Jumat, 30 Desember 2016

Semua tentang CANDI JAGO (JAJAGHU)









CANDI JAGO (JAJAGHU)



 Oleh 

Sulaihah




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016








BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Candi Jago merupakan candi yang terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, tepatnya 22 km ke arah timur dari Kota Malang. Karena letaknya di Desa Tumpang, candi ini sering juga disebut Candi Tumpang. Penduduk setempat menyebutnya Cungkup. Menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, pembangunan Candi Jago berlangsung sejak tahun 1268 M sampai dengan tahun 1280 M, sebagai penghormatan bagi Raja Singasari ke-4, yaitu Sri Jaya Wisnuwardhana. Walaupun dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari, disebut dalam kedua kitab tersebut bahwa Candi Jago selama tahun 1359 M merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Diduga Candi Jago juga telah mengalami pemugaran pada tahun 1343 M atas perintah Raja Adityawarman dari Melayu yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja Hayam Wuruk.
Candi Jago dipenuhi dengan panel-panel relief yang terpahat rapi mulai dari kaki sampai ke dinding ruangan teratas. Hampir tidak terdapat bidang yang kosong, karena semua terisi dengan aneka ragam hiasan dalam jalinan cerita-cerita yang mengandung unsur pelepasan kepergian. Hal ini menguatkan dugaan bahwa pembangunan Candi Jago berkaitan erat dengan wafatnya Sri Jaya Wisnuwardhana. Sesuai dengan agama yang dianut oleh Raja Wisnuwardhana, yaitu Syiwa Buddha, maka relief pada Candi Jago mengandung ajaran Hindu maupun Buddha. Untuk lebih jelasnya akan di uraikan berdasarkan hasil pengamatan lapang di Candi Jago berikut ini.
1.2. Rumusan Masalah
            Berdasarkan rincian yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1)      Bagaimanakah Lokasi letak Candi Jago (Jajaghu) dan penamaannya?
2)      Bagaimana riwayat pendirian Candi Jago (Jajaghu)?
3)      Bagaimana deskripsi bentuk dan susunan dari bangunan Candi Jago (Jajaghu)?
4)      Bagaimanakah penggambaran relief pada dinding Candi Jago (Jajaghu)?
5)  Bagaimanakah deskripsi dari cerita relief tentang binatang atau Tantri pada Candi Jago (Jajaghu)?
6)   Bagaimanakah deskripsi dari cerita relief tentang Ari Darma atau Angling Darma pada dinding Candi Jago (Jajaghu)?
7)  Bagaimanakah deskripsi dari cerita relief tentang Kunjarakarna pada dinding Candi Jago (Jajaghu)?
8)  Bagaimanakah deskripsi dari cerita relief tentang Parthayadnya pada dinding Candi Jago (Jajaghu)?
9)   Bagaimanakah deskripsi dari cerita relief tentang Arjunawiwaha pada dinding Candi Jago (Jajaghu)? Dan
10 Bagaimanakah deskripsi dari cerita relief tentang Kresnayana pada dinding Candi Jago (Jajaghu)?
1.3. Tujuan
       1)      Untuk mengetahui Lokasi letak Candi Jago (Jajaghu) dan penamaannya;
       2)     untuk mengetahui riwayat pendirian candi jago (jajaghu);
       3)      untuk mengetahui deskripsi dari bentuk dan susunan bangunan candi jago (jajaghu);
       4)      untuk mengetahui penggambaran relief pada dinding candi jago (jajaghu);
       5)      untuk memahami deskripsi dari cerita relief tentang binatang atau tantri pada candi jago                      (jajaghu);
       6)      untuk memahami deskripsi dari cerita relief tentang Ari Darma atau Angling Darma pada                    dinding candi jago (jajaghu);
       7)      untuk mengetahui dan memahami deskripsi dari cerita relief tentang kunjarakarna pada                        dinding candi jago (jajaghu);
       8)      untuk memahami deskripsi dari cerita relief tentang parthayadnya pada dinding candi jago                  (jajaghu);
      9)      untuk mengetahui deskripsi dari cerita relief tentang Arjunawiwaha pada dinding Candi Jago               (Jajaghu);
    10)  Untuk mengetahui deskripsi dari cerita relief tentang Kresnayana pada dinding Candi Jago                    (Jajaghu).     




 BAB 2. PEMBAHASAN LAPORAN PENGAMATAN

2.1. Lokasi Letak dan Nama Candi Jago (Jajaghu)
Candi jago terletak di dusun jago, desa tumpang, kecamatan tumpang, wilayah kabupaten malang. Dari pusat kota malang sekitar 22 km kearah timur. Pada koordinat 8020.81S 1124550.82E / 8.0057806LS 112.7641167BT / -8.0057806 ; 112.7641167. ketinggiannya daerahnya 597 M dari permukaan laut dengan suhu rata-rata 20-29 C.
            Posisi candi ini terdiri diantara pemukiman penduduk. Persisnya dari jalan raya tumpang 200 M kearah timur. Jarak candi dengan perumahan penduduk hanya sekitar 2-3 meter yang hanya dibatasi dengan pagar kawat berduri yang mengelilingi halaman candi.
            Masyarakat sekitarnya atau penduduknya sendiri menyebut candi ini dengan sebutan tradisi ialah “CUNGKUP” yang maksudnya adalah suatu bentuk bangunan yang dikeramatkan. Dan yang lebih umum disebut candi jago.
            Namun nama atau sebutan candi ini adalah “JAJAGU” yang tertulis di dalam dua kitab kuna, yaitu kitab pararaton dan kitab sastra kuna nagarakertagama. Arti dari JAJAGU ialah penyebutan dari suatu nama tempat suci, atau dapat juga diartikan dengan istilah “keagungan”.

2.2. Riwayat Pendirian Candi Jago (Jajaghu)
Didalam kitab sastra kuna negarakertagama yang tercantum didalam salah satu teksnya, tentera pada pupuh 41 bait 4 pada baris ke dua,yang tertulis sebagai berikut : “Cakabda kananawa nik sithi bathara wishnu mulih ing suralaya pjah dinammarta sira waleri ciwanimbha mungguwing jajaghu”. Artinya : “ taun saka awan Sembilan mengebumikan tanah (1190.saka) atau 1268. M, raja Wishnu atau cri jaya wisnuwardhana (raja singasari ke 4) berpulang atau meninggal dunia, lalu di candikan (di darmakan) di waleri sebagai arca siwa (hindu), dan di jajaghu (jago) sebagai budha.
Jadi dapat di peroleh suatu kesimpulan bahwa : raja wishnuwardana yaitu raja singahasari ke 4 meninggal dunia pada tahun 1268 masehi, kemudian dicandikan di dua tempat yaitu di candi waleri (blitar) sebagai siwa atau hindu dan di candi jajaghu (jago) sebagai budha.
            Dari keterangan tersebut diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa : raja wisnuwardhana menganut suatu agama dari percampuran dua unsure agama (Sinkritisme), yaitu agama hinfdubudha atau siwa budha dalam aliran tantrayana. Agama ini berkembang dan dianut pada masa kerajaan singhasari terakhir. Proses penyatuan dua agama tesebut yang berkembang karena pemahaman yang mendalam serta kristalisasi perkembangan agama di kerajaan singhasari, dimana raja wisnuwardhana menyadari bahwa dua agama tersebut memiliki tujuan mulia yang sama.
            Dilain pihak raja wisnuwardhana berusaha mewujudkan suasana tata tentrem kerta raharja tanpa adanya suatu persaingan yang signifikan diantara kedua agama tersebut serta diantara para pemeluknya.
             Dapat diperkirakan peresmian candi jajaghu ini pada tahun 1280 masehi, yang bersamaan dengan diadakannya upacara Crada (pelepasan roh dari dunia berselang 12 tahun setelah meninggalnya raja tersebut)
            Adanya pahatan padma (bunga teratai) yang keluar dari akarnya/bongkolnya serta menjulur keatas pada stela arcanya, hal ini merupakan cirri khas seni pada masa kerajaan singhasari.
            Namun perlu diingat bahwa dari kebiasaan-kebiasaan raja-raja jaman dahulu dalam masa pemerintahannya sering melakukan perubahan serta pembaharuan terhadap candi-candi yang didirikan oleh raja-raja sebelumnya. Dengan kenyataan seperti ini kita sering dihadapkan pada masalah yang berhubungan dengan pendirian bangunan suci atau candi. Hal ini berlaku juga pada candi jajaghu.
            Candi jago (jajaghu) yang sekarang ini pernah mengalami perubahan/pemugaran yang diperlebar dan diperindah pada masa kerajaan majapahit, sekitar tahun 1343 M, dan sebagai arsiteknya kala itu adalah Arya Dewaraja  Mpu Aditya (Adyawarman). Hal ini dibuktikan dengan adanya arca bhairawa yang pernah ada di candi jago (hilang dicuri tahun 2001), sebagai arca perwujudan Adityawarman sebagai pelindung dan arsitektur candi jago, ketika masih berstatus Maharajajadiraja dikerajaan majapahit. Setelah kembali ketanah kelahirannya dan berstatus Maharajajadiraja diSwarnadwipa, kemudian raja adityawarman membuat sebuah arca Bhairawa yang mirip seperti candi jago, tetapi ukurannya lebih besar yang di jambi (Sumatra Barat).
2.3. Bentuk dan Susunan dari Bangunan Candi Jago (Jajaghu)
Candi Jago (Jajaghu) memiliki bentuk yang unik jika dibandingkan dengan bentuk bangunan candi-candi lainnya. Kaki Candi terdiri dari tiga tingkat, tingkat pertama terdapat delapan anak tangga, tingkat kedua ada empat belas anak tangga, dan tingkat ketiga ada tujuh anak tangga. Kemungkinan candi ini dahulunya memakai atap yang terbuatdari kayu dan Ijuk berbentuk Meru, seperti atap pura-pura Bali. Hal ini ditunjukkan pada salah satu pahatan relief yang menceritakan Parthayadnya (Mahabharata) pada teras kedua sisi timur pada bagian tengah.
       Bangunan candi ini didirikan di atas kaki candi terdiri dari tiga tingkat, setiap tingkatnya memiliki teras, yang mana teras tersebut makin keatas makin mengecil dan bergeser ke belakang, sehingga masing-masing tingkatnya juga memiliki selasar yang dapat dilalui untuk mengelilingi candi. Teras yang paling penting dan sakral terletak paling atas dan lebih kecil dan bergeser ke belakang. Bangunan candi dengan pola semacam ini, mengingatkan kita pada bentuk serta susunan bangunan pada masa “Meghalitikum”, yaitu salah satu bangunan pada waktu itu yang disebut “Pundenberundak”. Bangunan semacam ini yang memilki fungsi sebagai tempat pemujaan roh atau arwah para leluhur. Apakah candi ini yang memiliki kemiripan bangunan juga akan menjadi fungsi yang sama ?, ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Namun perlu diingat bahwa candi seperti itu untuk pertama kalinya, tampaknya benar-benar menunjukkan aliran lokal Indonesia asli.
            Candi Jago (Jajaghu) panjangnya 24 meter, lebar 14 meter dan tingginya sekarang 10,5 meter, diperkirakan ketinggian aslinya 17,5 meter. Bahan bangunan candinya yang terbuat dari jenis batu andesit (batu gunung).
            Arah hadap Candi Jago adalah kebarat. Arah hadap kebarat ini dimungkinkan oleh para seniman dahulu berorientasi pada manufaktur Megalithic monumen, karena dari arah tersebut mengarah ke puncak gunung.
            Yang jelas dapat diketahui bahwa dalam era periode Jawa Timur memang sering ditemukan adanya penyimpangan, hal ini khususnya yang berkaitan dengan keagamaan yang secara tidak langsung berakibat juga di dalam bangunannya. Khusus bangunan candi atau bangunan suci.
2.4. Relief pada Dinding Candi Jago (Jajaghu)
Akibat dari perjalanan waktu, kita masih dapat melihat relief-relief yang terpahat sangat indah pada dinding candinya yang sebagian sudah banyak mengalami kerusakan, tetapi masih terlihat adanya corak tertentu yang menandai identitasnya sebagai hasil karya seni Jawa Timur yang menunjukkan corak dekoratif dan simbolis. Bentuk pahatan tokohnya digambarkan agak kaku seperti wayang kulit atau wayang purwa (dua dimensi). Sedang corak lain yang dimiliki candi ini masih berkenaan tentang dalam pahatan/penggambaran relief-reliefnya yang terpahat dalam setiap panelnya, tiada satupun bidang yang kosong, semua terlihat sangat padat semua terisi dengan aneka ragam hias dalam alunan cerita yang mengandung unsure pelepasan. Hal ni sangat dipengaruhi oleh pandangan pandangan hidup maupun suasana kehidupan yang terjalin erat dengan lingkungan alam sekitarnya yang kala itu sangat subur dan menggirahkan
Secara umum relief candi ini dipahatkan pada bagian dinding candi yang mudah dilihat, karena keberadaan relief-reliefnya itu merupakan pelengkap dan refleksi dari aspek keagamaan yang terdapat pada bangunan candi itu sendiri dan yang dianut oleh masyarakat pada waktu itu, juga berasal dari karya sastra yang popular pada masa tu, serta sejarah kehidupan tokoh yang menjadi objek pemujaan.
Cara membaca reliefnya atau mengelilingi candinya arahnya harus mengirikan tubuh candi atau berlawanan putaranya jarum jam yang disebut “PRASAWYAH”.
Bila kita simak baik-baik dari satu persatu pada reliefnya, banyak menyimpan ma’na dan pesan yang sangat mendalam. Jadi bukan sekedar bentuk karya seni tanpa arti, didalamnya tersimpan sejuta pesan terutama soal pendidikan tentang Budi pekerti. Jug sebagai media komunikasi pesan yang mudah dipahami pada zamannya, tepat sasaran, serta tidak mentinggung harga diri manusia.
Sesuai deng agama yang dianut dan berkembang pada masa raja Wisnuwardhana yaitu Ciwa Budha atau Hindu Budha, maka pada dinding candi jago (jajaghu) ini termasuk pula pahatan relief-relief yang dapat menunjukkan dua sifat dari keagamaan tersebut, yaitu:
1) Relief yang bersifat Budhistis:
a.       Relief dalam menceritakan Binatang (Fable) atau tantric.
b.      Relief dalam menceritakan Ari Darma tau Angling Darma.
c.       Relief dalam menceritakan Kunjarakarna.
 2) Relief yang bersifat Hinduistis:
a.    Relief dalam menceritakan Parthayadnya (Mahabarata)
b.    Relief dalam menceritakan Arjuna Wiwaha (Mahabarata)
c.    Relief dalam menceritakan Kresnayana (Mahabarata)
Cerita relief dengan judul tersebut diatas yang terdapat pada dinding candi Jago, kesemuanya terjalin dengan sangat harmonis dalam satu kesatuan, khususnya pada cerita Binatang (Fable) atau Tantri. Relief Tantri merupakan sebuah cerita yang dugambarkan/dipahatkan dalam bentuk binatang, dimana dalam cerita tersebut terdapat pesan tersembunyi yang ingin disampaikan kepada para pembaca relief tersebut.
Dipilihya binatang sebagai tokoh utama dalam alur cerita yang disampaikan. Relief cerita binatang (fable) atau Tantri ini terisi tentang pembelajaran moral dan kebijaksanaan, termasuk didalamnya adalah mengenai hokum manusia.
Pada masa lalu fungsi dari cerita Tantri yang terpahat pada dinding candi ini adalah sebagai suatu sarana pembelajaran kebijakkan dan moral kepada pangeran yang akan menjadi raja, dengan tujuan sang pangeran mampu memimpin kerajaan menjadi besar dan hebat. Sehingga dapat diartikan bahwa candi bukan saja difungsikan sebagai tempat pemujaan atau pendarmaan, akan tetapi juga sebagai sarana pendidikan/pembelajaran khususnya moral.
Pada relief yang menceritakan Kunjarakarna adalah suatu cerita yang diangkat dari cerita yang berunsur Budha, namun dalam pahatan atau penggambaranya sama sekali tidak terkait sepenuhnya dengan dogma-dogma ajaran Budha. Seperta cara penggambaran tokoh Sri Wairucana/Wirwacana (Dyani Budha) diwujudkan bertangan empat an dilengkapi dengan atribut-atribut Siwa. Sedang tanda ongkara bermunculan disekitarnya. Para pertapa dipahatkan/digambarkan memakai Topi berbentuk “TEKES” yang lazim dikenakan oleh para panji. Dan para Yogiswara terlihat mengenakan “SURBAN”. Para pangeran dipahatkan memakai “SUPIT URANG”, sedang tokoh rajanya terlihat mengenakan “GELUNG KELING”, dan para Punakawan Punta Prasenta selalu setia mendampinginya. Pahatan punakawan-punakawan ini diwujudkan dalam bentuk yang gemuk, pendek, penuh dengan kekocakan, lucu serta kurang ajar, namun cerdik dan panuh kasih sayang.
Guna memeriahkan suasana serta menjiwai lingkungannya, peran”HANJA-HANJA JNANA” turut ditampilkan. Hal tersebut adalah pengetahuan tentang hantu-hantu, untuk melengkapi seluruh jiwa perpaduan (SINKRITISME) Hindu Budha atau Siwa Budha masa itu.
Cerita Kunjarakarna mengandung suatu ajaran kebatinan dalam usaha manusia mencapai kesemurnaan hidup. Cerita semacam ini biasanya lebih menitik beratkan pada isinya yang berupa wejangan atau ajaran-ajaran yang bersifat “mistik filosofik” atau “megik relijius”. Jadi dapat disimpulkan bahwa motif cerita Kunjarakarna yang terpahat pada dinding candi ini, bahwa raja Winuwardhana adalah “Sang penyelamat”.
Sementara cerita PARTHAYADHANYA dan arjunawiwaha yang bertitik pangkal pada tokoh bagian cerita kitab Mahabarata, yang menggambarkan tokoh Arjuna sebagai “Ingkarnasi” dewa Wisnu, adalah sebagai tokoh kunci kemenangan dari perang saudara antara Pandawa dengan Kurawa yang akhirnya mewujudkan kebahagiaan dan perdamaian.
2.5. Deskripsi dari Cerita Relief Binatang atau Tantri pada Candi Jago (Jajaghu)
Dari beberapa cerita tantric yang erpahat pada dinding candi jago, terdapat salah satu relief yang sangat popular yaitu: relief yang menggambarkan adehan seekor burung Bangau yang membawa terbang sepasang Kura-Kura. Kura-Kura tersebut dipahatkan dalam posisi menggantung dengan cara menggigit pada masing-masing ujung tongkat kayu yang mana tengahnya dipatuk oleh burung bangau yang membawa terbang Kura-Kura tersebut.
  Diceritakan dua ekor Kura-Kura dengan seekor burung Bangau yang hidup disebuah telaga yang melimpah airnya. Namun ketentraman itu dimanfaatkan dengan tidak baik oleh kedua ekor Kura-Kura tersebut, dikarenakan sifatnya yang sombong dan serba tidak puas dengan apa yang dimilikinya. Akhirnya timbul niat jelek si Kura-Kura kepada sahabatnya su burung bangau.
Kura-Kura berkata: “wahai sahabatku bangau yang setia, sebentar lagi akan dating suatu bencana, yaitu musim kering yang panjang…, aku harus cepat-cepat pindah dari sini ketelaha yang lebih besar dan airnya yang melimpah tapi sangat jauh…
Jawab burung Bangau; “baik akan kutolong kamu untuk pindah ketelaga itu… berpeganglah pada tongkat kayu yang tengahnya akan aku patu…, dan gigitlah oleh kalian masing-masing ujung tongkat kayu ini…, tapi ingat, selama dalam perjalanan terbang jangan kalian mengucapkan sepatah kata sebelum sampai tujuan.
Terbang keangkasa burung bangau itu dengan membawa dua ekor Kura-kura yang menggelantung, mulai hutan, sungai dan lading. Dari kejauhan tampak dua binatang buas yaitu serigala yang sedang istirahat dibawah pohon. Tiba-tiba dua serigala itu melihat keatas dan terlihat ada dua ekor kura-kura yang bergelantungan pada tongkat kayu yang dibawa terbang oleh burung Bangau, maka timbul keinginan dari dua serigala itu untuk memangsa dua ekor kura-kura tersebut. Kedua kura-kura tersebut diolok bagaikan kotoran kerbau kering yang sedang terbang terbawa angin.
Mendengar olokan dan hinaan dari Serigala itu, dua ekor kura-kura itu tak tahan mendengarkan olok-olok dan dua serigala itu berulang-ulang membuat jengkel dan marah, sehingga lupa pesan dari burung bangau untuk diam dan tak menghiraukan apapun sampai nanti ditujuan. Dan akhirnya dua ekor kura-kura itu bicara membalas hinaan dan serigala tersebut sehingga membuat mulut kura-kura terbuka dan akhirnya mereka terjatuh karena gigitan mereka pada tongkat kayu terlepas, mereka akhirnya jatuh ketanah dan dimangsa dan menjadi rebutan dua ekor serigala tersebut.
Cerita ini mengandung pesan yaitu sifat yang mudah tersinggung dan pemarah, tidak sabar, atau mudah terpancing emosi, sehingga akibat dari sifat kesombongannya itu dapat berakibat fatal yang dapat mencelakakan diri-sendiri.
Maka kiranya sebagai manusia haruslah selalu bersabar, rendah hati, serta tidak mudah terhasut, dengan begitu akan selalu menemui kehidupan yang tentram hati.
 Cerita semacam ini sangat populer pada masa klasik di Jawa. Pada masa kebudayaan Hindu-Budha seperti cerita ini digunakan sebagai sarana penyebaran agama dan menanamkan pesan etika dan moral bagi manusia, lewat simbol-simbol yang dilambangkan dengan tokoh-tokoh binatang.
2.6. Deskripsi dari Cerita Relief tentang Ari Darma atau Angling Darma pada Dinding Candi Jago (Jajaghu)
Relief yang menceritakan Andarma (Anglingdarma) ini diawali dari sisi sudut barat daya pada dinding bawah teras pertama. Relief ini menceritakan perjalanan sang prabu Aridarma (Anglingdarma) sedang melakukan hobinya yaitu berburu binatang dihutan. Setelah tiba di hutan Aridarma (Anglingdarma) bertemu dan melihat naga Gini yang kesepian ditinggal suaminya yang bernama naga Raja yang melakukan tapa, sedang berbuat zinah, bercumbu rayu dengan ular biasa yaitu ular tampar. Melihat peristiwa itu Aridarma (Anglingdarma) sangat marah, karena perbuatan naga gini itu sangat melanggar tatanan-tatanan dan asusila karena akan merusak keturunan. Lalu dibunuhlah ular tampar itu, saying pada saat melakukan senjata Aridarma (Anglingdarma) mengenai ekor naga Gini. Naga Gini kesakitan dan pergi dengan membawa rasa sakit hati.
            Setelah tiba ditempat pertapaan suaminya naga Raja, ia mengadu melaporkan perbuatan Aridarma (Anglingdarma) kepada naga Raja. Tetapi aduan naga Gini justru kebalikan dari peristiwa yang sebenarnya yaitu malah memfitnah Aridarma (Anglingdarma).
            Mendengar aduan istrinya naga Gini, naga Raja marah dan akan menuntut balas kepada Aridarma (Anglingdarma), dengan cara mengubah bentuk dirinya menjadi ular kecil (ular kingsi). Naga Raja menyelinap di perambingan/tempat tidur Aridarma (Anglingdarma).
            Setelah pulang dari berburu, Aridarma (Anglingdarma) menemui permaisurinya yang bernama setyawati yang sedang berada didalam kamar. Sambil tiduran Aridarma (Anglingdarma) menceritakan peristiwa yang terjadi pada saat berburu di hutan.

2.7. Deskripsi dari Cerita Relief tentang Kunjarakarna pada Dinding Candi Jago (Jajaghu)
Relief Kunjarakarna ini dipahatkan didinding bawah teras pertama dari sisi timur laut. Kunjarakarna adalah seorang Yaksa, dia murid setia sang Wairucana. Kunjarakarna pergi untuk menemui wiraucana berniat belajar tentang ilmu pengetahuuan laku darma. Setelah bertemu Wairucana, Kunjarakarna tidak langsung diberi ilmu tersebut, dia diperintahkan pergi ke Yamani (neraka), untuk melihat orang yang disiksa karena perbuatan dosa semasa hidup didunia. Setelah tiba dineraka atau Yamani kunjarakarna menemui Yamadipati dewa penjaga neraka untuk minta penjelasan dan ditunjukkan neraka tempat manusia menjalani dosa.
Kunjarakarna melihat sebuah tempat penyiksaan berbentuk kawah/ketel berkepala lembu yang disebut “tembran goh muka” atau “Candra goh muka”. Kunjrakarna lalu bertanya kepada Yamadipati tentang perihal ada tempat penyiksaan yang masih kosong. Yamadipati menjelaskan bahwa ketel/kawah yang kosong tersebut akan dipergunakan untuk menyiksa sahabatnya yang bernama purnawijaya, karena dalam hidupnya banyak berbuat dosa. Purnawijaya akan menjalani siksa di godok dalam kawah/ketel yang sangat panas selama seratus tahun. Kunjarakarna sangat terkejut dengan penjelasan tersebut, karena purnawijaya sebagai sahabatnya yang hidupnya penuh dengan kebahagiaan.
Selesai menimba ilmu pengetahuan hidup Yamadipati Kunjarakarna langsung pergi menuju kediaman purnawijaya, setelah tiba di kediaman purnawijaya ia menceritakan perihal yang terjadi waktu menyaksikan diamani atau neraka.
Purnawijaya kaget serta dalam kegelisahannya setelah ,endengar cerita dari kunjarakarna kemudian mereka berdua pergi untuk menghadap kuwairucana agar dapat petunjuk darma. Puncarakarna menghadap dulu untuk mendapat ilmu tentang pelaku kesempurnaan hidup (darma). Kemudian kurnawijaya menghadap kuwairucana penyesalan atas perilaku jelek dalam hidupnya.
Akhirnya kunawicara mendapat pelajaran tentang cara menebus dosa dari sang kuwairucana dan setelah memahami ilmu tersebut kurnawijaya menyadari kesalahan dan bertekat tidak akan mengulangi perbuatan dosa yang dilakukan.
Setelah dianggap cukup menghadap sang Wairucana, Purnawijaya pulang, langsung menemui istrinya yang ebrnama kusumagandawati agar sewaktu-waktu dia meninggal, agar jasadnya dijaga/ditunggui.
Konon Atma/Roh Purnawijaya setelah lepas dan jasadnya, langsung ditangkap dan dimaksudkan kedalam tempat penyiksaan yang berbentuk kawah/ketel (tambran goh muka) yang panas mendidih. Ternyata baru empat puluh hari Purnawijaya menjalani siksaan, tiba-tiba kawah/ketel tersebut pecah dan berubah menjadi biduk/sampan kecil yang berada ditengah telaga dengan airnya yang jernih dan indah suasana lingkungannya. Para penjaga neraka lapor kepada Yamadipati atas peristiwa tersebut. Dan akhirnya Purnawijaya menjelaskan yang sebelumnya bertemu dan mendapat petunjuk dari Wairucana, kemudian yamadipati dengan diikuti purnawijaya pergi menghadap kepada Wairucana, akhirnya Yamadipati mendapat penjelasan mengenai Kunjarakarna dan Purnawijaya.
Setelah usai menjalani siksa di Yamani/Neraka, Purnawijaya pulang yang disambut istrinya dengan penuh bahagia. Kemudian Purnawijaya menjelaskan niatnya kepada istrinya, bahwa dia akan mengikuti jejak Kunjarakarna sebagai sahabatnya, pergi kegunung Mahameru untuk menjalani tanpa agar menjadi menusia suci. Akhirnya sang istri Kusumagandawati juga ikut mandampingi kepergian kepuncak Mahameru guna menjalankan laku Tapa.


2.8. Deskripsi dari Cerita Relief tentang Parthayadnya pada Dinding Candi Jago (Jajaghu)
Cerita relief Parthayadnya (Mahabarata) ini diperlihatkan pada dinding tengah bagian atas, yang ceritranya diawali dari adegan Pandawa dan Kurawa sedang bermain jadi dadu.
Setelah pulang dari Indraprasta, Duryudana putra mahkota Hastina sering termenung memikirkan cara untuk mendapatkan kemegahan dan kemewahan yang ada diIndraprasta. Namun dirinya bingung bagaimana cara untuk bisa mendapatkannya. Maka Duryudana minta pendapat pada Pamannya yang bernama Sengkuni.
Sengkuni berkata; “Aku tahu Yudistira suka bermain Dadu dengan akal-akalan. Untuk itu undanglah dia untuk bermain Dadu, nanti aku yang bermain Dadu dengannya atas nama anda. Dengan tipu dayaku tentu dia akan kalah Dengan demikian anda akan mendapat apa yang anda impi-impikan.
Akhirnya Duryudana menyuruh pada Ayahnya yang bernama Drestarata untuk menyiapkan arena bermain Dadu diistana Hastinapura. Setelah arena Dadu sudah disiapkan Duryudana mengutus pamannya yang bernama Widura untuk mengundang para Pandawa, untuk diajak bermain dadu. Yudistira menerima undangan itu, dengan diikuti adik-adiknya juga istrinya yang bernama Dropadi, mereka berangkat menuju Hastinapura.
Sesampainya di Hastinapura mereka disambut dengan ramah dan suka cita oleh Duryudana. Lalu mereka dipersilahkan beristirahat selama satu hari, kemudian mereka menuju kearena bermain Dadu.
Yudistira yang senang bermain Dadu, akhirnya kena rayuan sang Sengkuni, maka permainan Dadupun dimulai. Mula-mula Yudistira mempertaruhkan harta yang akhirnya kalah. Kemudian Yudistira mempertaruhkan hartanya lagi namun kalah lagi. Begitu seterusnya sampai hartanya habis dipertaruhkan. Kemudian dipertaruhkan prajuritnya, namun kalah lagi. Kemudian Yudistira mempertaruhkan kerajaannya, juga kalah. Setelah tidak memiliki apa-apa lagi, Yudistira terpaksa mempertaruhkan adik-adiknya berturut-turut yaitu; Sadewa, Nakula, kemudian Arjuna, dan Bima, trrnyata kalah juga. Yudistira sudah tidak memiliki apa-apa lagi, akhirnya nekat mempertaruhkan dirinya sendiri, namun sekali lagi dia kalah, dan akhirnya semua menjadi milik Duryudana.
            Sengkuni yang berkidah tajam membujuk Yudistira untuk mempertaruhkan istrinya yang bernama Dropadi. Karena termakan oleh rayuan Sengkuni, akhirnya Yudhistira mempertaruhkan istrinya juga. Banyak hal ini yang tidak setuju dengan tindakan Yudistira yang sangat konyol itu, namun mereka semua membisu kata karena tidak mempunyai kekuasaan, sebab hak ada pada Yudistira.
            Doryudana menyuruh adiknya yang bernama Dursasana untuk menjemput dewi Dropadi. Dropadi menolak datang karena bermain Dadu, akhirnya dengan paksa Dropedi diseret secara kasar oleh Dursasana yang tidak mempunyai rasa kemanusiaan. Dropadi menangis dan menjerit karena rambutnya yang panjang dijambak dan ditarik lalu diseret sampai diarena permainan Dadu, dimana suaminya berkumpul.
            Mereka yang berkumpul diarena permainan Dadu, menyaksikan peristiwa penganiayaan dan pelecehan harga diri wanita, tetapi semua hanya diam membisu bagaikan patung tidak bisa berbuat apa-apa. Para Striya gagah perkasa Pandawa lima telah lenyap keperkasaannya karena terpedaya oleh permainan judi Dadu.
            Yang lebih mengejutkan lagi, Dropadi diminta untuk menanggalkan pakaiannya, namun ditolak oleh Dropadi. Dursasana yang berwatak kasar, tiba-tiba menarik kain/jarit yang dipakai Dropadi. Dengan perlakuan kasar Dursasana, Dropadi hanya bisa menangis dan berdoa kepada para Dewa agar dirinya diselamatkan. Sri Kresna mendengar doa Dropadi secepatnya menolong dengan cara gaib. Sri Kresna mengulur kain/jarit yang dipakai Dropadi sehingga menjadi panjang dan tak bisa habis bila ditarik. Dengan penuh napsu Dursasana terus menarik kain/jarit Dropadi sampai payah dan jatuh terjerembab kelantai. Dursasana gagal untuk menelanjangi Dropadi.
            Dengan perbuatan Dursasana kepada Dropadi, Bima bersumpah kelak dalam perang  Bharatayudaakan membunuh dan merobek dada Dursasana dan meminum darahnya sebagai pembalasan atas laku Dursasana. Dropadi juga bersumpah, bahwa ia tak akan menyanggul (gelung) rambutnya yang terurai karena dijambak dan ditarik oleh Dursasana, sebelum mandi keramas (jamas) dengan darah Dursasana. Setelah mereka mengucapkan sumpah, tiba-tiba terdengar lolongan srigala sebagai tanda sumpah mereka akan menjadi malapetaka pada kurawa khususnya pada Duryadana.
            Drestarata sebagai ayah para kurawa, perasaannya sangat mengerti dengan firasat buruk yang akan menimpa anak-anaknya. Dari apa yang sudah terjadi, Drestarata mengambil keputusan yang bijak, bahwa para Pandawa dan Dropadi harus melakukan pengasingan/pembuangan dihutan selama tiga belas tahun.
            Atas nasehat pamannya yang bernama Widura, Arjuna disarankan memisahkan diri dengan saudara-saudaranya pergi menuju gunung Indrakila untuk melakukan Tapabrata agar mendapatkan senjata yang sakti, yang nantinya dapat digunakan untuk berperang melawan Kurawa dalam Bharatayuda.
Dalam perjalanan menuju gunung Indrakila, ditengah hutan banyak mengalami kejadian/peristiwa sebagai ujian diri Arjuna. Waktu ditengah hutan Arjuna juga bertemu Dewi Sri yang memberikan semangat dalam perjalanannya. Dan Arjuna melanjutkan perjalanannya hingga sampai ditempat pertapaan Rsi Dwipayana atau Begawan Abiyasa yang juga eyangnya sendiri. Lalu Rsi Abiyasa memberi pengetahuan ebagai petunjuk dalam laku tapabrata digunung Indrakila. Setelah menerima pengetahuan dan petunjuk  dari eyangnya Rsi Abiyasa, Arjuna melanjutkan lakunya menuju Indrakila.
2.9. Deskripsi dari Cerita Relief tentang Arjunawiwaha pada Dinding Candi Jago (Jajaghu)
Relief Arjunawiwaha dipahatkan pada teras ketiga. Dari relief ini menceritakan tentang sang Arjuna sedang laku tapabrata digunung Indrakila. Dalam laku tapabratanya, Arjuna mendapat ujian dari para Dewa untuk melihat keteguhan sang Arjuna dalam lakunya. Para Dewa mengutus tujuh Bidadari untuk menggoda Arjuna dalam laku tapa. Diantara tujuh bidadari itu ada yang sangat terkenal cantiknya, yaitu yang bernama dewi Supraba dan dewi Tilotta. Ternyata Arjuna teguh dalam laku tapanya yang tak tergoda oleh tujuh bidadari iu. Dengan rasa kecewa para Bidadari kembali kekahyangan dan melaporkan atas kegagalan kepada Bathara Indra.
Bathara Indra berniat sendiri akan kateguhan laku tapa sang Arjuna dengan cara menyamar menjadi seorang brahmana tua. Ditempat tapanya Arjuna didatangi seorang Brahmana/Rsi tua, Arjuna menyambut dengan penuh hormat kepada Brahmana/Rsi tua tersebut. Mereka lalu berdiskusi soal agama atau Falsafi, dan terpaparlah oleh mereka suatu uraian mengenai kekuasaan dan kenikmatan dalam ma’na yang sejati, dalam segala wujudnya, termasuk kebahagiaan di Surga, juga kenikmatan dan kekuasaan didunia yang semu dan ilusi. Sekali lagi Arjuna masih kokoh dalam laku tapanya dalam memanuhi kewajibannya selaku Ksatriya.
Dalam cerita Arjunawiwaha berikutnya, yaitu raja raksasa yang bernama Niwatakawaca mendengar berita, bahwa ada seorang manusia yang teguh dalam laku tapabratanya digunung Indrakila. Lalu dia menyuruh Patihnya yang bernama Mamangmurka untuk menggagalkan laku tapa manusia tersebut. Dengan cara merubah wujud menjadi seekor Babi hutan yang sangat besar, Mamangmurka merusak dan mengacaukan hutan disekitar tempat Arjuna bertapa. Arjuna keluar dari tempat tapanya sambil mengangkat panah, dan pada saat yang tepat Arrjuna melepas anak panah dari busurnya, dan melesat mengenai babi hutan tersebut, dan matilah babi itu. Tetapi pada saat yang bersamaan seorang Pemburu (Kirata) juga melepas anak panah dan menancap juga ditubuh babi hutan tersebut, akhirnya ada dua anak panah yang menancap ditubuh babi hutan yang mati itu.
Terjadilah pertengkaran hingga perkelahian ntara Arjuna dengan eorang pemburu (Kirata) untuk merebutkan siapa yang lebih dahulu membunuh babi tersebut. Arjuna yang hampir kalah, lalu memegang kaki lawannya, akan tetapi pada saat itu juga wujud si pemburu (Kirata) tiba-tiba hilang, dan berubah menjadi Dewa Ciwa.
Arjuna memuja dengan suatu madah pujian yang mengungkapkan pengakuannya terhadap Dewa Ciwa yang selalu hadir dalam segala laku. Akhirnya Dewa Ciwa menganugerahkan sebuah senjata panah yang sangat sakti namanya “PASOPATI” dengan mantranya kepada Arjuna.
Arjuna di jemput oleh utusan Dewa Indra, untuk membantu para Dew yang berperang dengan Raja Raksasa yang bernama Niwatakawaca. Dan akhirnya Arjuna bersedia membantu para Dewa, dan pergi kekahyangan untuk menemui Bhatara Indra.
Setelah tiba di Keindraan, Arjuna yang dibantu Dewii Suprabha, ditugaska oleh Bhatara Indra untuk pergi ke Himantaka tempat kerajaan raksasa Niwatakawaca, gunna mengetahui rahasia rahasia kesaktian dari Niwatakawaca, dengan tipu daya dan rayuan Dewi Supraba, akhirnya Niwatakawaca membeberkan rahasia kesaktiannya, bahwa diujung lidahnya merupakan kelemahannya.
Pada saat terjadi perang antara bala raksasa Niwatakawaca dengan bala para Dewa, Arjuna menyusup ketengah-tengah barisan untuk mencari kesempatan yang tepat guna membunuh raja rakssa Niwatakawaca. Dan akhirnya pada saat yang tepat. Arjuna melepas anak panahnya dan berhasil menembus ujung lidah Niwatakawaca, dan matilah raja itu dimedan perang. 

2.10. Deskripsi dari Cerita Relief tentang Kresnayana pada Dinding Candi Jago (Jajaghu)

Relief Kresnayana ini dipahatkan pada teras ketiga dinding paling atas sisi kiri kanan pintu candi.
            Relief ini menceritakan tentang dewa Wisnu yang menjelma menjadi manusia dengan nama kresna pada jaman Dwipara.
            Ada suatu kerajaan yang bernama Dwarawati dengan rajanya yang bernama kresna. Kresna selalu bermusuhan dengan raja raksasa angkara murka yang bernama Kalayawana dari kerajaan Yawana. Kresna tidak mau berhadapan langsung berperang dengan raksasa itu, tetapi dengan cara siasat yang seakan-akan dia terdesak dan lari kedalam goa yang terletak dilereng gunung himawan. Ternyata di dalam goa tersebut ada seorang raja yang bernama Mucukunda yang sedang tidur untuk melepas lelah setelah berperang melawan raksasa dalam membantu para Dewa. Dia mempunyai kesaktian luar biasa, dari sorot matanya bisa mengeluarkan Api.
            Setelah tiba didalam goa, Kresna bersembunyi dibelakang tempat raja Mucukunda yang lagi tidur. Tidak beberapa lama raksasa Kalayawana beserta balatentaranya yang mengejar Krena masuk kedalam goa dengan suara hiruk-pikuk. Kalayawana langsung mengijak raja Mucukunda yang sedang tidur, karena dikiranya Kresna. Maka raja Mucukunda bangun dan sangat marah sekali, maka keluarlah semburan api dari sorot matanya dan membakar raksasa Kalayawana beserta bala tentaranya.

Arca dicandi Jago (Jajaghu)

            Dari reliefnya saja tidak bisa dibedakan  sifat keagamaan candinya, tetapi dengan mencermati keberadaan arca-arcanya dapat diketahui dengan jelas sifat keagamaan bangunan candi ini, yaitu bersifat Bhudistis (Budha).
            Dari sisa reruntuhan candi ini dapat diperkirakan bahwa dahulunya didalam bilik atau kamar candi terdapat satu arca utama yang merupakan perwujudan dari Wisnuwardhana sebagai arca Bhudissatwa Awalokiteswara yang disebut AMOGHAPASA arca ini sangat disayangkan pada bagian kepalanya sudah putus, dan dipahatkan bertangan delapan. Sedang pada sisi kiri kanan dihiasi dengan Padma atau bunga Teratai yang tumbuh dari bongkolnya yang menjulur keatas, hal ini merupakan seni pada masa Singhasari.

            Selain arca Amoghapasa, dihalaman candi masih terdapat tiga arca Muka Kala (Muka Raksasa), yang dahulu posisinya ada diatas ambang pintu candi. Muka kala dicandi Jago ini bentuknya lebih detail dan terlihat menyeramkan serta memakai rahang bawah yang merupakan ciri khas kala pada candi periode Jawa Timur.
            Terdapat juga bentuk padmasana/Padma asana, yaitu suatu singgasana (umpak) arca yang berbentuk/motif bungai teratai.

NB: https://www.youtube.com/watch?v=kHT-sYs2ALg (Lebih Lengkap)



DAFTAR PUSTAKA

Soekmono.2002. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.
Suryadi. (Tanpa Tahun). Kupasan Seajarah Candi Jago (Jajaghu). Malang.
Https://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Candi_Jago. [dikutip pada tanggal 01 Mei 2016]
http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/candi-jago.html [dikutip pada tanggal 01 Mei 2016]
http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_timur-candi_jago [dikutip pada tanggal 01 Mei 2016]
http://www.tempatwisatamalang.com/candi-jago-malang/ [dikutip pada tanggal 01 Mei 2016]
https://hurahura.wordpress.com/2013/09/07/candi-jago-dongeng-tantri-dan-perdamaian/ [dikutip pada tanggal 01 Mei 2016]

Kamis, 29 Desember 2016



EMPAT (4) PILAR KEBANGSAAN INDONESIA:

1.      NKRI
2.      PANCASILA
3.      UUD 1945
4.      BHINEKA TUNGGAL IKA



SEMBILAN (9) PILAR YANG MENUNJUKKAN KARAKTER BANGSA INDONESIA:

 1.      Cinta Tuhan dengan Segenap Ciptaannya
2.      Tanggung Jawab, Kedisiplinan dan Kemandirian
3.      Kejujuran/ Amanah dan Kearifan
4.      Hormat dan Santun
5.      Dermawan, Suka Menolong dan Gotong Royong/ Kerjasama
6.      Percaya Diri, Kreatif, dan Pekerja Keras
7.      Kepemimpinan dan Keadilan
8.      Baik dan Rendah Hati
9.      Toleransi, Kedamaian dan Kesantunan