sampai ke Burma, India dan sampai
kepada perwakilan RI di PBB. Menjelang diorama terakhir kita bisa melihat akhir
dari perjuangan panjang dan melelahkan bangsa dimana akhirnya tentara Belanda
ditarik dari Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan Sri Sultan HB IX
bertindak selaku koordinator keamanan yang mengawasi jalannya penarikan pasukan
tersebut dan diakhiri dengan adanya Persetujuan Roem-Royen pada tanggal 7 Mei
1949.
Diorama-diorama
tersebut disusun rapi dan runtun berdasarkan fakta sejarah.Dari lantai dua
terdapat tangga menuju lantai tiga.Lantai tiga merupakan ruang kosong yang
digunakan sebagai ruang perenungan untuk mengingat jasa-jasa pahlawan yang
telah berjuang untuk Indonesia.Seperti yang kita lihat bahwa terdapat titik imajiner atau sumbu imajiner yang sering disebut
dengan Poros Makrokosmos atau Sumbu Besar Kehidupan ditempat berdirinya tiang
bendera. Nah lantai tiga ini merupakan lantai paling atas dan lantai terakhir
yang kami kaji dimana setelah sampai pada lantai ini pemandu meminta kita atau
semua pengunjung untuk mendoakan para pahlawa baik yang dikenal atau yang tidak
dikenali, kemudian berlanjut dengan menyanyikan lagu padaMu Negeri serta gugur
bungan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan, karena itulah ruangann lantai
tiga juga dikenal sebagai ruangan hening. Di ruangan ini terdapat tiang bendera
yang berdiri tegak dan relief tangan di dinding langit ruangan.
Monumen
Jogja Kembali sangat tepat menjadi sarana kita untuk memahami sejarah tanpa
harus merasa digurui karena peran pemandu dalam menyampaikan setiap cerita
dalam diorama sangat menarik dan tidak menjenuhkan. Disini kita akan disegarkan
kembali ingatannya akan sejarah perjuangan bangsa dan mengetahui siapa saja
tokoh-tokoh dibalik perjuangan itu. Adapun fasilitas Monumen Yogya Kembali
dapat di jelaskan lebih rinci pada bagian berikut ini:
2.1.1 Fasilitas Monumen Yogya Kembali
1) Taman dan Sekitarnya
Seperti yang
telah dijelaskan diatas bahwa bila pengunjung masuk Monumen Yogya Kembali
melalui pintu Timur dapat diamati koleksi antara lain:
a)
Replika Pesawat Cureng , Pesawat ini
sumbangan dari KSAU Marsekal Madya Rilo Pambudi, tanggal 29 juni 1994.
b)
Meriam PSU - S60 kaliber 57 mm dan Meriam
PSU Bofors L - 60 kaliber 40 mm. Meriam ini sumbangan dari Kasad, diambil dari
Gudbalkir, Guspusgat dan optic Sidoarjo, Jawa Timur tanggal 28 April 1996.
c)
Replika Pesawat Guntai. Pesawat ini
sumbangan dari KSAU Marsekal pertama Sutria Tubagus pada tanggal 29 juli 1996.
d)
Meriam PSU - S60 kal. 57 mm dan PSU
Bofors L-60 kal. 40 mm.
e)
Daftar nama – nama 420 Pahlawan yang
gugur antara 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949 serta puisi Karawang
Bekasi-nya Chairil Anwar untuk pahlawan yang tidak diketahui namanya.
2) Koleksi Hall Lantai Satu
Lantai pertama terdiri dari:
a)
Ruang Pengelola atau Ruang Bagian
Umum
b)
Ruang Perpustakaan
c)
Ruang Serbaguna
d)
Ruang Bagian Operasional
e)
Ruang Souvenir
Hall lantai 1 ini dipamerkan koleksi antara lain :
a)
Patung Dada Panglima Besar Jenderal
Sudirman dan Letnan Jenderal Oerip Soemoharjo.
b)
Panil foto pelaksanaan Pembangunan
Monumen Jogja Kembali.
c)
Patung foto Imam Bonjol ( 1722 -
1864 ).
d)
Meriam Jugo M - 48.
e)
Meriam PSU akan Bofors.
f)
Patung Teungku Umar ( 1854 - 1899 ).
g)
Patung Tjut Nya dien ( 1850 - 1908
).
h)
Dinding Ruang Serbaguna.
i)
Dokar Tentara Pelajar
j)
Patung Nyi Ageng Serang
k)
Meriam PSU Ourlikon Kal. 20 mm
l)
Meriam Jugo M-48 kal.76 mm
m)
Panil Dinding foto kegiatan Tentara
Pelajar
3) Koleksi Museum
Ruang museum yang merupakan ruang pamer tetap dengan
tema “Seputar Pelaksanaan Serangan Umum 1 Maret 1949”.
a)
Evokatif Dapur Umum
b)
Evokatif Palang Merah Indonesia
c)
Peta Timbul Route Konsolidasi
Kompenggunan WK III
d)
Peta Timbul Pembagian Wilayah
Wehrkreis III
e)
Alat Cetak Proef
f)
Unit Caraka
g)
Seperangkat Meja Kursi Tamu
h)
Peta Timbul Serangan Umum 1 Maret
1949
i)
Potret Diri Para Kompenggunan Sub
Wehrkreis III
j)
Seperangkat Meja Kursi
k)
Vitrin Sudut
l)
Dinding Ruang Museum Sebelah Utara
m)
Meja Kerja Sri Sulta Hamengkubuwono
IX
n)
Meja Kerja Sri Paduka Paku Alam VIII
o)
Bagan Susunan Pemerintahan
Ruang museum
yang merupakan ruang pamer tetap dengan tema “Yogya Sebagai Ibukota Negara
Republik Indonesia”
a)
Patung Dada Ir. Soekarno
b)
Patung Dada drs. Moh. Hatta
c)
Teks Proklamasi
d)
Foto Dokumen kegiatan Presiden dan
Wakil Presiden di Yogyakarta
e)
Tempat tidur Presiden Soekarno
f)
Foto Dokumen kegiatan Presiden
Bersama Keluarga dan Wakil Presiden di Yogyakarta
g)
Patung Dada Ki Hadjar
DewantaraPatung Dada Kyai Haji Mas Mansyur
h)
Peta Timbul Wilayah RIS
i)
Meja Dan Kursi Tamu Wakil Presiden
Moh. Hatta
j)
Potret Diri Tokoh Pimpinan Republic
Indonesia
k)
Kursi Kerja Komite Nasional
Indonesia Daerah
l)
Foto Dokumen Kegiatan KNID Dan KNIP
4)Koleksi
Relief
Di lantai II pada lapik luar pagar langkan yang
mengelilingi tubuh Monumen dipaparkan 40 epiode relief yang menggambarkan
perjuangan fisik, diplomasi bangsa Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus 1945 hingga tanggal 28 Desember 1949 ketika Presiden Soekarno akan
meninggalkan kota Yogyakarta.
a)
Relief 01, Proklamasi Kemerdekaan
Republic Indonesia 17 Agustus 1945 Di Pegangsaan Timur No.56 Jakarta
b)
Relief 02, Gema Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia Di Yogyakarta 05 September 1945
c)
Relief 03, Pertempuran Kota Baru 07
Oktober 1945 Di Butai Kotabaru Yogyakarta
d)
Relief 04, Kongres Pemuda Dib Alai
Mataram Yogyakarta 10 November 1945
e)
Relief 05, Pemilihan Panglima Besar
TKR Di Yogyakarta 12 November 1945
f)
Relief 06, Serangan Udara Sekutu Di
Kota Yogyakarta 27 September 1945
g)
Relief 07, Yogyakarta Menjadi Ibu
Kota Republic Indonesia 04 Januari 1946
h)
Relief 08, Berdirinya Balai
Perguruan Tinggi Gajah Mada Di Yogyakarta 03 Maret 1946
i)
Relief 09, Pengawalan Dan
Pengangkutan Tawanan Jepang Di Yogyakarta 29 April 1946
j)
Relief 10, Peringatan Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia Yang Pertama Di Yogyakarta 17 Agustus 1946
k)
Relief 11, Hari Ulang Tahun Pertama
Angkatan Perang Republic Indonesia Di Yogyakarta 05 Oktober 1946
l)
Relief 12, Peringatan 6 Bulan
Berdirinya Militer Akademi Yogyakarta 05 Oktober 1946
m)
Relief 13, Perjanjian Linggar Jati
15 November 1947
n)
Relief 14, Pelantikan Pucuk Pimpinan
TNI 28 Juni 1947
o)
Relief 15, Persiapan Serangan Balas
Angkatan Udara Republic Indonesia 29 Juli 1947
p)
Relief 16, Kapal Selam Yang Pertama
Di Indonesia Juli 1947
q)
Relief 17, Notulen Kaliurang 13
Januari 1948
r)
Relief 18, Penpenggunatanganan
Perjanjian Renvile, 17 Januari 1948
s)
Relief 19, Pasukan Hijrah Tiba Di
Yogyakarta Februari 1948
t)
Relief 20, Bantuan Obat-Obatan Dari
Mesir 05 Maret 1948, dst.
5. Koleksi Diorama
Di dalam bangunan tepatnya dilantai II, disajikan10
episode dengan ukuran life size yang menggambarkan perjuangan fisik diplomasi
bangsa Indonesia sejak Agresi Militer Belanda kedua tanggal 19 Desember 1948,
Serangan Umum 1 Maret, Perjanjian Roem Royen hingga Peringatan Proklamasi
keempat tanggal 17 Agustus 1949 di Gedung Agung Yogyakarta.
a)
Diorama 1, Penyerbuan Tentara Belanda Belanda Terhadap
Lapangan Terbang Maguwo, 19 Desember 1948
b)
Diorama 2, Panglima Besar Soedirman
Melapor Kepada Presiden RI Untuk Memimpin Perang Gerilya, 19 Desember 1948
c)
Diorama 3, Presiden, Wakil Presiden dan Para Pemimpin lainnya Diasingkan ke Sumatra,
22 Desember 1948
d)
Diorama 4, Perlawanan Rakyat bersama Tentara Nasional Indonesia terhadap Belanda, 23
Desember 1948
e)
Diorama 5, Konsolidasi dan Pembentukan Sektor Pertahanan di Ngoto, 23 Desember 1948
f)
Diorama 6, Serangan Umum 1 Maret
1949
g)
Diorama 7, Penandatanganan Roem-Royem Statement, 29 Juni 1949
h)
Diorama 8, Penarikan Tentara Belanda Dari Yogyakarta, 17
Agustus 1949
i)
Diorama 9, Panglima Besar
Jenderal Soedirman Tiba Kembali di Yogyakarta, 10 Juli 1949
j)
Diorama 10, Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Yogyakarta 17 Agustus 1949
6. Ruangan Garbha Graha
a)
Unit Bendera Pusaka
b)
Unit Relief Simbolik
c)
Unit Kata Mutiara (Pesan Pelaku
Pejuang)
Lantai teratas merupakan tempat
hening berbentuk lingkaran, dilengkapi dengan tiang bendera yang dipasangi
bendera merah putih di tengah ruangan.Unit Kata Mutiara (Pesan Pelaku Pejuang)
relief gambar tangan yang menggambarkan perjuangan fisik pada dinding barat dan
perjuangan diplomasi pada dinding timur.Ruangan bernama Garbha Graha itu
berfungsi sebagai tempat mendoakan para pahlawan dan merenungi perjuangan
mereka.
3.2 Faktor Penarik Monumen Jogja Kembali
Sebagai Daerah Tujuan Wisata
3.2.1 Letak
Strategis
Jalan Lingkar Utara, Dusun Jongkang,
Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Keberadaan
Monumen Jogja Kembali ini terbilang mudah aksesnya. Tambah lagi jika akan
dijangkau dengan menggunakan kendaraan yang bentuknya relatif besar seperti bus
pariwisata. Tidak akan sulit untuk mencari jalan menuju ke tempat tersebut.
Letaknya berada di jalur ring road utara Yogyakarta, jalan tersebut sering kali
menjadi jalan yang digunakan.Kondisi jalan yang baik, berakibat jalan tersebut
menjadi jalan alternatif. Trans Jogja juga memudahkan para wisatawan yang
menginginkan berkunjung ke Monumen Jogja Kembali. Tepat berada di depan Monumen
ada halte trans Jogja.
3.2.2 Harga Tiket Masuk Terjangkau
Rp 7.500,00 harga yang sangat
terjangkau bukan, bahkan tempat ini sering menjadi pilihan sekolah tingkat TK
sebagai tujuan wisata.Tidak mencapai seratus ribu rupiah bisa mendapatkan ilmu
pengetahuan terkait kepahlawan serta dapat merasakan rekreasi.
3.2.3 Bentuk Bangunan Monumen Unik
Bentuk
kerucut yang tinggi membuat para pengguna jalan yang melintasi ring road utara
penasaran untuk mengunjunginya. Sekilas apabila melihat maka banyak pertanyaan
yang akan tersirat dalam benak wisatawan sehingga akan minat untuk mengunjungi.
3.2.4 Nilai Sejarah
Esensi dari Monumen Jogja Kembali
sangatlah baik, untuk dikenalkan kepada generasi muda.Nilai-nilai sejarah yang
termuat sangat memberi manfaat bagi penanaman nilai-nilai budaya yang dimiliki
bangsa Indonesia.Bahkan dari temapat tersebut dapat kita temui ilmu-ilmu baru
yang bisa dijadikan sebagai bahan penelitian.
Monumen Jogja Kembali, di dalamnya
juga terdapat terdapat struktur organisasi yang menjalankan serta mengaturnya.
Masing- masing anggota tersebut menjalankan fungsinya sesuai dengan jabatan
yang dimiliki, misalnya petugas kebersihan bertugas menciptakan keindahan dan
bertanggung jawab terhadap kebersihan sekitar Monumen, penjaga monumen bertugas
menjaga keamanan dan kenyamanan wisatawan, penjaga loket bertugas melayani
pengunjung dalam pembelian tiket dan lain sebagainya. Untuk saat ini cukup baik
kinerja dari strukturnya, namun harus tetap ditingkatkan agar dapat menarik
para pengunjung berwisata ke tempat tersebut.Pengawasan yang cukup ketat
harusnya diberikan oleh pimpinan ke bawahannya agar mereka dapat bekerja dengan
baik.Peran pemerintah juga diperlukan mengingat, Monumen Jogja Kembali juga
membutuhkan perawatan menjaga keindahnnya.
3.3 Fungsi Obyek Pariwisata
Monumen Yogja Kembali
Sebagai
bagian dari pariwisata kota Yogyakarta, Monumen Jogja Kembali atau yang lebih
sering disebut monjali memiliki daya tarik bagi wisatawan lokal maupun
interlokal, ini dikarenakan ada sesuatu yang menarik di Monjali, banyak hal
yanag didapat dari monjali, selain tempat rekreasi juga merupakan tempat
pembelajaran mengenai sejarah bangsa Indonesia dan Yogyakarta. Tentu ini
merupakan tempat wisata yang sangan representatif bagi keluarga, karena bisa
mengenalkan sejarah kepada anak-anaknya.
Adapun
pariwisata monjali memiliki beberapa fungsi yang dimilikinya, antara lain:
a)
Rekreasi, Monumen Jogja Kembali
menyediakan sarana permainan yang dapat menjadi sarana rekreasi bagi keluarga
yang ingin menghabiskan waktu liburan bersama keluarga, karena didalam Monumen
Jogja Kembali di sediakan wahana permainan, seperti perahu air dan sebagainya.
b)
Pengenalan sejarah dan budaya, sudah
sepantasnya pariwisata Monumen Jogja Kembali menyediakan sarana dan prasarana
untuk memberikan informasi mengenai sejarah dan kebudayaan yang ada di
Indonesia khusunya di yogyakarta, karena hal yang paling pokok pada Monumen
Jogja Kembali adalah pengenalan sejarah Indonesia saat berada di Yogyakarta.
Lebih dalam lagi, Monumen Jogja Kembali juga menyediakan diorama dan foto-foto
bersejarah yang akan menambah daya tarik dalam mempelajari sejarah bangsa.
c)
Penanaman karakter (character
building), selain menjadi pengenalan sejarah dan budaya, Monumen
Jogja Kembali juga dapat berfungsi sebagai penanaman karakter pada setiap
pengunjung, penanaman karakter ini dilakukan melalui media-media sejarah yang
di sediakan oleh pengelola Monumen Jogja Kembali. Keterangan yang kami ambil,
bahwa setiap pengunjung yang datang ke Monumen Jogja Kembali diharapkan mampu
untuk mengambil pelajaran dari setiap peristiwa sejarah yang pernah terjadi,
agar tindakan yang dilakukan oleh para pejuang dalam memperoleh dan
mempertahankan kemerdekaan dapat di tiru dan di aplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Lebih lanjut, pejabat yang melakukan tindakan korupsi seharusnya
datang ke Monumen Jogja Kembali dan mengambil pelajaran dari situ agar
menyadari bahwa tindakan yang di lakukannya salah dan merupakan tindakan yang
menciderai hati para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk
kemerdekaan bangsa ini.
Dengan fungsi-fungsi tersebut, maka
wisata Monumen Jogja Kembali yang ada di kota yogyakarta sangatlah mendukung
dalam pengenalan sejarah dan membangun karakter warga negara agar lebih baik
dan lebih mencintai negara dan menghargai jasa para pahlawan.
3.4Dampak
Sosial-Budaya, Sosial-Ekonomi Monumen Yogja Kembali
Keberadaan Monumen Yogja Kembali menimbulkan adanya dampak positif dan
dampak negatif meliputi dampak sosial-ekonomi dan sosial-budaya bagi masyarakat
dan lingkungan sekitarnya diantaranya adalah:
3.4.1 Dampak Sosial-Ekonomi
a)
Dengan berdirinya Monumen Jogja
Kembali membawa dampak positif bagi masyarakat sekitarnya berupa mata
pencaharian misalnya sebagai satpam, petugas karcis, petugas kebersihan, dan
berjualan di sekitar kawasan Monumen Jogja Kembali sehingga memberikan
pendapatan bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya terhadap Monumen Jogja
Kembali.
b)
Dalam aspek ekonomi Monumen Jogja
Kembali memberikan dampak bagi kota Yogjakarta yaitu menambah pendapatan daerah
dari hasil penjualan karcis sehingga bisa menambah kas dan pemasukan daerah.
c)
Monumen Jogja Kembali bisa menjadi
suatu icon tempat pariwisata yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk
berkunjung ke kota Jogja sehingga dari segi ekonomi akan menguntungkan bagi
kota Yogyakarta itu sendiri.
d)
Berdirinya Monumen Jogja Kembali
menjadi salah satu bukti berhasilnya pembangunan di kota Yogyakarta.
e)
Ada dampak negatif dari berdirinya
Monumen Jogja Kembali dari segi ekonomi adalah menambahnya anggaran pemerintah
daerah untuk perawatan dan pemeliharaan Monumen Jogja Kembali.
Sedangkan dampak pasar di sebelah
barat Monumen Jogja Kembali sebagai berikut:
a. Dampak
Positif Pasar Monjali
1)
Meningkatkan perekonomian
Pedagang pasar Monjali memiliki karakteristik umur
antara 20 hingga 49 tahun. Peluang sebagai pedagang kaki lima dimanfaatkan
dengan kejelian mereka meraih pendapatan dengan memanfaatkan pengunjung yang
datang di Monjali pada saat tertentu seperti Hari libur nasional, liburan
sekolah serta Hari Minggu. Pedagang kaki lima yang memiliki usaha berdagang
sebagai mata pencaharian guna memperoleh pendapatan sebagian mereka juga
memiliki sumber pendapatan lain di luar kegiatan berdagang di Monjali.
Dikemukakan bahwa usaha sebagai pedagang kaki lima merupakan mata pencaharian
pokok dan sebagaian ada yang menganggap sebagai pekerjaan sampingan.
2) Membuka
lapangan pekerjaan
Alasan pedagang kaki lima melakukan kegiatan berdagang
hanya pada saat tertentu adalah memanfaatkan kesempatan banyaknya pengunjung di
Monjali pada saat tersebut apabila mereka menggelar dagangannya diluar saat
tersebut akan kesulitan menjual barang dagangannya karena sepi pembeli.
Pedagang kaki lima memanfaatkan lokasi wisata Monjali sebagai tempat memperoleh
pendapatan karena melihat kesempatan yang tersedia saat itu yakni banyaknya
pengunjung sehingga muncul gagasan untuk berdagang di Monjali.
3) Menambah
asset daerah atau Monjali (khususnya)
Dengan adanya pasar menambah penghasilan atau anggaran
masuk ke pengelola Monjali.Lapak-lapak atau tempat pedagang tidak gratis tetapi
menggunakan system sewa dengan harga yang tidak murah pula.Pasar monjali
memberikan banyak keuntungan bagi pengelola Monjali selain membuka lapangan
kerja.Pekerja pun merasa senang dengan adanya pasar tersebut karena akses
mendapatkan akses makanan lebih cepat.
4)
Mempermudah akses pengunjung mencari oleh-oleh
Menurut jenis barang dagangan yang diusahakan memiliki
variasi mulai dari jenis makanan, minuman, mainan dan assesories, barang kerajinan
serta pakaian.Pengunjung menjadi lebih mudah memilih aneka barang dagangan
karena lokasinya yang terbuka.Pengunjung memiliki akses cepat karena lokasinya
tidak jauh pula dari Monumennya selain itu banyak pilihan pula yang
ditawarkan.Mengenai harga memang jauh lebih mahal dari harga biasanya karena
memang lokasinya di tempat wisata.Penjual pun ingin mencari laba yang
setingi-tingginya karena memang hanya hari-hari tertentu yang ramai.
b. Dampak
Negatif Pasar Monjali
1) Membuat
lingkungan kotor
Bukanya pasar di Monjali memang selain berdampak
positif memunculkan pula dampak negative.Pasar Monjali mengubah lingkungan
menjadi tidak tertata atau tampak terlihat kumuh karena lapak-lapak pedagang
yang tidak tertata rapi.Selain itu sampah yang dibuang para pengunjung dan
pedagang pun sembarangan sehingga memperburuk keindahan dan kenyamanan Monjali
sendiri.
2) Menganggu
kenyamanan pengunjung
Sebagian para pengunjung banyak yang berpendapat bahwa
dengan adanya pasar di Monjali justru mengganggu kenyamanan mereka selama
berwisata.Keindahan Monjali pun sedikit terganggu karena pemandangan
lapak-lapak yang kurang tertata rapi. Selain itu para orang tua sedikit
mengeluh karena dengan banyaknya pedagang yang berjualan maka anak-anak mereka
akan merogoh kantong semakin dalam akibat banyaknya penjual yang menawarkan
dagangannya karena kita tahu sendiri pengunjung Monjali kebanyakan adalah
anak-anak.
3) Peluang
terjadinya kriminalitas
Meningkatnya potensi kejahatan seperti pencopetan,
penjabretan, dan sebagainya tidak lepas pula terjadi di Monjali.Keramaian
pengunjung dimanfaatkan oleh mereka untuk mengais rejeki.Kurangnya penjagaan
yang di lakukan oleh satpam dan aparat sejenisnya membuat orang-orang luar
mudah untuk keluar masuk.Sehingga potensi tindak kejahatan semakin besar.
Selain itu tidak jarang pula bedagang yang sampai tidur dan menginap di lapak
bahkan banyak pula yang kadang mabuk-mabukan di lapak mereka karena mereka
merasa telah membeli atau menyewanya sehingga bebas berbuat apapun di sana.
3.4 2. Dampak
Sosial-Budaya
1)
Berdirinya Monumen Jogja Kembali
menjadi sarana baru dalam dunia pendidikan yaitu sebagai tempat belajar para
pelajar maupun mahasiswa dalam menuntut ilmu tentang sejarah bangsa kita.
2)
Dengan adanya Monumen Jogja Kembali
dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan kecintaan bagi masyarakat terhadap
negaranya sendiri yaitu Indonesia.
3)
Monumen Jogja Kembali merupakan
salah satu simbol kebudayaan di kota Yogyakarta dilihat dari nilai
historicalnya, misalnya dari bangunan yang membentuk kerucut menyerupai gunung.
4)
Monumen Jogja Kembali menjadi satu
warisan budaya yang menjunjung tinggi kearifan lokal dan nilai – nilai luhur
sejarah bangsa kita dalam memperjuangkan kemerdekaan dan Monumen Jogja Kembali
berfungsi sebagai bukti yang mampu menceritakan kembali seiring dengan
berjalannya waktu yang terus berlalu meninggalkan masalalu.
DAFTAR PUSTAKA
Utami, Sri. 2000. Buku Petunjuk Koleksi Monumen Yogya
Kembali. Yogyakarta: Badan Pengelola Monumen Yogya Kembali
http://kuliah-e-learning.blogspot.co.id/2012/06/museum-monjali-sebagai-sumber-belajar.html [Diakses pada 22 November 2015]
LAMPIRAN:
A.
Identitas
Narasumber
Nama : Gunadi (Historical
Struggle Guide)
Alamat : Badran JT
1/766 Yogyakarta, Telp (0274) 549056.
Nomor Hp : 082329244665
B. Waktu dan Tempat Observasi
Hari/Tanggal : Sabtu/14 November 2015
Tempat : Monumen Yogya Kembali.
Jl. Ring Road Utara Yogyakarta, Telp
(0274) 868225
C. Hasil Wawancara
1)
Bagaimana latar belakang
dibangunnya monjali?
Jawab:
Pembangunan dari monumen ini dilakukan untuk mengenang
suatu kejadian dan peringatan ditarik mundurnya tentara belanda dari ibukota yang
saat itu berada di Yogyakarta pada tanggal 29 juni 1949. Selain itu pembangunan monumen juga atas
usulan dari Kolonel Soegiarto walikotamadya Yogyakarta, dan peringatan yogya
kembali di selenggarakan pada tanggal 20 juni 1983. Dan monumen ini mulai dibangun
pada tanggal 29 juni tahun 1985;
2)
Mengapa bentuk dari monumen
berbentuk kerucut. Berbeda dengan monumen seperti biasanya ?
Jawab:
Iya, Monumen ini memeng berbentuk kerucut ataau layaknya
seperti gunung dengan ketinggian 31, 80 dan ini merupakan sebuah gambaran kecil
gunung yang ditempatkan disebuah lereng gunung merapi. Gunung Merapi ini sangat
berarti bagi Yogyakarta baik secara faktual maupun simbolik. Muntahan lava
Gunung Merapi memberikan kesuburan bagi daerah Yogyakarta dan sekitarnya, sementara
itu konturnya di langit selalu menghias Cakrawala Yogyakarla dimanapun
seseorang berada, dari Gunung Merapi pula Sungai Winongo dan Code yang mengalir
melalui Kota Yogyakarta.
Secara simbolik bersama laut selatan ( Istana Ratu Kidul
) yang berfungsi sebagai "Yoni" dan Gunung Merapi sebagai
"Lingga" merupakan suatu kepercayaan yang sangat tua dan berlaku
sepanjang masa. Bahkan sementara orang menyebut Monumen Yogya Kembali sebagai
tumpeng raksasa bertutup warna putih mengkilat, dalam tradisi Jawa tumpeng seolah-olah
sebagai bentuk gunung yang dapat dihubungkan denoan kakayon atau gunungan dalam
wayang kulit, yang melambangkan kebahagiaan I kekayaan kesucian dan sebagai
penutup setiap episode Perjuangan Bangsa. gunungan dalam wayang kulit, yang
melambangkan kebahagiaan I kekayaan kesucian dan sebagai penutup setiap episode
Perjuangan Bangsa;
3)
Dimana letak dari monumen
Monjali ?
Jawab:
Monumen Yogya Kembali atau Monjali Ini terletak di Jalan Lingkar Utara, Dusun
Jongkang, Desa Sarihafio, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Didirikan diatas lahan seluas 49.920 m2. Lokasi ini ditetapkan oleh Sri Sultan
Hamengku Buwuno IX dengan alternatif diantaranya terletak di garis poros antara
Gunung Merapi - Monumen Yogya Kembali - Tugu Pal Putih - Kraton - Panggung
Krapyak - Laut Selatan merupakan "Sumbu Imajiner" yang pada
kenyataannya sampai sekarang masih dihormati oleh masyarakat Yogyakarta, dan
menurut kepercayaan bersatunya Lingga dan Yoni akan menimbulkan kemakmuran di
tempat ini sebagai batas akhir ditariknya mundur Tentara Belanda ke arah Utara;
Usaha kesinambungan tata kota kegiatan dan keserasian Daerah Yogyakarta.
4)
Selain dari sejarahnya yang
panjang dari monumen ini, Apa tujuan dari dibangunnya monumen Yogya kembali ?
Jawab:
tujuan pembangunan
Monumen Yogya Kembali adalah sebagai berikut :
a.
Mengabadikan peristiwa kembalinya Ibukota Yogyakartaka tangan bangsa
Indonesia. Perjuangan tersebut tidak melalui jalan yang mudah, tetapi dengan
berbagai cara baik bersenjata, diplomasi maupun perang urat saraf dan sebagainya;
b.
Memperingati kembalinya Ibukota RI Yogyakarta ke tangan bangsa Indonesia
sekaligus berakhirnya penjajahan kolonialis Belanda di Indonesia;
c.
Merupakan ungkapan penghargaan dan rasa terima kasih kepada para Pahlawan
yang telah mengorbankan jiwanya dalam merebut kernbali Yogyakarta sebagai
Ibukota Republik Indonesia;
d.
Mewariskan dan melestarikan jiwa, semangat nilai-nilai luhur perjuangan
bangsa Indonesia kepada generasi penerus, sebagai wahana pendidikan mempertebal
identitas dan watak bangsa Indonesia yang patriotik, luhur, harga diri, ulet dan tabah menderita dalam
memperjuangkan cita-cita bangsa;
b)
Selain itu tujuan dibangunnya monumen ini Sebagai bangunan monumental
diharapkan Monumen Yogya Kembali dapat digunakan sebagai sarana Rekreasi,
Sarana Pendidikan dan penelitian akan kronik sejarah perjuangan bangsa atau
perjnlanan Sejarah perjuangan bangsa. Secara nyata akan bisa dilihat, dirasakan dan diresapi oleh generasi
penerus dengan demikian pada gilirannya rasa nasionalisme. Kecintaan akan tanah airr dan Sejarah perjuangan
bangsanya tidak akan larut oleh situasi dan arus globalisasi;
Selain
dijadikan sebuah monumen akan kejadian yang mengantarkan perjuangan di daerah
Yogyakarta. Monumen ini juga dapat dijadikan sebagai objek wisata dimana selain
melakukan kegiatan wisata dapat pula melihat sejarah yang ada disekitar dengan
mengunjungi Monumen tersebut. Dapat dikatakan bahwa tempat ini memiliki dua
tujuan sekaligus yaitu sebagai tempat yang bersejarah dan tempat ini juga bisa digunakan untuk
melakukan kegiatan rekeasi atau wsata bersama keluarga maupun perseorangan.
5)
Bagaimana gambaaran umum dari
taman sekitar dari Monumen Yogya Kembali?
Jawab:
Bila pengunjung masuk Monumen Yogya
Kembali melalui Pintu Timur dapat diamati, koleksinya antara lain :
a)
Replika Pesawat Cureng terletak di taman bermain sebclah Utara portirtimur.
Pesawat ini sumbangan dari KSAU Marsekal Rilo Pambudi, tanggal 29 Juni 1994.
Jenis pesawat latih yang digunakan AURI selama Perang Kemerdekaan diantaranya
dipergunakan untuk serangan balas kedudukan tentara Belanda di kota Salatiga,
Ambarawa pada tanggal 29 Juli 1947 dengan pilot Bapak Suharnoko Harbani dan
Cadet Soetardjo Sigit;
b)
Meriam PSU - S60 kaliber 57 mm dan Meriam PSU BoforsL-60 kaliber40mm.
Pengunjung naik trap menuju Plaza, di sudut Plaza Timur ini dipamerkan sepucuk
senjata Meriam PSU - S60, buatan Rusia dan disamping utara diparnerkan pula sepucuk Meriam PSU Bofors L-60 sebagai
penghias taman. Meriam ini sumbangan dari KASAD, diambil dari Gudbalkir,
Guspusgat dan Optik Sidoarjo, Jawa Timur tanggal 28 April 1996;
c)
Bila pengunjung masuk melalui Pintu Portir Barat dapat diamati koleksi antara
lain: Replika Pesawat Guntai yang terletak di taman sebelah area parkir.
Pesawat ini sumbangan dari KSAU Marsekal Madya Sutriya Tubagus pada tanggal 29
Juli 1996, jenis pesawat ini dipakai oleh AURI selama perang kemerdekaan,
diantaranya : Untuk melaksanakan serangan balas kedudukan Belanda di kota
Semarang tanggal 29 Juli 1947 yang terkenal dengan Serangan Tiga ( 3 ) kota;
d)
Meriam PSU - S 60 Kaliber 57 mm dan PSU Bofors L-60 Kaliber40mm. Pengunjung
Monumen Yogya Kembali naik trap menuju Plaza, sebagaimana di sudut Plaza Timur,
di sudut Plaza Barat ini sama dipamerkan sepucuk Meriam PSU - S60 Kaliber 57 mm
dan di taman Plaza Barat juga dipamerkan sepucuk Meriam PSU Bofors L-60 Kaliber
40 mm;
e)
Logo/ Lambang;
f)
Di tengah Plaza berdiri tiang bendera merah-putih sebagai tanda bahwa plaza
ini berfungsi sebagai tempat Upacara, juga berfungsi untuk menikmati
pemandangan Monumen Yogya Kembali dengan latar belakang Gunung Merapi;
g)
Sebagai pembatas Plaza dan halaman dalam, dibangun dinding rana yang
memanjang dari timur ke barat, tinggi 3 meter dan panjang 60 meter di tengah-
tengah dinding rana bagian luar ini dipasang logo atau lambang Monumen Yogya
Kembali yang berbentuk lingkaran dengan garis silang yang membelah dan dihiasi
dengan ornamen gapuro berjumlah empat. Logo atau lambang tersebut dibaca;
h)
Gapuro Papat Ambuka Jagad yang ditulis dengan huruf Jawa, hal ini merupakan
surya sengkalan yang dapat diartikan sebagai angka tahun terjadinya peristiwa
Yogya Kembali;
i)
Gapuro = 9, Papat =4, Ambuko = 9, Jagad = 1 membacanya terbalik sehingga
menjadi tahun masehi 1949;
j)
Daftar Nama - nama Pahlawan
Pengunjung turun trap menuju halaman dalam melalui sebelah barat dinding
rana, pada dinding rana yang menghadap ke arah utara ke arah bangunan induk
dipahatkan dengan tinta emas nama para Pahlawan yang gugur di Daerah Wehrkreis
Ill antara tanggal 19 Desember 1948 sampai dengan tanggal 28 Juni 1949,
sejumlah 422 nama pahlawan, terdiri dari : Angkatan Darat 168 orang; Angkatan
Laut 3 orang; Angkatan Udara 42 orang; Polisi Negara 32 orang; Cadet Militer
akademi 8 orang; Pelajar Pejuang yang tergabung dalam TNI Brigade XVII/TP 37
orang; PNS 10 orang dan Gerilyawan / Rakyat Pejuang 122 orang, sedangkan untuk
pahlawan yang tidak dikenal disediakan satu bidang khusus di tengah-tengah rana
dengan dituliskan kalimat "Pahlawan tidak dikenal " dan dibawahnya
dikutip Syair Chairil Anwar berjudul " Kerawang - Bekasi ".
Sudah
terlihat menarik apa yang ada disekitar bangunan monumen tersebut mulai dari
peninggalan-peninggalan senjata saat pertempuran perebutan ibukota pada saat
itu. Selain itu, taman di area monumen ini dihias dengan bermacam-macam lampion
dimana memperindah tempat ini dan menunjang sebagai objek wisata.
6) Bagaiman promosi yang dilakukan pihak musium untuk menarik penggunjung ?
Jawab:
Dari pihak museum sendiri melakukan promosi melalui
sekolah dengan mengundang untuk mendatangi monumen tersebut, selain itu
menggunakan poster, pamlet dan sebagainya, selain itu juga menggunakan promosi
mandiri artinya promosi dari mulut ke mulut;
7) Bagaimana pengelolahan dari museum Monumen Yogya Kembali?
Jawab:
Karena ini merupakan museum yang berdiri dibawah yayasan
bukan dari pemerintah, jadi dalam pengelolahannnya mandiri dari pihak-pihak
museum itu sendiri. Dan melakukan pengelolahan secara berkala.
8) Untuk pengelolahannya merupakan dari pihak museum sendiri, bagaimana
memperoleh dana untuk penembangan museum tersebut ?
Jawab:
Dalam hal ini kami memperoleh dana dari pengunjung yang
datang ke museum tersebut, untuk perseorangan dikenakan biaya Rp.10.000 sedangakan
untuk pengunjng lebih dari 30 orang kami kenakan diskon gratis 1 orang seperti
itu;
9) Bagaimana waktu kunjungan yang ada di musium monumen Yogya kembali?
Jawab:
Monumen Yogya Kembali dibuka setiap hari selasa sampai
minggu dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore . sedangkan untuk masa liburan hari
senen dibuka mulai jam 8 sampai jam 2 siang. Namun untuk taman yang berhiaskan
lampion kami buka sampai malam sekitar jam 11 malam karena disana merupakan
taman hibuaran yang praktis untuk kelurga dimalam hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar