Kamis, 29 Desember 2016


       “BENDERA DAN LAMBANG NEGARA 
          REPUBLIK INDONESIA :) ”


1. BENDERA NEGARA REPUBLIK INDONESIA


A. BENDERA SANG MERAH PUTIH

1)     Apakah Bendera Itu?
Bendera ialah secarik benda berwujud kain tipis atau yang sejenis itu, berisi bentukan dan warna, berkibar ditiup oleh angin pada sebatang tiang atau seuntai tali sebagai panji-panji, tanda ciri atau tanda pengingat.
2)     Asal Kata Bendera
Kata bendera berasal dari bahasa Spanyol “bandera”, dalam bahasa Portugis bendera, dalam bahasa Italia bandiera. Akar kata band berarti berkibar.
3)     Sebutan untuk Bendera Merah Putih dalam Bahasa Jawa Kuna (Kawi)
Dalam bahasa Jawa Kuna (Kawi) Bendera Merah Putih disebut Tunggul Bang lawan Putih (pada jaman Kerajaan Majapahit).
4)     Sejak Kapankah Kata Bendera Masuk ke Dalam Bahasa Kita?
Sejak abad ke 16, waktu bangsa kita mengadakan hubungan dagang dengan bangsa Portugis.
5)     Penjelasan Kata “Sang” dan Penggunaannya
“Sang” termasuk jenis kata sandang, digunakan untuk menghor atau memuliakan sesuatu. Contoh: Sang Hyang Esa, Sang Garuda, Sang Bima, Sang Supraba, Sang Merah Putih.
6)     Arti Warna Merah  dan Putih
Merah berarti keberanian untuk berjuang. Putih berarti kesucian atau kemurnian. Merah Putih berarti Keberanian atas Kesucian (berdasarkan buku Bhagawat Gita).
7)     Arti Warna Merah Putih Menurut Ketetapan Panitia Bendera Yang Diketuai Oleh Ki Hajar Dewantara
Berani atas kebenaran.
8)     Arti Lain Warna Merah Putih
Hidup atau Mati (Pada Masa Perang).
9)     Susunan Merah Putih pada Bendera kita Indonesia
Warna Merah di atas, warna putih di bawah.
10)         Warna Merah yang Seharusnya digunakan untuk Bendera Sang Merah Putih
Warna merah cerah, merah jernih. Bukan merah menyala, merah tua, merah muda, atau merah jambu.


“LAMBANG NEGARA REPUBLIK INDONESIA”


A. Garuda Pancasila

          Lambang Negara kita adalah GARUDA PANCASILA. Dalam buku ADIPARWA bagian dari MAHABHARATA berbahasa JAWA KUNA terdapat cerita tentang Sang Garuda. Persamaan cerita Sang Garuda dengan perjuangan bangsa Indonesia yaitu Sang Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan. Bangsa Indonesia membebaskan Ibu Pertiwi dari penjajahan.
          Dasar hukum yang menetapkan Garuda Pancasila sebagai lambang Negara Republik Indonesia yaitu PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 66 TAHUN 1951 TENTANG LAMBANG NEGARA. 
          Lambang Negara Republik Indonesia Garuda Pancasila terdiri dari 3 bagian yaitu:
1)      Burung Garuda tegak tegap perkasa, kepala menoleh lurus ke sebelah kanan.
2)      Perisai berbentuk jantung mengandung lukisan sila-sila Pancasila tergantung di leher Garuda dengan rantai.
3)      Pita yang dicengkeram oleh cakar-cakar Garuda bertuliskan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Adapun bagian-bagian Garuda yang menyatakan angka-angka hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yaitu Bulu masing-masing sayap 17, Bulu ekor 8, Bulu pangkal ekor 19, Bulu leher 45.
Bagian-bagian lain yang juga dapat menunjukkan angka-angka seperti:
Burung, perisai, pita 1
Leher/kepala berbentuk 1 dan 7.
Bulu leher 8, mencuat ke kiri 4 ke kanan 4.
Cakar 8, kiri 4 kanan 4.
Ujung pita semua 4.
Ruang perisai 5.
Sudut bintang 5.
Kapas 5.
Ujung kelopak kapas masing-masing 5.
Rantai penggantung perisai yang terlihat 17.
Butir padi 17.
Rantai dalam perisai 17 (yang persegi 8, yang bulat 9).
Sulur pohon beringin 17.
Bulu pangkal paha kiri 13, pangkal paha kanan 13, pangkal ekor 19, jumlah 45.
Kepala banteng: tanduk 2, telinga 2, mulut 1, jumlah 5; atau tanduk 2, telinga 2, mata 2, lubang hidung 2, mulut 1, jumlah 9.
Suku kata Bhinneka Tunggal Ika 7.
Suku kata Garuda Pancasila 7.
(Huruf dalam kata Republik Indonesia 17).
Dalam seni sastra benda-benda dan angka-angka yang dinyatakan disebut “Sengkalan”.
Warna-warna yang digunakan dalam lambang yaitu Kuning, Merah, Putih, Hijau, dan Hitam. Adapun makna dalam warna-warna tersebut :
Kuning (Kuning Emas) bermakna keluhuran, kebesaran, atau kemegahan.
Merah keberanian. Putih kesucian, kemurnian, atau kebenaran.
Hijau kemakmuran, kesuburan.
Hitam keabadian.
  


Cerita Sang Garuda
Adalah seorang resi Begawan Kasyapa namanya. Ia anak Begawan Marici, dan cucu Betara Brahma. Ia diberi hadiah oleh Begawan Daksa empat belas orang gadis untuk menjadi isterinya yang layak.
Kelak semuanya beranak. Anak mereka berbagai macam makhluk. Hanya dua dari keempat belas yang belum beranak. Mereka itu ialah Winata dan Kadru.
Keduanya pada suatu hari menghadap Begawan Kasyapa mohon agar diberi anugerah anak. Kadru mohon seribu orang anak. Maka diberilah Kadru seribu butir telur agar dieraminya sampai menetas kelak.
“Janganlah banyak anak yang Begawan anugerahkan kepada saya. Dua orang saja yang kesaktiannya melebihi anak-anak Kadru”. Demikianlah Winata mohon kepada Begawan. Maka diberilah Winata dua butir telur. Telur disimpan baik-baik di dalam tempayan dan dijaganya.
Sesudah lima ratus tahun lamanya menetaslah anak Kadru. Berwujud naga. Semua sangat sakti, terutama Anantaboga, Basuki, dan Taksaka. Adapun anak Winata belum menetas. Malu, tunduk, merasa kalah diri Winata. Hatinya was-was kalau –kalau anaknya tidak jadi. Dipecahnyalah telurnya. Telur pecah, tampaklah anaknya. Tetapi baru separuh badan yang jadi, bagian atas, terutama kepalanya sempurna. Kakinya belum jadi semua. Marahlah ia karena ditetaskan sebelum masanya. Maka dikutuklah ibunya, katanya, “Aduh, Ibu, amatlah sakit aku, Ibu tetaskan sebelum masaku. Saya menjadi cacad. Ibu melakukannya karena ingin mempunyai anak melebehi Ibu Kadru. Kelak Ibu akan diperbudak secara berlebih-lebihan oleh saudara sendiri. Hati-hati, Ibu. Jagalah baik-baik saudaraku tinggal sebutir telur. Dialah akan menebus Ibu, membebaskan Ibu dari perbudakan kelak”.
Begitulah anak mengutuk ibu. Demikianlah keadaan badan anak Winata. Tak berkaki. Ia bernama Aruna, artinya tak berpaha. Ia sangat sakti. Terbanglah ia ke angkasa menuju ke kayangan. Ia diterima menjadi sais Sang Hyang Adidya atau Betara Surya.
Konon ketika para dewa mengaduk Lautan Asin untuk mencari air penghidupan, muncullah seekor kuda yang amat bagus dari dasar lautan. Kuda tersebut Ucaihsrawa namanya.
Menurut berita yang ditangkap pendengaran Kadru kuda itu putih bulu badannya, hitam bulu ekornya. Tetapi menurut pendengaran Winata kuda itu berwarna putih saja, tidak hitam ekornya. Kadru dan Winta cekcok berselisih paham mengenai warna kuda. Sampai-sampai mereka bertaruh. Siapa yang kalah harus menjadi budak yang menang. Mereka berjanji keesokan harinya akan membuktikan bersama hal itu. Sementara itu Kadru menceritakan kepada anaknya, para naga, bahwa ia bertaruh dengan Winata tentang warna kuda Ucaihsrwa. Anak-anak berkata, “Aduh, Ibu, kalah ibuku. Putih sajalah kuda itu.”
Malu Kadru, kalahlah dia. Ia minta belas kasihan kepada anak-anaknya, baiklah kiranya mereka berusaha menyembur ekor kuda dengan bisa mereka agar menjadi hitam, sehingga ia tidak diperbudak oleh Winata. Para naga tidak mau melakukannya. Tidak layak perbuatan semacam itu.
Marahlah Kadru, tidak diikuti kata-katanya. Dikutuklah anak-anaknya, “Hai, naga, sangat hina kau, tidak tahu berbelas kasihan. Dukalah yang kau temukan kelak. Kau akan dimakan api korban ular yang dibuat oleh Maharaja Janamejaya.”
Kutukan Kadru didengar dan disetujui oleh Betara Brahman. Dan pada waktu itulah Begawan Kasyapa diberinya ilmu bisa, yaitu ilmu penawar bisa, yang akan menghasilkan keselamatan dunia. Maka maulah kini para naga menyemburkan bisa mereka ke ekor kuda Ucaihsrawa.
Keesokan harnya berjalanlah Kadru dan Winata menuju ke tempat Ucaihsrawa. Mereka melewati Lautan susu yang diaduk oleh para dewa. Sampai di tempat kuda, tampaklah kuda berwarna putih, hitam ekornya. Winata kalah. Sejak itu lah Ibu Winata menjadi budak Kadru.
Dalam penderitaan, penindasan, perbudakan itu lahirlah anak Winata dari telur yang tinggal sebutir. Waktu itu Ibu Winata tidak disana. Dialah Sang Garuda. Seperti sinar api, sinar Sang Garuda, sinarnya memenuhi angkasa, memancar merah kesegap penjuru. Lalu melayanglah ia ke angkasa. Ketakutanlah para dewa melihatnya. Mereka mencemaskan hari kiamat yang akan membakar dan menghancurkan alam semesta. Sang Hyang Agni segera menghibur para dewa. Ia mengatakan belum saatnya ia menghancurkan dunia karena masih lamalah jaman berakhir. Ia menjelaskan bahwa yang bersinar-sinar itu burung mahasakti, anak Begawan Kasyapa dengan Sang Winata. Dialah Sang Garuda. Para dewa menjadi tenang lalu menghormat dan menganjung puji-pujian kepada Sang Garuda. Sukalah hati Sang Garuda, dipadamkanlah sinarnya.
Datanglah Sang Garuda di tempat ibunya menghambakan diri kepada Kadru, disana  di tepi Lautan susu. Lama ia membantu ibunda menjadi budak. Hidup dalam penderitaan. Pada suatu hari inginlah Kadru berjalan-jalan di tepi lautan. Sang Winata disuruhnya tinggal menunggu rumah. Garuda disuruhnya menjaga para naga. Maka diterbangkanlah oleh Sang Garuda para naga ke daerah matahari. Mereka setengah mati terbakar matahari. Kadru iba hati melihat anak-anaknya hamper mati. Ia segera mohon pertolongan Sang Hyang Indra menurunkan hujan. Hujan pun turunlah. Kini para naga bersuka ria dan berkeliaran kemana mereka suka. Garuda mendapat kesukaran menjaga dan menguasai para naga. Mengertilah ia bahwa memang sangat menderita hidup dalam perbudakan. Garuda hilang kesabarannya. Naga yang banyak tingkah ditangkap dan dimakannya.
Atas petunjuk ibunda Sang Garuda menanyakan kepada para naga apakah penebusnya agar ibunya bebas dari perbudakan. Mereka menghendaki air penghidupan hasil para dewa mengaduk laut sebagai penebus ibunda. Sukalah hati Sang Garuda. Ananda Garuda mohon izin dan mohon bekal kepada ibunda Winata untuk mencari amerta (air penghidupan).
Atas petunjuk ibunda pula Garuda makan orang-orang jahat golongan Nisada di Lautan Pulau Ilalang. Dan atas petunjuk ayahnya, Begawan Kesyapa, Garuda makan Gajah Supratika dan Kura-kura Wibawasu yang selalu bertengkar dalam membagi warisan. Supratika dan Wibawasu ditangkapnya di telaga di puncak Gunung Himawan, lalu diterbangkan dan dimakan di puncak Gunung Gandamadana. Itulah syarat bekal mencari amerta. Selanjutnya ditemani Sang Hyang Bayu, Candra, Agni, dan Angin Garuda melanjutkan perjalanannya.
Sampailah Sang Garuda di Pulau Sangka di Gunung Somaka, tempat air penghidupan. Air penghidupan dijaga dan dikelilingi oleh berbagai dewa yang siap dengan berbagai macam senjata. Bagian Timur dijaga oleh Dewa Sandya. Bagian Selatan dijaga Dewa Astabasu dengan bantuan Gandarwa. Bagian Barat dijaga oleh Dewa Rudra. Sedang yang menjaga bagian Utaraang Hyang Aditya termasuk Sang Hyang Indra.
Dengan didahului angin, kilat, sinar, dan debu, datanglah, Garuda di tempat itu. Suasana gelap, bagai tertutup mendung, membuat para Dewa tidak bisa melihat. Bayu mengembus mendung, dan seketika suasana menjadi terang. Tampaklah Sang Garuda terbang gagah perkasa di angkasa di atas tempat amerta. Beramai-ramai para dewa melepaskan panah, cakra, senjata tajam, dan bermacam-macam senjata menyerbu menyerang Garuda. Tak ada yang mengena. Tak sehelai bulupun  tanggal. Balik Garuda membalas: meniup, menggoncang, mencerai-beraikan, menjungkirbalikkan, melempar, menerjang, menghantam, dan menyerang. Tak bisa dihalangi, tak bisa ditandingi,tak bisa dilawa Sang Garuda. Dengan paruhnya yang tajam, panjang dan kuat dicotokilah mata para dewa. Darah mengalir, dunia serba gelap, para dewa tak tahu arah. Kalahlah, menyerahlah para dewa.
Adalah api berkobar menyala mengelilingi tempat amerta. Silaulah mata Sang Garuda, tak tahu jalan. Disedotlah air lautan, kering tak tersisa, pengguyur api menyala.
Sampailah Garuda di gua tempat amerta. Pintu gua berupa kitiran, selalu berputar. Ujungnya besi tajam. Segala sesuatu yanh masuk patah menjadi seribu. Dilihatlah itu oleh Sang Garuda. Dikecilkanlah badannya agar ia dapat menyelinap di sela-sela kitiran. Masuklah Garuda. Ia bertemu dengan dua ekor naga yang menjaga amerta. Diceritakan siang malam naga itu tidak berkedip matanya. Apa yang dilihatnya terbakar. Garuda mengepakkan sayap mengepulkan debu. Seketika pejamlah mata kedua naga. Segera dicotoklah mata naga tersebut ditelannya. Diambilnyalah amerta yang berada di tempayan, diterbangkan ke angkasa.
Tengah Garuda terbang, Betara Wisnu mencegatnya dan berkata, “Hai, Garuda, kalau kau menginginkan amerta itu mintalah kepadaku, engkau akan kuberi.”
Garuda menyahut, “Tak layak engkau member aku, Batara Wisnu, karena engkau di bawah aku. Amerta yang kau simpan itu terkena dan mati. Adapun aku, tak terkena tua dan mati walaupun tidak minum amerta. Itulah keadaanku. Bukan aku minta kepadamu, engkaulah yang harus minta kepadaku!.”
Wisnu menyambung, “Benar itu katamu, Garuda, tidak salah. Tidak usah kita bertengkar. Baik, akulah yang minta kepadamu. Sekarang aku minta engkau menjadi kendaraanku, dan aku minta engkau menjadi tanda benderaku!.”
Berpikir-pikir Sang Garuda, tidak maulah ia. Tetapi takut juga kalau ia bohong. Akhirnya maulah ia. Sejak itulah Garuda menjadi kendaraan Wisnu. Garuda berdamai dengan Wisnu.
Sangat kasihan Sang Hyang Indra, senjatanya tak menggurkan sehelai pun bulu Garuda. Indra datang menyembah Garuda. Agar tidak mendapat malu diiberilah Indra sehelai bulu Garuda. Bulu itu amat bagus. Oleh para dewa disebutnya Suparna. Indra maju minta kepada Garuda agar amerta tidak diberikan kepada para naga, karena bertentangan budi naga dengan budi para dewa.
Garuda menjelaskan agar Indra tidak usah kawatir. Terserah bagaimana seyogyanya nanti kalau amerta sudah diberikan kepada para naga. Karena itulah tujuan utamanya, sebagai penebus ibunda dari perbudakan.
Pergilah Garuda ke tempat naga. Amerta di tempayan berlilitkan daun ilalang diberikan kepada naga. Berkatalah Sang Garuda , “Hai, kamu naga semua. Ini amerta kuambil dari kayangan. Inilah penebus ibuku. Sekarang ibuku bebas, tidak menjadi budakmu. Jangan lagi kau menyia-nyiakannya. Adapun pesanku padamu: cara minum amerta, mandilah dahulu, buatlah upacara penyelamatan. Kerjakanlah!’
Kemudian pergilah ananda Garuda bersama ibunda Winata pulang kekayangan lagi.
Tak seekor naga pun yang mau tinggal menunggu amerta. Mandilah mereka bersama-sama membuat upacara penyelamatan. Mereka khawatir kalau-kalau tertinggal minum amerta. Usai mandi dan membuat upacara, didapatinya amerta sudah tidak ada, karena sudah diambil Indra. Sedihlah para naga, tak tahu apa daya, karena sudah diambil Indra. Adalah tetesan amerta tercecer di ujung ilalang. Itu dijilat oleh para naga. Robeklah lidahnya karena tajamnya ilalang. Sampai sekarang pun suci pula ilalang karena sudah teramah air penghidupan (air suci).
Sang Garuda telah membebaskan, memerdekakan Ibunya dari perbudakan, penderitaan, penindasan. Ibunda Winata, Ananda Garuda berbahagia di surge. Damai, sejahtera, dan selamatlah orang-orang yang mendengarnya.

NB: Terjemahan bebas, dari Adiparwa-Mahabharata Bahasa Jawa Kuna.

Tidak ada komentar: