Tradisi Adat
Pernikahan Masyarakat dalam Suku Madura
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama
oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya bersifat kompleks, abstrak,
luas dan terbentuk dari berbagai unsur misalnya agama, politik, adat, istiadat,
bahasa, pakaian, dan karya seni. Sedangkan kebudayaan diartikan sebagai sesuatu
yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia kemudian mewujudkan suatu hasil
ciptaan misalnya berupa pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi
sosial, religi, seni, dan lain-lain yang kesemuanya untuk membantu manusia
dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Di
Indonesia banyak memiliki kebudayaan yang beragam seiring dengan beragamnya
etnis-etnis yang ada, missal etnis Madura yang memiliki adat yang khas dalam
kehidupan masyarakatnya. Hal itu menunjukkan bahwa budaya dalam suatu
masyarakat menunjukkan suatu cerminan jati diri dari kearifan lokal yang ada di
Madura.
Tradisi
budaya yang ada di lingkup kepulauan Madura sebenarnya sangat beragam
bentuknya, dan salah satunya yaitu adat pernikahan dalam masyarakat Madura yang
memiliki ciri khas dan unik sehingga sangat menarik sekali untuk dibahas
sebagai kajian hasil pengamatan dari adat pernikahan suku Madura.
BAB
2. PEMBAHASAN
2.1 Kehidupan Masyarakat Suku Madura
Madura
merupakan sebuah pulau yang letaknya berada di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau
Madura luasnya kurang lebih 5.168 km2 (lebih kecil daripada
pulau Bali), dengan
penduduk hampir 4 juta jiwa.
Terdapat empat kabupaten yang terletak di pulau Madura yaitu Bangkalan,
Sampang, Pamekasan, dan Sumenep (https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Madura).
Kondisi
geografis Madura yaitu merupakan daratan tanpa gunung berapi namun terbentuk
dari pegunungan kapur yang meiliki curah hujan berbeda-beda disetiap wilayahnya
sehingga mengakibatkan tanahnya menjadi kurang subur untuk lahan pertanian.
Pulau Madura didiami oleh suku Madura yang merupakan
suku dengan populasi besar yang ada di Indonesia. Mereka penempati pulau Madura
dan pulau-pulau kecil yang ada disekitarnya. Mayoritas dari masyarakat Madura
sebagai pemeluk agama Islam.
Orang-orang
Madura juga tinggal diluar pulau Madura lainnya, atau dengan kata lain menyebar
diberbagai wilayah, baik dalam rangka merantau untuk bekerja maupun untuk
menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Suku Madura pada dasarnya adalah orang-orang
yang memiliki etos kerja yang tinggi, ramah, giat bekerja dan ulet selain
disebabkan dengan kondisi wilayahnya yang kurang baik untuk bertani.
Keberadaannya dapat kita temui di Pulau Madura sendiri, ujung Timur Pulau Jawa
atau dikawasan daerah tapal kuda, Kalimantan dan bahkan daerah pulau lainnya.
Suku Madura juga dikenal sebagai salah satu suku yang
memiliki karakter yang sangat kuat baik dari sisi bahasa, kesenian, teknologi
dan unsure kebuadayaan lainnya. Umumnya mereka juga memiliki gaya bicara yang
blak-blakan dan logat yang kental. Bahasa Madura merupakan anak cabang dari
bahasa Austronesia ranting Malayo-Polinesia, sehingga mempunyai kesamaan dengan
bahasa- bahasa daerah lainnya di Indonesia.
Bahasa yang digunakan oleh suku Madura tidak lain
adalah bahasa Madura dengan dialeknya sendiri. Perlu diketahui bahwa di
tiap-tiap kabupaten yang ada di pulau Madura memiliki dialek bahasa Madura yang
berbeda seperti (1) dialek Bangkalan, (2) dialek Sampang, (3) dialek Pamekasan,
dan (4) dialek Sumenep. Dialek yang dijadikan acuan standar Bahasa Madura
adalah dialek Sumenep, kerana Sumenep dimasa lalu merupakan pusat kerajaan dan
kebudayaan Suku Madura, selain itu dialek Sumenep dalam Bahasa Madura adalah
dialek yang paling halus diantara dialek dalam Bahasa Madura lainnya, Contoh pada kasus kata ganti “kamu”:
- Kata
be’en umum digunakan di Pamekasan Madura. Namun kata be’na dipakai di
Sumenep.
- Sedangkan
kata kakeh untuk kamu lazim dipakai di Bangkalan bagian timur dan Sampang.
- Heddeh
dan Seddeh dipakai di daerah pedesaan Bangkalan.
Di pulau Jawa, dialek bahasa Madura sudah tercampur
dengan Bahasa Jawa sehingga kerap mereka
lebih suka dipanggil sebagai Pendalungan daripada sebagai Madura. Masyarakat di
Pulau Jawa, terkecuali daerah Situbondo, Bondowoso, dan bagian timur
Probolinggo umumnya menguasai Bahasa Jawa selain Madura.
Suku Madura selain terkenal
dengan bahasanya yang khas juga terkenal dengan adat-istiadat serta keseniannya
yang masih dipertahankan sampai sekarang. Adapun kesenian Madura yang masih
dipertahankan diantaranya seperti Kerapan Sapi, Tembang Macapat, Musik
Tradisional Madura (Saronen), Ketoprak
Madura, sedangkan adat-istiadat yang juga masih bertahan diantaranya yaitu
upacara pellet kandung suku Madura,
upacara adat nyadhar, Upacara Sandhur Pantel,Slametan rokat, dan upacara pernikahan suku
Madura yang akan dibahas pada bagian beriku ini.
2.2 Tradisi Adat Pernikahan
Masyarakat dalam Suku Madura
Upacara pernikahan di Indonesia merupakan upacara yang
dianggap sangat sakral dan biasanya di selenggarakan secara meriah disamping
ada pula yang diselenggarakan secara sederhana dan terencana disesuaikan dengan
tradisinya. Hal itu menunjukkan suatu kenyataan bahwa Indonesia terdiri atas
beberapa Suku Bangsa, agama, adat-istiadat yang berbeda, dengan latar belakang
sosial budaya yang beraneka ragam. Masing-masing daerah memiliki tata cara
tersendiri dalam adat prosesi pernikahan baik Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan
Madura pada umumnya. Pada upacara pernikahan biasanya kedua mempelai dirias
berbusana secara khusus. Tata rias dan busana pengantin menjadi pusat
perhatian, pakaian pengantin dan alat-alat rias disediakan secara khusus serta
pemakaiannya mempunyai tata cara dan aturan-aturan tertentu yang harus
dipatuhi, hal yang demikian ternyata juga dilakukan oleh Suku Madura pada
umumnya.
Makna dari sebuah pernikahan/perkawinan itu sendiri
adalah suatu cara untuk seseorang yang sudah beranjak kepada jenjang lebih
dewasa agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang negative. Seorang remaja
yang sudah cukup umur siap/merasa mampu dan mempunyai keinginan terhadap
seseorang maka ia telah siap untuk menikah. Hal ini dilakukan supaya tidak
terjadi hal-hal yang buruk yang bertentangan dengan moral agama dan
adat-istiadat.
Berbicara mengenai adat pernikahan di masing-masing
daerah yang berbeda-beda adatnya, maka tentunya akan memiliki suatu hal yang
unik dalam setiap upacara pernikahan yang dilangsungkan, termasuk juga upacara
pernikahan yang ada di Madura.
Tradisi
pernikahan di Madura punya perbedaan dengan tradisi pernikahan di daerah
lainnya dalam beberapa hal misalnya mengenai prosesi upacara pernikahan.
Berikut pembahasannya yang telah disusun sedemikian rinci mengenai prosesi
upacara pernikahan masyarakat suku Madura.
A.
Prosesi Adat Lamaran
Prosesi lamaran merupakan
tahap yang dilakukan sebelum pernikahan/perkawinan berlangsung, yaitu sang
calon pengantin laki-laki akan mendatangi kediaman calon pengantin wanita yang
bertujuan untuk memastikan bahwa sang calon pengantin wanita bersedia menikah
dengan sang calon pengantin pria. Biasanya di suku madura
di dahului dengan adanya:
1.
Tahap
Ngen-Ngangenan (member angin/member
kabar)
Tahap
pertama dalam tradisi perkawinan bagi orang Madura dimulai dari tahap
penjajakan yang disebut ngangene.
Tahap ini merupakan langkah awal dari pihak keluarga anak laki-laki yang
menginginkan seorang anak perempuan untuk calon istri anaknya sehingga ia
melakukan “ngen-ngangenan” yakni
“bertanya-tanya”.
Dalam proses ini
pihak keluarga anak laki-laki meminta bantuan kepada seorang keluarga dekat
atau kepada kerabat dekat yang dianggap “Seppo”
‘pinisepuh’ yang terpercaya dan dipandang dapat menyelesaikan tugas penting
yakni mencari tau berita dari pihak keluarga anak perempuan, yang tujuannya
adalah memperoleh keterangan apakah anak perempuan yang dituju atau
diinginkannya itu sudah ada yang punya, sudah terikat oleh pertunangan dengan
pria lain atau belum. Seorang yang diberi tugas atau dimintai bantuan “ngen-ngangen” itu disebut “pangadhep” “pendahulu”.
Selain itu, ini
dilakukan untuk
mengetahui sejauh mana kemungkinan pihak laki-laki bisa diterima oleh
keluarga pihak perempuan. Apabila dalam
proses “ngen-ngangen” ada jawaban
yang positif, artinya bahwa anak perempuan yang dipertanyakan itu tidak ada
yang memintanya, lalu direncanakanlah tahapan tindak berikutnya, yakni
dikirimkannya utusan dari keluarga anak laki-laki yang diketuai “pangadhep” datang kerumah keluarga anak
perempuan untuk meminta secara resmi anak perempuan itu melalui tradisi adat “lamaran” “pernikahan”
Setelah terjadi kesepakatan antara keluarga
lanceng (jejaka) dengan
keluarga praben (gadis), maka tahapan
penjajakan telah selesai dilakukan. Bagi masyarakat
Madura yang menjadi bahan pertimbangan agar bisa diterima adalah persoalan agama. Masyarakat
Madura tergolong sangat taat pada ajaran agama Islam.
2.
Arabas
Pagar (membabat pagar / perkenalan antara orang
tua)
Pertemuan kedua keluarga calon mempelai sebagai
perkenalan. Pada momen ini, ada tradisi ater
tolo dimana keluarga mempelai laki-laki membawakan kosmetik, beras
dan pakaian adat Madura untuk mempelai wanita. Kemudian kedua keluarga
mengadakan nyeddek temmo, yakni penentuan hari dan tanggal pernikahan. Seminggu
setelahnya, keluarga perempuan membalas kedatangan keluarga calon mempelai pria dengan membawa hidangan
nasi dan lauk-pauknya.
3.
Alamar Nyabe’ Jajan (melamar
Sebelum
pernikahan/perkawinan dilaksanakan, terlebih dahulu pihak laki-laki mengadakan
lamaran (peminta). Alat-alat yang dipersiapkan untuk lamaran antara lain : Sapu
Tangan, Minyak Wangi dan Uang Sekedarnya. Ketiga alat tersebut dihantarkan oleh
ketua dari pihak laki-laki. alat-alat tersebut adalah sebagai bukti bahwa
seorang perempuan telah resmi bertunangan dengan seorang laki-laki.
4.
Ater
Tolo/Teket Petton (alat lamaran)
Dalam proses lamaran, dari pihak keluarga laki-laki datang kerumah keluarga anak
perepuan bersama rombongan yang terdiri atas sanak keluarga dan kerabat,
tetangga terdekat kurang lebih sekitar 10 sampai 20 orang. Mereka membawa
alat-alat pinangan (Teket Petton).
Alat-alat yang mereka bawa anatara lain : kue-kue, Pakaian lengkap seorang
wanita, seperti sarung, kerudung, baju, alat-alat
perhiasan (Make Up) dll. Namun benda-benda
yang diadatkan yang harus ada dalam proses lamaran
yaitu ialah sere (sirih) dan
penang (pinang) yang melambangkan beretemunya seorang anak perempuan
(sirih) dengan seorang anak laki-laki (pinang).
5.
Nyedek Temmo
(menentukan saat hari perkawinan)
Apabila
proses lamaran sudah dilaksanakan maka setelah itu para pihak dari dua keluarga
akan menentukan kapan pelaksanaan pernikahan dilaksanakan. Di masyarakat Madura jika pernikahan/perkawinan
ingin dipercepat, biasanya dilengkapi dengan pisang susu yang berarti kesusu
tidak ketinggalan sirih dan pisang. Dan seperangkat pakaian dan ikat pinggang (stagen) yang menandakan bahwa anak
gadisnya sudah ada yang mengikat.
Setelah itu
bawaan dari pihak laki-laki digelar di atas meja di depan tamu dan pini sepuh
(sesepuh) dengan catatan bawaan yang dibawa sang laki-laki sesuai dengan
kemampuan dari pihaknya. Setelah penyerahan sang gadis dibawa masuk dan pada
saat pertengahan acara lamaran gadis tersebut akan dibawa keluar bermaksud
untuk diperkenalkan setelah itu sang gadis dipinta sungkeman kepada calon suami
dan pini sepuhnya yang sudah siap dengan amplop yang berisi uang untuk calon
menantunya.
Setelah para
tamu pulang oleh-oleh dari calon pengantin laki-laki dibagikan kepada pini
sepuh, sanak familli, dan tetangga dekat bertujuan untuk memberitahukan anak
gadisnya sudah bertunangan, pada malam hari calon pengantin laki-laki diajak
untuk diperkenalkan dengan calon mertuanya.
Lalu
seminggu kemudian akan diadakan kunjungan balasan dari pihak wanita dengan
membawa nasi beserta lauk pauknya. Setelah
acara ini selesai resmilah pertunangan tersebut.
B. Prosesi Sebelum Pernikahan/Perkawinan
Sebelum masa perkawinan pihak
laki-laki sudah diharuskan mempersiapkan keperluan dan kebutuhan apa saja yang
akan di butuhkan, seperti perlengkapan dan tempat dimana perkawinan itu akan
dilaksanakan. Dan khusus suntuk calon
pengantin wanita 40 hari sebelum upacara perkawinan sudah dilakukan ritual “dipinggit” yang dimana calon mempelai
wanita dilarang meninggalakan rumah dan biasanya dilakukan perawatan tubuh
dengan :
1)
meminum jamu
ramuan Madura
2)
untuk
perawatan kulit menggunakan :
a.
bedak
penghalus kulit
b.
bedak dingin
c.
bedak mangir
wangi
d.
bedak kamoridhan
e.
bedak bida,
3)
menghindari
makanan yang mengandung air seperti buah-buahan nanas, mentimun, papaya
C. Saat perniakahan Berlangsung
Pada tahap ini adalah tahap yang paling utama, busana pengantin juga sudah
disiapkan khusus agar lebih menarik perhatian di banding tamu-tamu yang akan
menghadiri upacara perkawianan tersebut. Pada saat pernikahan calon laki-laki
menggunakan beskaik blangkon, kain
panjang yang didampingin orang tua, pini sepuh serta sanak keluarga lainnya.
Sedangkan untuk calon wanita menggunakan kebaya dan kain panjang. Upacara akad
nikah dilaksanakan dan dipimpin oleh penghulu dengan dua orang saksi yang
diawali dengan doa-doa pemanjat puji syukur kepada Allah. S.W.T lalu
dilanjutkan dengan pengucapan ijab qobul yang disaksikan para undangan dan
memberikan seserahan mas kawin Al-Qur’an dan sajadah sebagai mas kawin
selanjutnya dengan syukuran bersama.
D. Upacara Mengghar Bhalabhar (buka pintu dengan
melewati tali)
Pada hari H,
pengantin pria datang ke rumah pengantin wanita sambil ditemani oleh seseorang
yang pintar menembang dan berteka-teki. Tugasnya untuk memimpin acara. Dalam
bahasa Madura orang ini disebut bhud
jangga (pujangga). Acara dilakukan sebelum pengantin pria memasuki halaman
rumah pengantin wanita.
Di pintu masuk telah dibentangkan
tali yang sudah digantungkan berbagai jenis makanan dan buah-buahan. Tali ini
disebut bhalabar. Pengantin pria dan
pujangga pun duduk di bawah tali itu. Lalu pujangga akan bernyanyi atau
menembang yang isinya adalah memberitahukan kalau rombongan sudah tiba. Di
pihak pengantin wanita juga telah disiapkan seorang pujangga untuk menjawab
sehingga terjadilah dialog dan tanya jawab. Jumlah tali yang direntangkan bukan
hanya berjumlah satu, bahkan sampai tiga. Bila setiap pertanyaan dijawab dengan
betul maka satu persatu tali akan terlepas sampai akhirnya pintu akan terbuka
agar pengantin pria bisa masuk. Tahap kedua, pengantin pria harus melewati
"ujian" dalam acara mekalabah.
Pada prosesi ini utusan pengantin pria diharuskan melakukan uji ketangkasan
dengan utusan pihak wanita. Orang yang telah ditunjuk dari masing-masing pihak
akan mempertunjukkan kebolehannya bermain silat di medan laga sambil diiringi
bunyi alat musik khas daerah. Tetapi pada akhirnya utusan dari pihak wanita
diharuskan menyerah kalah pada utusan sifat pihak pria sehingga sebagai
pemenang, pengantin pria boleh melanjutkan perjalanannya menemui pengantin
wanita.
E. Upacara Pangi (pertemuan kedua pengantin)
Menyongsong
kedatangan pengantin pria, maka pengantin wanita akan didudukkan di atas sebuah
baki menghadap ke pelaminan, tetapi posisinya membelakangi pengantin pria.
Selanjutnya dengan berjalan jongkok, pengantin pria akan datang menghampiri
istrinya untuk memutar baki tersebut sehingga keduanya dapat saling berhadapan.
Setelah itu pengantin pria memegang ubun-ubun sang istri sambil mengatakan
"Ba'na tang bini, sengkok lakena ba’na" yang
artinya "Kamu adalah istriku dan aku adalah suamimu". Dengan posisi
seperti menyembang pada suami, istri lalu menjawa "enggi" yang artinya "iya".
Kemudian
acara dilanjutkan dengan tradisi pengantin pria melemparkan sejumlah uang ke
dalam suatu wadah yang berada di dekat pengantin wanita. Wadah ini lalu
diperebutkan oleh utusan pihak wanita sehingga terbukalah jalan bagi pengantin
pria untuk membawa pasangannya ke pelaminan. Selanjutnya diadakan acara ngocor yaitu pemberian doa restu kepada
kedua pengantin yang dilakuka oleh kedua pihak keluarga dan sesepuh. Caranya
dengan memercikkan air bunga ke atas ubun-ubun keduanya sambil disertai doa
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memohon keselamatan
Lalu sehabis acara itu sang pengantin laki-laki diantar pulang dahulu dan
kembali lagi untuk melaksanakan resepsi. Tata rias pengantin di Desa
Tebang Kacang ada 3 macam yaitu :
a. Resepsi Malam Pertama
Pada malam hari resepsi pertama kedua pengantin akan diantar kedalam
pelaminan. Kemudian dilanjutkan dengan upacara muter duleng yaitu pengantin
wanita duduk bersila pada sebuah baki besar dengan membelakangi arah datangnya
pengantin pria. Lalu pengantin pria akan berjalan jongkok menuju pengantin
wanita dan memutar baki sampai berhadapan dengan artian bahwa pengantin pria
sudah siap memutar roda rumah tangga. Sesudah itu pengantin pria akan
memegang dan mengusap-usap embun pengantin wanita dengan mengucap “aku adalah
suamimu dan engkau adalah istriku” kemudian pengantin wanita diajak ke
pelaminan dengan menggunakan pakain adapt (lega).
b. Resepsi Malam Kedua
Pada resepsi malam kedua pengantin akan menggunakan pakaian adat kaputren.
c. Resepsi Malam Ketiga
Lalu pada resepsi malam ketiga pengantin akan
menggunkan rias lilin dengan kebaya putih dengan hiasan melati menandakan
kesucian dan merupakan malam pertama untuk pengantin. Dan pada hari keempat
pengantin sudah melakukan kunjungan keluarga mertua dan sanak familli dan tidak
lupa pengantin akan mendapatkan ontalan
yaitu pemberian uang dan ucapan “selamat menempuh hidup baru”.
DAFTAR PUSTAKA
Sumintarsih,
dkk. 2013. Kearifan Lokal. Yogyakarta
: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNP)
Universitas Jember. 1993. Tradisi
Adat Lamaran dan Perkawinan Suku Madura Kurang Mampu di Pesisir Selatan Pulau
Madura. UNEJ
https://yogisetiawan92.wordpress.com/2012/12/12/suku-madura/[dikutip pada tanggal 19 Maret 2016]
http://www.lontarmadura.com/perilaku-komunikasi-antar-budaya-suku-madura/[dikutip pada tanggal 19 Maret 2016]
NB: Sumber juga
diperoleh berdasarkan pengamatan di lingkungan masyarakat Madura yang masih
menjalankan tradisi seperti yang dijelaskan di atas serta juga diambil dari
buku referensi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar