“BENDERA DAN LAMBANG
NEGARA
REPUBLIK INDONESIA :) ”
REPUBLIK INDONESIA :) ”
1. BENDERA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
A. BENDERA SANG MERAH PUTIH
1) Apakah Bendera Itu?
Bendera ialah secarik benda berwujud kain
tipis atau yang sejenis itu, berisi bentukan dan warna, berkibar ditiup oleh angin
pada sebatang tiang atau seuntai tali sebagai panji-panji, tanda ciri atau
tanda pengingat.
2) Asal Kata Bendera
Kata bendera berasal dari bahasa
Spanyol “bandera”, dalam bahasa Portugis bendera, dalam bahasa Italia bandiera.
Akar kata band berarti berkibar.
3) Sebutan untuk Bendera Merah Putih dalam Bahasa Jawa
Kuna (Kawi)
Dalam bahasa Jawa Kuna (Kawi)
Bendera Merah Putih disebut Tunggul Bang lawan Putih (pada jaman Kerajaan
Majapahit).
4) Sejak Kapankah Kata Bendera Masuk ke Dalam Bahasa
Kita?
Sejak abad ke 16, waktu bangsa kita
mengadakan hubungan dagang dengan bangsa Portugis.
5) Penjelasan Kata “Sang” dan Penggunaannya
“Sang” termasuk jenis kata sandang,
digunakan untuk menghor atau memuliakan sesuatu. Contoh: Sang Hyang Esa, Sang
Garuda, Sang Bima, Sang Supraba, Sang Merah Putih.
6) Arti Warna Merah
dan Putih
Merah berarti keberanian untuk
berjuang. Putih berarti kesucian atau kemurnian. Merah Putih berarti Keberanian
atas Kesucian (berdasarkan buku Bhagawat Gita).
7) Arti Warna Merah Putih Menurut Ketetapan Panitia
Bendera Yang Diketuai Oleh Ki Hajar Dewantara
Berani atas kebenaran.
8) Arti Lain Warna Merah Putih
Hidup atau Mati (Pada Masa Perang).
9) Susunan Merah Putih pada Bendera kita Indonesia
Warna Merah di atas, warna putih di
bawah.
10)
Warna Merah
yang Seharusnya digunakan untuk Bendera Sang Merah Putih
Warna
merah cerah, merah jernih. Bukan merah menyala, merah tua, merah muda, atau
merah jambu.
“LAMBANG
NEGARA REPUBLIK INDONESIA”
A. Garuda Pancasila
Lambang Negara kita adalah GARUDA PANCASILA. Dalam
buku ADIPARWA bagian dari MAHABHARATA berbahasa JAWA KUNA terdapat cerita
tentang Sang Garuda. Persamaan cerita Sang Garuda dengan perjuangan bangsa
Indonesia yaitu Sang Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan. Bangsa
Indonesia membebaskan Ibu Pertiwi dari penjajahan.
Dasar hukum yang menetapkan Garuda
Pancasila sebagai lambang Negara Republik Indonesia yaitu PERATURAN PEMERINTAH
NOMOR 66 TAHUN 1951 TENTANG LAMBANG NEGARA.
Lambang Negara Republik Indonesia Garuda
Pancasila terdiri dari 3 bagian yaitu:
1) Burung Garuda tegak tegap perkasa, kepala menoleh
lurus ke sebelah kanan.
2) Perisai berbentuk jantung mengandung lukisan sila-sila
Pancasila tergantung di leher Garuda dengan rantai.
3) Pita yang dicengkeram oleh cakar-cakar Garuda
bertuliskan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Adapun bagian-bagian Garuda yang
menyatakan angka-angka hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yaitu
Bulu masing-masing sayap 17, Bulu ekor 8, Bulu pangkal ekor 19, Bulu leher 45.
Bagian-bagian lain yang juga dapat
menunjukkan angka-angka seperti:
Burung, perisai, pita 1
Leher/kepala berbentuk 1 dan 7.
Bulu leher 8, mencuat ke kiri 4 ke
kanan 4.
Cakar 8, kiri 4 kanan 4.
Ujung pita semua 4.
Ruang perisai 5.
Sudut bintang 5.
Kapas 5.
Ujung kelopak kapas masing-masing 5.
Rantai penggantung perisai yang
terlihat 17.
Butir padi 17.
Rantai dalam perisai 17 (yang
persegi 8, yang bulat 9).
Sulur pohon beringin 17.
Bulu pangkal paha kiri 13, pangkal
paha kanan 13, pangkal ekor 19, jumlah 45.
Kepala banteng: tanduk 2, telinga 2,
mulut 1, jumlah 5; atau tanduk 2, telinga 2, mata 2, lubang hidung 2, mulut 1,
jumlah 9.
Suku kata Bhinneka Tunggal Ika 7.
Suku kata Garuda Pancasila 7.
(Huruf dalam kata Republik Indonesia
17).
Dalam seni sastra benda-benda dan
angka-angka yang dinyatakan disebut “Sengkalan”.
Warna-warna yang digunakan dalam
lambang yaitu Kuning, Merah, Putih, Hijau, dan Hitam. Adapun makna dalam
warna-warna tersebut :
Kuning (Kuning Emas) bermakna
keluhuran, kebesaran, atau kemegahan.
Merah keberanian. Putih kesucian, kemurnian,
atau kebenaran.
Hijau kemakmuran, kesuburan.
Hitam keabadian.
Cerita Sang Garuda
Adalah seorang resi Begawan Kasyapa
namanya. Ia anak Begawan Marici, dan cucu Betara Brahma. Ia diberi hadiah oleh
Begawan Daksa empat belas orang gadis untuk menjadi isterinya yang layak.
Kelak semuanya beranak. Anak mereka
berbagai macam makhluk. Hanya dua dari keempat belas yang belum beranak. Mereka
itu ialah Winata dan Kadru.
Keduanya pada suatu hari menghadap
Begawan Kasyapa mohon agar diberi anugerah anak. Kadru mohon seribu orang anak.
Maka diberilah Kadru seribu butir telur agar dieraminya sampai menetas kelak.
“Janganlah banyak anak yang Begawan
anugerahkan kepada saya. Dua orang saja yang kesaktiannya melebihi anak-anak
Kadru”. Demikianlah Winata mohon kepada Begawan. Maka diberilah Winata dua
butir telur. Telur disimpan baik-baik di dalam tempayan dan dijaganya.
Sesudah lima ratus tahun lamanya
menetaslah anak Kadru. Berwujud naga. Semua sangat sakti, terutama Anantaboga,
Basuki, dan Taksaka. Adapun anak Winata belum menetas. Malu, tunduk, merasa
kalah diri Winata. Hatinya was-was kalau –kalau anaknya tidak jadi.
Dipecahnyalah telurnya. Telur pecah, tampaklah anaknya. Tetapi baru separuh
badan yang jadi, bagian atas, terutama kepalanya sempurna. Kakinya belum jadi
semua. Marahlah ia karena ditetaskan sebelum masanya. Maka dikutuklah ibunya,
katanya, “Aduh, Ibu, amatlah sakit aku, Ibu tetaskan sebelum masaku. Saya
menjadi cacad. Ibu melakukannya karena ingin mempunyai anak melebehi Ibu Kadru.
Kelak Ibu akan diperbudak secara berlebih-lebihan oleh saudara sendiri.
Hati-hati, Ibu. Jagalah baik-baik saudaraku tinggal sebutir telur. Dialah akan
menebus Ibu, membebaskan Ibu dari perbudakan kelak”.
Begitulah anak mengutuk ibu.
Demikianlah keadaan badan anak Winata. Tak berkaki. Ia bernama Aruna, artinya
tak berpaha. Ia sangat sakti. Terbanglah ia ke angkasa menuju ke kayangan. Ia
diterima menjadi sais Sang Hyang Adidya atau Betara Surya.
Konon ketika para dewa mengaduk
Lautan Asin untuk mencari air penghidupan, muncullah seekor kuda yang amat
bagus dari dasar lautan. Kuda tersebut Ucaihsrawa namanya.
Menurut berita yang ditangkap
pendengaran Kadru kuda itu putih bulu badannya, hitam bulu ekornya. Tetapi
menurut pendengaran Winata kuda itu berwarna putih saja, tidak hitam ekornya.
Kadru dan Winta cekcok berselisih paham mengenai warna kuda. Sampai-sampai
mereka bertaruh. Siapa yang kalah harus menjadi budak yang menang. Mereka
berjanji keesokan harinya akan membuktikan bersama hal itu. Sementara itu Kadru
menceritakan kepada anaknya, para naga, bahwa ia bertaruh dengan Winata tentang
warna kuda Ucaihsrwa. Anak-anak berkata, “Aduh, Ibu, kalah ibuku. Putih sajalah
kuda itu.”
Malu Kadru, kalahlah dia. Ia minta
belas kasihan kepada anak-anaknya, baiklah kiranya mereka berusaha menyembur
ekor kuda dengan bisa mereka agar menjadi hitam, sehingga ia tidak diperbudak
oleh Winata. Para naga tidak mau melakukannya. Tidak layak perbuatan semacam
itu.
Marahlah Kadru, tidak diikuti
kata-katanya. Dikutuklah anak-anaknya, “Hai, naga, sangat hina kau, tidak tahu
berbelas kasihan. Dukalah yang kau temukan kelak. Kau akan dimakan api korban
ular yang dibuat oleh Maharaja Janamejaya.”
Kutukan Kadru didengar dan disetujui
oleh Betara Brahman. Dan pada waktu itulah Begawan Kasyapa diberinya ilmu bisa,
yaitu ilmu penawar bisa, yang akan menghasilkan keselamatan dunia. Maka maulah
kini para naga menyemburkan bisa mereka ke ekor kuda Ucaihsrawa.
Keesokan harnya berjalanlah Kadru
dan Winata menuju ke tempat Ucaihsrawa. Mereka melewati Lautan susu yang diaduk
oleh para dewa. Sampai di tempat kuda, tampaklah kuda berwarna putih, hitam
ekornya. Winata kalah. Sejak itu lah Ibu Winata menjadi budak Kadru.
Dalam penderitaan, penindasan,
perbudakan itu lahirlah anak Winata dari telur yang tinggal sebutir. Waktu itu
Ibu Winata tidak disana. Dialah Sang Garuda. Seperti sinar api, sinar Sang
Garuda, sinarnya memenuhi angkasa, memancar merah kesegap penjuru. Lalu
melayanglah ia ke angkasa. Ketakutanlah para dewa melihatnya. Mereka mencemaskan
hari kiamat yang akan membakar dan menghancurkan alam semesta. Sang Hyang Agni
segera menghibur para dewa. Ia mengatakan belum saatnya ia menghancurkan dunia
karena masih lamalah jaman berakhir. Ia menjelaskan bahwa yang bersinar-sinar
itu burung mahasakti, anak Begawan Kasyapa dengan Sang Winata. Dialah Sang
Garuda. Para dewa menjadi tenang lalu menghormat dan menganjung puji-pujian
kepada Sang Garuda. Sukalah hati Sang Garuda, dipadamkanlah sinarnya.
Datanglah Sang Garuda di tempat
ibunya menghambakan diri kepada Kadru, disana
di tepi Lautan susu. Lama ia membantu ibunda menjadi budak. Hidup dalam
penderitaan. Pada suatu hari inginlah Kadru berjalan-jalan di tepi lautan. Sang
Winata disuruhnya tinggal menunggu rumah. Garuda disuruhnya menjaga para naga.
Maka diterbangkanlah oleh Sang Garuda para naga ke daerah matahari. Mereka
setengah mati terbakar matahari. Kadru iba hati melihat anak-anaknya hamper
mati. Ia segera mohon pertolongan Sang Hyang Indra menurunkan hujan. Hujan pun
turunlah. Kini para naga bersuka ria dan berkeliaran kemana mereka suka. Garuda
mendapat kesukaran menjaga dan menguasai para naga. Mengertilah ia bahwa memang
sangat menderita hidup dalam perbudakan. Garuda hilang kesabarannya. Naga yang
banyak tingkah ditangkap dan dimakannya.
Atas petunjuk ibunda Sang Garuda
menanyakan kepada para naga apakah penebusnya agar ibunya bebas dari
perbudakan. Mereka menghendaki air penghidupan hasil para dewa mengaduk laut
sebagai penebus ibunda. Sukalah hati Sang Garuda. Ananda Garuda mohon izin dan
mohon bekal kepada ibunda Winata untuk mencari amerta (air penghidupan).
Atas petunjuk ibunda pula Garuda
makan orang-orang jahat golongan Nisada di Lautan Pulau Ilalang. Dan atas
petunjuk ayahnya, Begawan Kesyapa, Garuda makan Gajah Supratika dan Kura-kura
Wibawasu yang selalu bertengkar dalam membagi warisan. Supratika dan Wibawasu
ditangkapnya di telaga di puncak Gunung Himawan, lalu diterbangkan dan dimakan
di puncak Gunung Gandamadana. Itulah syarat bekal mencari amerta. Selanjutnya
ditemani Sang Hyang Bayu, Candra, Agni, dan Angin Garuda melanjutkan
perjalanannya.
Sampailah Sang Garuda di Pulau
Sangka di Gunung Somaka, tempat air penghidupan. Air penghidupan dijaga dan
dikelilingi oleh berbagai dewa yang siap dengan berbagai macam senjata. Bagian
Timur dijaga oleh Dewa Sandya. Bagian Selatan dijaga Dewa Astabasu dengan
bantuan Gandarwa. Bagian Barat dijaga oleh Dewa Rudra. Sedang yang menjaga
bagian Utaraang Hyang Aditya termasuk Sang Hyang Indra.
Dengan didahului angin, kilat,
sinar, dan debu, datanglah, Garuda di tempat itu. Suasana gelap, bagai tertutup
mendung, membuat para Dewa tidak bisa melihat. Bayu mengembus mendung, dan
seketika suasana menjadi terang. Tampaklah Sang Garuda terbang gagah perkasa di
angkasa di atas tempat amerta. Beramai-ramai para dewa melepaskan panah, cakra,
senjata tajam, dan bermacam-macam senjata menyerbu menyerang Garuda. Tak ada
yang mengena. Tak sehelai bulupun
tanggal. Balik Garuda membalas: meniup, menggoncang, mencerai-beraikan,
menjungkirbalikkan, melempar, menerjang, menghantam, dan menyerang. Tak bisa
dihalangi, tak bisa ditandingi,tak bisa dilawa Sang Garuda. Dengan paruhnya
yang tajam, panjang dan kuat dicotokilah mata para dewa. Darah mengalir, dunia
serba gelap, para dewa tak tahu arah. Kalahlah, menyerahlah para dewa.
Adalah api berkobar menyala
mengelilingi tempat amerta. Silaulah mata Sang Garuda, tak tahu jalan.
Disedotlah air lautan, kering tak tersisa, pengguyur api menyala.
Sampailah Garuda di gua tempat
amerta. Pintu gua berupa kitiran, selalu berputar. Ujungnya besi tajam. Segala
sesuatu yanh masuk patah menjadi seribu. Dilihatlah itu oleh Sang Garuda.
Dikecilkanlah badannya agar ia dapat menyelinap di sela-sela kitiran. Masuklah
Garuda. Ia bertemu dengan dua ekor naga yang menjaga amerta. Diceritakan siang
malam naga itu tidak berkedip matanya. Apa yang dilihatnya terbakar. Garuda
mengepakkan sayap mengepulkan debu. Seketika pejamlah mata kedua naga. Segera
dicotoklah mata naga tersebut ditelannya. Diambilnyalah amerta yang berada di
tempayan, diterbangkan ke angkasa.
Tengah Garuda terbang, Betara Wisnu
mencegatnya dan berkata, “Hai, Garuda, kalau kau menginginkan amerta itu
mintalah kepadaku, engkau akan kuberi.”
Garuda menyahut, “Tak layak engkau
member aku, Batara Wisnu, karena engkau di bawah aku. Amerta yang kau simpan
itu terkena dan mati. Adapun aku, tak terkena tua dan mati walaupun tidak minum
amerta. Itulah keadaanku. Bukan aku minta kepadamu, engkaulah yang harus minta
kepadaku!.”
Wisnu menyambung, “Benar itu katamu,
Garuda, tidak salah. Tidak usah kita bertengkar. Baik, akulah yang minta
kepadamu. Sekarang aku minta engkau menjadi kendaraanku, dan aku minta engkau
menjadi tanda benderaku!.”
Berpikir-pikir Sang Garuda, tidak
maulah ia. Tetapi takut juga kalau ia bohong. Akhirnya maulah ia. Sejak itulah
Garuda menjadi kendaraan Wisnu. Garuda berdamai dengan Wisnu.
Sangat kasihan Sang Hyang Indra,
senjatanya tak menggurkan sehelai pun bulu Garuda. Indra datang menyembah
Garuda. Agar tidak mendapat malu diiberilah Indra sehelai bulu Garuda. Bulu itu
amat bagus. Oleh para dewa disebutnya Suparna. Indra maju minta kepada Garuda
agar amerta tidak diberikan kepada para naga, karena bertentangan budi naga
dengan budi para dewa.
Garuda menjelaskan agar Indra tidak
usah kawatir. Terserah bagaimana seyogyanya nanti kalau amerta sudah diberikan
kepada para naga. Karena itulah tujuan utamanya, sebagai penebus ibunda dari
perbudakan.
Pergilah Garuda ke tempat naga.
Amerta di tempayan berlilitkan daun ilalang diberikan kepada naga. Berkatalah
Sang Garuda , “Hai, kamu naga semua. Ini amerta kuambil dari kayangan. Inilah
penebus ibuku. Sekarang ibuku bebas, tidak menjadi budakmu. Jangan lagi kau
menyia-nyiakannya. Adapun pesanku padamu: cara minum amerta, mandilah dahulu,
buatlah upacara penyelamatan. Kerjakanlah!’
Kemudian pergilah ananda Garuda
bersama ibunda Winata pulang kekayangan lagi.
Tak seekor naga pun yang mau tinggal
menunggu amerta. Mandilah mereka bersama-sama membuat upacara penyelamatan.
Mereka khawatir kalau-kalau tertinggal minum amerta. Usai mandi dan membuat
upacara, didapatinya amerta sudah tidak ada, karena sudah diambil Indra.
Sedihlah para naga, tak tahu apa daya, karena sudah diambil Indra. Adalah
tetesan amerta tercecer di ujung ilalang. Itu dijilat oleh para naga. Robeklah
lidahnya karena tajamnya ilalang. Sampai sekarang pun suci pula ilalang karena
sudah teramah air penghidupan (air suci).
Sang Garuda telah membebaskan,
memerdekakan Ibunya dari perbudakan, penderitaan, penindasan. Ibunda Winata,
Ananda Garuda berbahagia di surge. Damai, sejahtera, dan selamatlah orang-orang
yang mendengarnya.
NB: Terjemahan bebas, dari Adiparwa-Mahabharata Bahasa
Jawa Kuna.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar