Senin, 16 Januari 2017

Budaya Madura dalam Multikultural Indonesia : "Adat Pernikahan"


Tradisi Adat Pernikahan Masyarakat dalam Suku Madura

    Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya bersifat kompleks, abstrak, luas dan terbentuk dari berbagai unsur misalnya agama, politik, adat, istiadat, bahasa, pakaian, dan karya seni. Sedangkan kebudayaan diartikan sebagai sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia kemudian mewujudkan suatu hasil ciptaan misalnya berupa pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain yang kesemuanya untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
    Di Indonesia banyak memiliki kebudayaan yang beragam seiring dengan beragamnya etnis-etnis yang ada, missal etnis Madura yang memiliki adat yang khas dalam kehidupan masyarakatnya. Hal itu menunjukkan bahwa budaya dalam suatu masyarakat menunjukkan suatu cerminan jati diri dari kearifan lokal yang ada di Madura.
     Tradisi budaya yang ada di lingkup kepulauan Madura sebenarnya sangat beragam bentuknya, dan salah satunya yaitu adat pernikahan dalam masyarakat Madura yang memiliki ciri khas dan unik sehingga sangat menarik sekali untuk dibahas sebagai kajian hasil pengamatan dari adat pernikahan suku Madura.


BAB 2. PEMBAHASAN


2.1 Kehidupan Masyarakat Suku Madura
Madura merupakan sebuah pulau yang letaknya berada di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura luasnya kurang lebih 5.168 km2 (lebih kecil daripada pulau Bali), dengan penduduk hampir 4 juta jiwa. Terdapat empat kabupaten yang terletak di pulau Madura yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep (https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Madura).
Kondisi geografis Madura yaitu merupakan daratan tanpa gunung berapi namun terbentuk dari pegunungan kapur yang meiliki curah hujan berbeda-beda disetiap wilayahnya sehingga mengakibatkan tanahnya menjadi kurang subur untuk lahan pertanian.
Pulau Madura didiami oleh suku Madura yang merupakan suku dengan populasi besar yang ada di Indonesia. Mereka penempati pulau Madura dan pulau-pulau kecil yang ada disekitarnya. Mayoritas dari masyarakat Madura sebagai pemeluk agama Islam.
 Orang-orang Madura juga tinggal diluar pulau Madura lainnya, atau dengan kata lain menyebar diberbagai wilayah, baik dalam rangka merantau untuk bekerja maupun untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Suku Madura pada dasarnya adalah orang-orang yang memiliki etos kerja yang tinggi, ramah, giat bekerja dan ulet selain disebabkan dengan kondisi wilayahnya yang kurang baik untuk bertani. Keberadaannya dapat kita temui di Pulau Madura sendiri, ujung Timur Pulau Jawa atau dikawasan daerah tapal kuda, Kalimantan dan bahkan daerah pulau lainnya.
Suku Madura juga dikenal sebagai salah satu suku yang memiliki karakter yang sangat kuat baik dari sisi bahasa, kesenian, teknologi dan unsure kebuadayaan lainnya. Umumnya mereka juga memiliki gaya bicara yang blak-blakan dan logat yang kental. Bahasa Madura merupakan anak cabang dari bahasa Austronesia ranting Malayo-Polinesia, sehingga mempunyai kesamaan dengan bahasa- bahasa daerah lainnya di Indonesia.
Bahasa yang digunakan oleh suku Madura tidak lain adalah bahasa Madura dengan dialeknya sendiri. Perlu diketahui bahwa di tiap-tiap kabupaten yang ada di pulau Madura memiliki dialek bahasa Madura yang berbeda seperti (1) dialek Bangkalan, (2) dialek Sampang, (3) dialek Pamekasan, dan (4) dialek Sumenep. Dialek yang dijadikan acuan standar Bahasa Madura adalah dialek Sumenep, kerana Sumenep dimasa lalu merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Suku Madura, selain itu dialek Sumenep dalam Bahasa Madura adalah dialek yang paling halus diantara dialek dalam Bahasa Madura lainnya, Contoh pada kasus kata ganti “kamu”:
  1. Kata be’en umum digunakan di Pamekasan Madura. Namun kata be’na dipakai di Sumenep.
  2. Sedangkan kata kakeh untuk kamu lazim dipakai di Bangkalan bagian timur dan Sampang.
  3. Heddeh dan Seddeh dipakai di daerah pedesaan Bangkalan.
Di pulau Jawa, dialek bahasa Madura sudah tercampur dengan Bahasa Jawa sehingga kerap mereka lebih suka dipanggil sebagai Pendalungan daripada sebagai Madura. Masyarakat di Pulau Jawa, terkecuali daerah Situbondo, Bondowoso, dan bagian timur Probolinggo umumnya menguasai Bahasa Jawa selain Madura.
Suku Madura selain terkenal dengan bahasanya yang khas juga terkenal dengan adat-istiadat serta keseniannya yang masih dipertahankan sampai sekarang. Adapun kesenian Madura yang masih dipertahankan diantaranya seperti Kerapan Sapi, Tembang Macapat, Musik Tradisional Madura (Saronen), Ketoprak Madura, sedangkan adat-istiadat yang juga masih bertahan diantaranya yaitu upacara pellet kandung suku Madura, upacara adat nyadhar, Upacara Sandhur Pantel,Slametan rokat, dan upacara pernikahan suku Madura yang akan dibahas pada bagian beriku ini.


2.2 Tradisi Adat Pernikahan Masyarakat dalam Suku Madura

Upacara pernikahan di Indonesia merupakan upacara yang dianggap sangat sakral dan biasanya di selenggarakan secara meriah disamping ada pula yang diselenggarakan secara sederhana dan terencana disesuaikan dengan tradisinya. Hal itu menunjukkan suatu kenyataan bahwa Indonesia terdiri atas beberapa Suku Bangsa, agama, adat-istiadat yang berbeda, dengan latar belakang sosial budaya yang beraneka ragam. Masing-masing daerah memiliki tata cara tersendiri dalam adat prosesi pernikahan baik Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Madura pada umumnya. Pada upacara pernikahan biasanya kedua mempelai dirias berbusana secara khusus. Tata rias dan busana pengantin menjadi pusat perhatian, pakaian pengantin dan alat-alat rias disediakan secara khusus serta pemakaiannya mempunyai tata cara dan aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi, hal yang demikian ternyata juga dilakukan oleh Suku Madura pada umumnya.
Makna dari sebuah pernikahan/perkawinan itu sendiri adalah suatu cara untuk seseorang yang sudah beranjak kepada jenjang lebih dewasa agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang negative. Seorang remaja yang sudah cukup umur siap/merasa mampu dan mempunyai keinginan terhadap seseorang maka ia telah siap untuk menikah. Hal ini dilakukan supaya tidak terjadi hal-hal yang buruk yang bertentangan dengan moral agama dan adat-istiadat.
Berbicara mengenai adat pernikahan di masing-masing daerah yang berbeda-beda adatnya, maka tentunya akan memiliki suatu hal yang unik dalam setiap upacara pernikahan yang dilangsungkan, termasuk juga upacara pernikahan yang ada di Madura.
Tradisi pernikahan di Madura punya perbedaan dengan tradisi pernikahan di daerah lainnya dalam beberapa hal misalnya mengenai prosesi upacara pernikahan. Berikut pembahasannya yang telah disusun sedemikian rinci mengenai prosesi upacara pernikahan masyarakat suku Madura.
             A. Prosesi Adat Lamaran
Prosesi lamaran merupakan tahap yang dilakukan sebelum pernikahan/perkawinan berlangsung, yaitu sang calon pengantin laki-laki akan mendatangi kediaman calon pengantin wanita yang bertujuan untuk memastikan bahwa sang calon pengantin wanita bersedia menikah dengan sang calon pengantin pria.  Biasanya di suku madura di dahului dengan adanya:
1.      Tahap Ngen-Ngangenan (member angin/member kabar)
Tahap pertama dalam tradisi perkawinan bagi orang Madura dimulai dari tahap penjajakan yang disebut ngangene. Tahap ini merupakan langkah awal dari pihak keluarga anak laki-laki yang menginginkan seorang anak perempuan untuk calon istri anaknya sehingga ia melakukan “ngen-ngangenan” yakni “bertanya-tanya”.
Dalam proses ini pihak keluarga anak laki-laki meminta bantuan kepada seorang keluarga dekat atau kepada kerabat dekat yang dianggap “Seppo” ‘pinisepuh’ yang terpercaya dan dipandang dapat menyelesaikan tugas penting yakni mencari tau berita dari pihak keluarga anak perempuan, yang tujuannya adalah memperoleh keterangan apakah anak perempuan yang dituju atau diinginkannya itu sudah ada yang punya, sudah terikat oleh pertunangan dengan pria lain atau belum. Seorang yang diberi tugas atau dimintai bantuan “ngen-ngangen” itu disebut “pangadhep” “pendahulu”.
Selain itu, ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemungkinan pihak laki-laki bisa diterima oleh keluarga pihak perempuan. Apabila dalam proses “ngen-ngangen” ada jawaban yang positif, artinya bahwa anak perempuan yang dipertanyakan itu tidak ada yang memintanya, lalu direncanakanlah tahapan tindak berikutnya, yakni dikirimkannya utusan dari keluarga anak laki-laki yang diketuai “pangadhep” datang kerumah keluarga anak perempuan untuk meminta secara resmi anak perempuan itu melalui tradisi adat “lamaran” “pernikahan”
Setelah terjadi kesepakatan antara keluarga lanceng (jejaka) dengan  keluarga praben (gadis), maka tahapan penjajakan telah selesai dilakukan. Bagi masyarakat Madura yang menjadi bahan pertimbangan agar bisa diterima adalah persoalan agama. Masyarakat Madura tergolong sangat taat pada ajaran agama Islam.
2.      Arabas Pagar (membabat pagar / perkenalan antara orang tua)
Pertemuan kedua keluarga calon mempelai sebagai perkenalan. Pada momen ini, ada tradisi ater tolo dimana keluarga mempelai laki-laki membawakan kosmetik, beras dan pakaian adat Madura untuk mempelai wanita. Kemudian kedua keluarga mengadakan nyeddek temmo, yakni penentuan hari dan tanggal pernikahan. Seminggu setelahnya, keluarga perempuan membalas kedatangan keluarga calon mempelai pria dengan membawa hidangan nasi dan lauk-pauknya.

3.      Alamar Nyabe’ Jajan (melamar
          Sebelum pernikahan/perkawinan dilaksanakan, terlebih dahulu pihak laki-laki mengadakan lamaran (peminta). Alat-alat yang dipersiapkan untuk lamaran antara lain : Sapu Tangan, Minyak Wangi dan Uang Sekedarnya. Ketiga alat tersebut dihantarkan oleh ketua dari pihak laki-laki. alat-alat tersebut adalah sebagai bukti bahwa seorang perempuan telah resmi bertunangan dengan seorang laki-laki.

4.      Ater Tolo/Teket Petton (alat lamaran)
Dalam proses lamaran, dari pihak keluarga laki-laki datang kerumah keluarga anak perepuan bersama rombongan yang terdiri atas sanak keluarga dan kerabat, tetangga terdekat kurang lebih sekitar 10 sampai 20 orang. Mereka membawa alat-alat pinangan (Teket Petton). Alat-alat yang mereka bawa anatara lain : kue-kue, Pakaian lengkap seorang wanita, seperti sarung, kerudung, baju,  alat-alat perhiasan (Make Up) dll. Namun benda-benda yang diadatkan yang harus ada dalam proses lamaran yaitu ialah sere (sirih) dan penang (pinang) yang melambangkan beretemunya seorang anak perempuan (sirih) dengan seorang anak laki-laki (pinang).

5.       Nyedek Temmo (menentukan saat hari perkawinan)
Apabila proses lamaran sudah dilaksanakan maka setelah itu para pihak dari dua keluarga akan menentukan kapan pelaksanaan pernikahan dilaksanakan. Di masyarakat Madura  jika pernikahan/perkawinan ingin dipercepat, biasanya dilengkapi dengan pisang susu yang berarti kesusu tidak ketinggalan sirih dan pisang. Dan seperangkat pakaian dan ikat pinggang (stagen) yang menandakan bahwa anak gadisnya sudah ada yang mengikat.
Setelah itu bawaan dari pihak laki-laki digelar di atas meja di depan tamu dan pini sepuh (sesepuh) dengan catatan bawaan yang dibawa sang laki-laki sesuai dengan kemampuan dari pihaknya. Setelah penyerahan sang gadis dibawa masuk dan pada saat pertengahan acara lamaran gadis tersebut akan dibawa keluar bermaksud untuk diperkenalkan setelah itu sang gadis dipinta sungkeman kepada calon suami dan pini sepuhnya yang sudah siap dengan amplop yang berisi uang untuk calon menantunya.
Setelah para tamu pulang oleh-oleh dari calon pengantin laki-laki dibagikan kepada pini sepuh, sanak familli, dan tetangga dekat bertujuan untuk memberitahukan anak gadisnya sudah bertunangan, pada malam hari calon pengantin laki-laki diajak untuk diperkenalkan dengan calon mertuanya.
Lalu seminggu kemudian akan diadakan kunjungan balasan dari pihak wanita dengan membawa nasi beserta lauk pauknya. Setelah acara ini selesai resmilah pertunangan tersebut.

B. Prosesi Sebelum Pernikahan/Perkawinan
Sebelum masa perkawinan pihak laki-laki sudah diharuskan mempersiapkan keperluan dan kebutuhan apa saja yang akan di butuhkan, seperti perlengkapan dan tempat dimana perkawinan itu akan dilaksanakan. Dan khusus suntuk calon pengantin wanita 40 hari sebelum upacara perkawinan sudah dilakukan ritual “dipinggit” yang dimana calon mempelai wanita dilarang meninggalakan rumah dan biasanya dilakukan perawatan tubuh dengan :
1)      meminum jamu ramuan Madura
2)      untuk perawatan kulit menggunakan :
a.       bedak penghalus kulit
b.      bedak dingin
c.       bedak mangir wangi
d.      bedak kamoridhan
e.       bedak bida,
3)      menghindari makanan yang mengandung air seperti buah-buahan nanas, mentimun, papaya
C. Saat perniakahan Berlangsung
Pada tahap ini adalah tahap yang paling utama, busana pengantin juga sudah disiapkan khusus agar lebih menarik perhatian di banding tamu-tamu yang akan menghadiri upacara perkawianan tersebut. Pada saat pernikahan calon laki-laki menggunakan beskaik blangkon, kain panjang yang didampingin orang tua, pini sepuh serta sanak keluarga lainnya. Sedangkan untuk calon wanita menggunakan kebaya dan kain panjang. Upacara akad nikah dilaksanakan dan dipimpin oleh penghulu dengan dua orang saksi yang diawali dengan doa-doa pemanjat puji syukur kepada Allah. S.W.T lalu dilanjutkan dengan pengucapan ijab qobul yang disaksikan para undangan dan memberikan seserahan mas kawin Al-Qur’an dan sajadah sebagai mas kawin selanjutnya dengan syukuran bersama.
D. Upacara Mengghar Bhalabhar (buka pintu dengan melewati tali)
Pada hari H, pengantin pria datang ke rumah pengantin wanita sambil ditemani oleh seseorang yang pintar menembang dan berteka-teki. Tugasnya untuk memimpin acara. Dalam bahasa Madura orang ini disebut bhud jangga (pujangga). Acara dilakukan sebelum pengantin pria memasuki halaman rumah pengantin wanita.
Di pintu masuk telah dibentangkan tali yang sudah digantungkan berbagai jenis makanan dan buah-buahan. Tali ini disebut bhalabar. Pengantin pria dan pujangga pun duduk di bawah tali itu. Lalu pujangga akan bernyanyi atau menembang yang isinya adalah memberitahukan kalau rombongan sudah tiba. Di pihak pengantin wanita juga telah disiapkan seorang pujangga untuk menjawab sehingga terjadilah dialog dan tanya jawab. Jumlah tali yang direntangkan bukan hanya berjumlah satu, bahkan sampai tiga. Bila setiap pertanyaan dijawab dengan betul maka satu persatu tali akan terlepas sampai akhirnya pintu akan terbuka agar pengantin pria bisa masuk. Tahap kedua, pengantin pria harus melewati "ujian" dalam acara mekalabah. Pada prosesi ini utusan pengantin pria diharuskan melakukan uji ketangkasan dengan utusan pihak wanita. Orang yang telah ditunjuk dari masing-masing pihak akan mempertunjukkan kebolehannya bermain silat di medan laga sambil diiringi bunyi alat musik khas daerah. Tetapi pada akhirnya utusan dari pihak wanita diharuskan menyerah kalah pada utusan sifat pihak pria sehingga sebagai pemenang, pengantin pria boleh melanjutkan perjalanannya menemui pengantin wanita.

E. Upacara Pangi (pertemuan kedua pengantin)
Menyongsong kedatangan pengantin pria, maka pengantin wanita akan didudukkan di atas sebuah baki menghadap ke pelaminan, tetapi posisinya membelakangi pengantin pria. Selanjutnya dengan berjalan jongkok, pengantin pria akan datang menghampiri istrinya untuk memutar baki tersebut sehingga keduanya dapat saling berhadapan. Setelah itu pengantin pria memegang ubun-ubun sang istri sambil mengatakan "Ba'na tang bini, sengkok lakena ba’na" yang artinya "Kamu adalah istriku dan aku adalah suamimu". Dengan posisi seperti menyembang pada suami, istri lalu menjawa "enggi" yang artinya "iya".
Kemudian acara dilanjutkan dengan tradisi pengantin pria melemparkan sejumlah uang ke dalam suatu wadah yang berada di dekat pengantin wanita. Wadah ini lalu diperebutkan oleh utusan pihak wanita sehingga terbukalah jalan bagi pengantin pria untuk membawa pasangannya ke pelaminan. Selanjutnya diadakan acara ngocor yaitu pemberian doa restu kepada kedua pengantin yang dilakuka oleh kedua pihak keluarga dan sesepuh. Caranya dengan memercikkan air bunga ke atas ubun-ubun keduanya sambil disertai doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memohon keselamatan
Lalu sehabis acara itu sang pengantin laki-laki diantar pulang dahulu dan kembali lagi untuk melaksanakan resepsi. Tata rias pengantin di Desa Tebang Kacang ada 3 macam yaitu :
a.    Resepsi Malam Pertama
Pada malam hari resepsi pertama kedua pengantin akan diantar kedalam pelaminan. Kemudian dilanjutkan dengan upacara muter duleng yaitu pengantin wanita duduk bersila pada sebuah baki besar dengan membelakangi arah datangnya pengantin pria. Lalu pengantin pria akan berjalan jongkok menuju pengantin wanita dan memutar baki sampai berhadapan dengan artian bahwa pengantin pria sudah siap memutar roda rumah tangga. Sesudah itu pengantin pria akan memegang dan mengusap-usap embun pengantin wanita dengan mengucap “aku adalah suamimu dan engkau adalah istriku” kemudian pengantin wanita diajak ke pelaminan dengan menggunakan pakain adapt (lega).
b.    Resepsi Malam Kedua
Pada resepsi malam kedua pengantin akan menggunakan pakaian adat kaputren.
c.    Resepsi Malam Ketiga
              Lalu pada resepsi malam ketiga pengantin akan menggunkan rias lilin dengan kebaya putih dengan hiasan melati menandakan kesucian dan merupakan malam pertama untuk pengantin. Dan pada hari keempat pengantin sudah melakukan kunjungan keluarga mertua dan sanak familli dan tidak lupa pengantin akan mendapatkan ontalan yaitu pemberian uang dan ucapan “selamat menempuh hidup baru”.

DAFTAR PUSTAKA


Sumintarsih, dkk. 2013. Kearifan Lokal. Yogyakarta : Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNP)
Universitas Jember. 1993. Tradisi Adat Lamaran dan Perkawinan Suku Madura Kurang Mampu di Pesisir Selatan Pulau Madura. UNEJ
NB: Sumber juga diperoleh berdasarkan pengamatan di lingkungan masyarakat Madura yang masih menjalankan tradisi seperti yang dijelaskan di atas serta juga diambil dari buku referensi.

Tidak ada komentar: