CANDI
JAGO (JAJAGHU)
Oleh
Sulaihah
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN
PENDIDIKAKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JEMBER
2016
BAB
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Candi Jago
merupakan candi yang terletak di Dusun Jago,
Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, tepatnya 22 km ke arah timur
dari Kota Malang. Karena letaknya di Desa Tumpang, candi ini sering juga disebut
Candi Tumpang. Penduduk setempat menyebutnya Cungkup. Menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton,
pembangunan Candi Jago berlangsung sejak tahun 1268 M sampai dengan tahun 1280
M, sebagai penghormatan bagi Raja Singasari ke-4, yaitu Sri Jaya Wisnuwardhana. Walaupun dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan
Singasari, disebut dalam kedua kitab tersebut bahwa Candi Jago selama tahun
1359 M merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi Raja Hayam Wuruk dari
Kerajaan Majapahit. Diduga
Candi Jago juga telah mengalami pemugaran pada tahun 1343 M atas perintah Raja
Adityawarman dari Melayu yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja Hayam
Wuruk.
Candi Jago dipenuhi dengan panel-panel relief yang
terpahat rapi mulai dari kaki sampai ke dinding ruangan teratas. Hampir tidak
terdapat bidang yang kosong, karena semua terisi dengan aneka ragam hiasan
dalam jalinan cerita-cerita yang mengandung unsur pelepasan kepergian. Hal ini
menguatkan dugaan bahwa pembangunan Candi Jago berkaitan erat dengan wafatnya
Sri Jaya Wisnuwardhana. Sesuai dengan agama yang dianut oleh Raja
Wisnuwardhana, yaitu Syiwa Buddha, maka relief pada Candi Jago mengandung
ajaran Hindu maupun Buddha. Untuk lebih jelasnya akan di uraikan berdasarkan
hasil pengamatan lapang di Candi Jago berikut ini.
1.2. Rumusan
Masalah
Berdasarkan rincian yang
telah dikemukakan sebelumnya, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1) Bagaimanakah
Lokasi letak Candi Jago (Jajaghu) dan penamaannya?
2) Bagaimana
riwayat pendirian Candi Jago (Jajaghu)?
3) Bagaimana
deskripsi bentuk dan susunan dari bangunan Candi Jago (Jajaghu)?
4) Bagaimanakah
penggambaran relief pada dinding Candi Jago (Jajaghu)?
5) Bagaimanakah
deskripsi dari cerita relief tentang binatang atau Tantri pada Candi Jago
(Jajaghu)?
6) Bagaimanakah
deskripsi dari cerita relief tentang Ari Darma atau Angling Darma pada dinding
Candi Jago (Jajaghu)?
7) Bagaimanakah
deskripsi dari cerita relief tentang Kunjarakarna pada dinding Candi Jago
(Jajaghu)?
8) Bagaimanakah
deskripsi dari cerita relief tentang Parthayadnya pada dinding Candi Jago
(Jajaghu)?
9) Bagaimanakah
deskripsi dari cerita relief tentang Arjunawiwaha pada dinding Candi Jago
(Jajaghu)? Dan
10 Bagaimanakah
deskripsi dari cerita relief tentang Kresnayana pada dinding Candi Jago
(Jajaghu)?
1.3. Tujuan
1) Untuk mengetahui Lokasi letak Candi Jago (Jajaghu) dan penamaannya;
2) untuk mengetahui riwayat pendirian candi
jago (jajaghu);
3) untuk mengetahui deskripsi dari bentuk dan
susunan bangunan candi jago (jajaghu);
4) untuk mengetahui penggambaran relief pada
dinding candi jago (jajaghu);
5) untuk memahami
deskripsi dari cerita relief tentang binatang atau tantri pada candi jago (jajaghu);
6) untuk memahami
deskripsi dari cerita relief tentang Ari Darma atau Angling Darma pada dinding
candi jago (jajaghu);
7) untuk mengetahui dan memahami deskripsi dari cerita relief
tentang kunjarakarna pada dinding candi jago (jajaghu);
8) untuk memahami
deskripsi dari cerita relief tentang parthayadnya pada dinding candi jago (jajaghu);
9) untuk mengetahui
deskripsi dari cerita relief tentang Arjunawiwaha pada dinding Candi Jago (Jajaghu);
10) Untuk mengetahui deskripsi dari cerita relief
tentang Kresnayana pada dinding Candi Jago (Jajaghu).
BAB 2. PEMBAHASAN LAPORAN
PENGAMATAN
2.1.
Lokasi Letak dan Nama Candi Jago (Jajaghu)
Candi
jago terletak di dusun jago, desa tumpang, kecamatan tumpang, wilayah kabupaten
malang. Dari pusat kota malang sekitar 22 km kearah timur. Pada koordinat
8020.81S 1124550.82E / 8.0057806LS 112.7641167BT / -8.0057806 ; 112.7641167.
ketinggiannya daerahnya 597 M dari permukaan laut dengan suhu rata-rata 20-29
C.
Posisi candi ini terdiri diantara pemukiman penduduk.
Persisnya dari jalan raya tumpang 200 M kearah timur. Jarak candi dengan
perumahan penduduk hanya sekitar 2-3 meter yang hanya dibatasi dengan pagar
kawat berduri yang mengelilingi halaman candi.
Masyarakat sekitarnya atau penduduknya sendiri menyebut
candi ini dengan sebutan tradisi ialah “CUNGKUP” yang maksudnya adalah suatu
bentuk bangunan yang dikeramatkan. Dan yang lebih umum disebut candi jago.
Namun nama atau sebutan candi ini
adalah “JAJAGU” yang tertulis di dalam dua kitab kuna, yaitu kitab pararaton
dan kitab sastra kuna nagarakertagama. Arti dari JAJAGU ialah penyebutan dari
suatu nama tempat suci, atau dapat juga diartikan dengan istilah “keagungan”.
2.2.
Riwayat Pendirian Candi Jago (Jajaghu)
Didalam
kitab sastra kuna negarakertagama yang tercantum didalam salah satu teksnya,
tentera pada pupuh 41 bait 4 pada baris ke dua,yang tertulis sebagai berikut : “Cakabda kananawa nik sithi bathara wishnu
mulih ing suralaya pjah dinammarta sira waleri ciwanimbha mungguwing jajaghu”. Artinya
: “ taun saka awan Sembilan mengebumikan tanah (1190.saka) atau 1268. M, raja
Wishnu atau cri jaya wisnuwardhana (raja singasari ke 4) berpulang atau
meninggal dunia, lalu di candikan (di darmakan) di waleri sebagai arca siwa
(hindu), dan di jajaghu (jago) sebagai budha.
Jadi
dapat di peroleh suatu kesimpulan bahwa : raja wishnuwardana yaitu raja
singahasari ke 4 meninggal dunia pada tahun 1268 masehi, kemudian dicandikan di
dua tempat yaitu di candi waleri (blitar) sebagai siwa atau hindu dan di candi
jajaghu (jago) sebagai budha.
Dari keterangan tersebut diatas dapat diambil suatu
kesimpulan bahwa : raja wisnuwardhana menganut suatu agama dari percampuran dua
unsure agama (Sinkritisme), yaitu agama hinfdubudha atau siwa budha dalam
aliran tantrayana. Agama ini berkembang dan dianut pada masa kerajaan
singhasari terakhir. Proses penyatuan dua agama tesebut yang berkembang karena
pemahaman yang mendalam serta kristalisasi perkembangan agama di kerajaan
singhasari, dimana raja wisnuwardhana menyadari bahwa dua agama tersebut
memiliki tujuan mulia yang sama.
Dilain pihak raja wisnuwardhana berusaha mewujudkan
suasana tata tentrem kerta raharja tanpa
adanya suatu persaingan yang signifikan diantara kedua agama tersebut serta
diantara para pemeluknya.
Dapat diperkirakan peresmian candi jajaghu ini
pada tahun 1280 masehi, yang bersamaan dengan diadakannya upacara Crada (pelepasan roh dari dunia
berselang 12 tahun setelah meninggalnya raja tersebut)
Adanya pahatan padma (bunga teratai) yang keluar dari akarnya/bongkolnya
serta menjulur keatas pada stela arcanya, hal ini merupakan cirri khas seni
pada masa kerajaan singhasari.
Namun perlu diingat bahwa dari kebiasaan-kebiasaan
raja-raja jaman dahulu dalam masa pemerintahannya sering melakukan perubahan serta
pembaharuan terhadap candi-candi yang didirikan oleh raja-raja sebelumnya.
Dengan kenyataan seperti ini kita sering dihadapkan pada masalah yang
berhubungan dengan pendirian bangunan suci atau candi. Hal ini berlaku juga
pada candi jajaghu.
Candi jago (jajaghu) yang sekarang ini pernah mengalami
perubahan/pemugaran yang diperlebar dan diperindah pada masa kerajaan
majapahit, sekitar tahun 1343 M, dan sebagai arsiteknya kala itu adalah Arya
Dewaraja Mpu Aditya (Adyawarman). Hal
ini dibuktikan dengan adanya arca bhairawa yang pernah ada di candi jago
(hilang dicuri tahun 2001), sebagai arca perwujudan Adityawarman sebagai
pelindung dan arsitektur candi jago, ketika masih berstatus Maharajajadiraja
dikerajaan majapahit. Setelah kembali ketanah kelahirannya dan berstatus
Maharajajadiraja diSwarnadwipa, kemudian raja adityawarman membuat sebuah arca
Bhairawa yang mirip seperti candi jago, tetapi ukurannya lebih besar yang di
jambi (Sumatra Barat).
2.3. Bentuk dan
Susunan dari Bangunan Candi Jago (Jajaghu)
Candi
Jago (Jajaghu) memiliki bentuk yang unik jika dibandingkan dengan bentuk
bangunan candi-candi lainnya. Kaki Candi terdiri dari tiga tingkat, tingkat
pertama terdapat delapan anak tangga, tingkat kedua ada empat belas anak
tangga, dan tingkat ketiga ada tujuh anak tangga. Kemungkinan candi ini
dahulunya memakai atap yang terbuatdari kayu dan Ijuk berbentuk Meru, seperti
atap pura-pura Bali. Hal ini ditunjukkan pada salah satu pahatan relief yang
menceritakan Parthayadnya (Mahabharata) pada teras kedua sisi timur pada bagian
tengah.
Bangunan candi ini didirikan di atas kaki candi terdiri
dari tiga tingkat, setiap tingkatnya memiliki teras, yang mana teras tersebut
makin keatas makin mengecil dan bergeser ke belakang, sehingga masing-masing
tingkatnya juga memiliki selasar yang dapat dilalui untuk mengelilingi candi.
Teras yang paling penting dan sakral terletak paling atas dan lebih kecil dan
bergeser ke belakang. Bangunan candi dengan pola semacam ini, mengingatkan kita
pada bentuk serta susunan bangunan pada masa “Meghalitikum”, yaitu salah satu bangunan pada waktu itu yang
disebut “Pundenberundak”. Bangunan
semacam ini yang memilki fungsi sebagai tempat pemujaan roh atau arwah para
leluhur. Apakah candi ini yang memiliki kemiripan bangunan juga akan menjadi
fungsi yang sama ?, ini memerlukan penelitian lebih lanjut. Namun perlu diingat
bahwa candi seperti itu untuk pertama kalinya, tampaknya benar-benar
menunjukkan aliran lokal Indonesia asli.
Candi Jago (Jajaghu) panjangnya 24 meter, lebar 14 meter dan
tingginya sekarang 10,5 meter, diperkirakan ketinggian aslinya 17,5 meter.
Bahan bangunan candinya yang terbuat dari jenis batu andesit (batu gunung).
Arah hadap Candi Jago adalah kebarat. Arah hadap kebarat
ini dimungkinkan oleh para seniman dahulu berorientasi pada manufaktur
Megalithic monumen, karena dari arah tersebut mengarah ke puncak gunung.
Yang jelas dapat diketahui bahwa dalam era periode Jawa
Timur memang sering ditemukan adanya penyimpangan, hal ini khususnya yang
berkaitan dengan keagamaan yang secara tidak langsung berakibat juga di dalam
bangunannya. Khusus bangunan candi atau bangunan suci.
2.4. Relief pada
Dinding Candi Jago (Jajaghu)
Akibat dari perjalanan waktu, kita masih dapat melihat
relief-relief yang terpahat sangat indah pada dinding candinya yang sebagian
sudah banyak mengalami kerusakan, tetapi masih terlihat adanya corak tertentu
yang menandai identitasnya sebagai hasil karya seni Jawa Timur yang menunjukkan
corak dekoratif dan simbolis. Bentuk pahatan tokohnya digambarkan agak kaku
seperti wayang kulit atau wayang purwa (dua dimensi). Sedang corak lain yang
dimiliki candi ini masih berkenaan tentang dalam pahatan/penggambaran
relief-reliefnya yang terpahat dalam setiap panelnya, tiada satupun bidang yang
kosong, semua terlihat sangat padat semua terisi dengan aneka ragam hias dalam
alunan cerita yang mengandung unsure pelepasan. Hal ni sangat dipengaruhi oleh
pandangan pandangan hidup maupun suasana kehidupan yang terjalin erat dengan
lingkungan alam sekitarnya yang kala itu sangat subur dan menggirahkan
Secara umum relief candi ini dipahatkan pada bagian
dinding candi yang mudah dilihat, karena keberadaan relief-reliefnya itu
merupakan pelengkap dan refleksi dari aspek keagamaan yang terdapat pada
bangunan candi itu sendiri dan yang dianut oleh masyarakat pada waktu itu, juga
berasal dari karya sastra yang popular pada masa tu, serta sejarah kehidupan
tokoh yang menjadi objek pemujaan.
Cara membaca reliefnya atau mengelilingi candinya
arahnya harus mengirikan tubuh candi atau berlawanan putaranya jarum jam yang
disebut “PRASAWYAH”.
Bila kita simak baik-baik dari satu persatu pada
reliefnya, banyak menyimpan ma’na dan pesan yang sangat mendalam. Jadi bukan
sekedar bentuk karya seni tanpa arti, didalamnya tersimpan sejuta pesan
terutama soal pendidikan tentang Budi pekerti. Jug sebagai media komunikasi
pesan yang mudah dipahami pada zamannya, tepat sasaran, serta tidak mentinggung
harga diri manusia.
Sesuai deng agama yang dianut dan berkembang pada masa
raja Wisnuwardhana yaitu Ciwa Budha atau Hindu Budha, maka pada dinding candi
jago (jajaghu) ini termasuk pula pahatan relief-relief yang dapat menunjukkan
dua sifat dari keagamaan tersebut, yaitu:
1) Relief
yang bersifat Budhistis:
a.
Relief
dalam menceritakan Binatang (Fable) atau tantric.
b.
Relief
dalam menceritakan Ari Darma tau Angling Darma.
c.
Relief
dalam menceritakan Kunjarakarna.
2) Relief yang
bersifat Hinduistis:
a.
Relief
dalam menceritakan Parthayadnya (Mahabarata)
b.
Relief
dalam menceritakan Arjuna Wiwaha (Mahabarata)
c.
Relief
dalam menceritakan Kresnayana (Mahabarata)
Cerita relief dengan judul tersebut diatas yang
terdapat pada dinding candi Jago, kesemuanya terjalin dengan sangat harmonis
dalam satu kesatuan, khususnya pada cerita Binatang (Fable) atau Tantri. Relief
Tantri merupakan sebuah cerita yang dugambarkan/dipahatkan dalam bentuk
binatang, dimana dalam cerita tersebut terdapat pesan tersembunyi yang ingin
disampaikan kepada para pembaca relief tersebut.
Dipilihya binatang sebagai tokoh utama dalam alur
cerita yang disampaikan. Relief cerita binatang (fable) atau Tantri ini terisi
tentang pembelajaran moral dan kebijaksanaan, termasuk didalamnya adalah
mengenai hokum manusia.
Pada masa lalu fungsi dari cerita Tantri yang terpahat
pada dinding candi ini adalah sebagai suatu sarana pembelajaran kebijakkan dan
moral kepada pangeran yang akan menjadi raja, dengan tujuan sang pangeran mampu
memimpin kerajaan menjadi besar dan hebat. Sehingga dapat diartikan bahwa candi
bukan saja difungsikan sebagai tempat pemujaan atau pendarmaan, akan tetapi
juga sebagai sarana pendidikan/pembelajaran khususnya moral.
Pada relief yang menceritakan Kunjarakarna adalah
suatu cerita yang diangkat dari cerita yang berunsur Budha, namun dalam pahatan
atau penggambaranya sama sekali tidak terkait sepenuhnya dengan dogma-dogma
ajaran Budha. Seperta cara penggambaran tokoh Sri Wairucana/Wirwacana (Dyani
Budha) diwujudkan bertangan empat an dilengkapi dengan atribut-atribut Siwa.
Sedang tanda ongkara bermunculan disekitarnya. Para pertapa dipahatkan/digambarkan
memakai Topi berbentuk “TEKES” yang lazim dikenakan oleh para panji. Dan para
Yogiswara terlihat mengenakan “SURBAN”. Para pangeran dipahatkan memakai “SUPIT
URANG”, sedang tokoh rajanya terlihat mengenakan “GELUNG KELING”, dan para
Punakawan Punta Prasenta selalu setia mendampinginya. Pahatan punakawan-punakawan ini diwujudkan dalam bentuk yang
gemuk, pendek, penuh dengan kekocakan, lucu serta kurang ajar, namun cerdik dan
panuh kasih sayang.
Guna memeriahkan suasana serta menjiwai lingkungannya,
peran”HANJA-HANJA JNANA” turut ditampilkan. Hal tersebut adalah pengetahuan
tentang hantu-hantu, untuk melengkapi seluruh jiwa perpaduan (SINKRITISME)
Hindu Budha atau Siwa Budha masa itu.
Cerita Kunjarakarna mengandung suatu ajaran kebatinan
dalam usaha manusia mencapai kesemurnaan hidup. Cerita semacam ini biasanya
lebih menitik beratkan pada isinya yang berupa wejangan atau ajaran-ajaran yang
bersifat “mistik filosofik” atau “megik relijius”. Jadi dapat disimpulkan bahwa
motif cerita Kunjarakarna yang terpahat pada dinding candi ini, bahwa raja
Winuwardhana adalah “Sang penyelamat”.
Sementara cerita PARTHAYADHANYA dan arjunawiwaha yang
bertitik pangkal pada tokoh bagian cerita kitab Mahabarata, yang menggambarkan
tokoh Arjuna sebagai “Ingkarnasi” dewa Wisnu, adalah sebagai tokoh kunci
kemenangan dari perang saudara antara Pandawa dengan Kurawa yang akhirnya
mewujudkan kebahagiaan dan perdamaian.
2.5. Deskripsi dari Cerita Relief Binatang atau Tantri
pada Candi Jago (Jajaghu)
Dari beberapa cerita tantric yang erpahat pada dinding
candi jago, terdapat salah satu relief yang sangat popular yaitu: relief yang
menggambarkan adehan seekor burung Bangau yang membawa terbang sepasang
Kura-Kura. Kura-Kura tersebut dipahatkan dalam posisi menggantung dengan cara menggigit
pada masing-masing ujung tongkat kayu yang mana tengahnya dipatuk oleh burung
bangau yang membawa terbang Kura-Kura tersebut.
Diceritakan
dua ekor Kura-Kura dengan seekor burung Bangau yang hidup disebuah telaga yang
melimpah airnya. Namun ketentraman itu dimanfaatkan dengan tidak baik oleh
kedua ekor Kura-Kura tersebut, dikarenakan sifatnya yang sombong dan serba
tidak puas dengan apa yang dimilikinya. Akhirnya timbul niat jelek si Kura-Kura
kepada sahabatnya su burung bangau.
Kura-Kura
berkata: “wahai sahabatku bangau yang setia, sebentar lagi akan dating suatu
bencana, yaitu musim kering yang panjang…, aku harus cepat-cepat pindah dari
sini ketelaha yang lebih besar dan airnya yang melimpah tapi sangat jauh…
Jawab burung Bangau; “baik akan kutolong kamu untuk
pindah ketelaga itu… berpeganglah pada tongkat kayu yang tengahnya akan aku
patu…, dan gigitlah oleh kalian masing-masing ujung tongkat kayu ini…, tapi
ingat, selama dalam perjalanan terbang jangan kalian mengucapkan sepatah kata
sebelum sampai tujuan.
Terbang
keangkasa burung bangau itu dengan membawa dua ekor Kura-kura yang
menggelantung, mulai hutan, sungai dan lading. Dari kejauhan tampak dua
binatang buas yaitu serigala yang sedang istirahat dibawah pohon. Tiba-tiba dua
serigala itu melihat keatas dan terlihat ada dua ekor kura-kura yang
bergelantungan pada tongkat kayu yang dibawa terbang oleh burung Bangau, maka
timbul keinginan dari dua serigala itu untuk memangsa dua ekor kura-kura
tersebut. Kedua kura-kura tersebut diolok bagaikan kotoran kerbau kering yang
sedang terbang terbawa angin.
Mendengar olokan dan hinaan dari
Serigala itu, dua ekor kura-kura itu tak tahan mendengarkan olok-olok dan dua
serigala itu berulang-ulang membuat jengkel dan marah, sehingga lupa pesan dari
burung bangau untuk diam dan tak menghiraukan apapun sampai nanti ditujuan. Dan
akhirnya dua ekor kura-kura itu bicara membalas hinaan dan serigala tersebut
sehingga membuat mulut kura-kura terbuka dan akhirnya mereka terjatuh karena
gigitan mereka pada tongkat kayu terlepas, mereka akhirnya jatuh ketanah dan
dimangsa dan menjadi rebutan dua ekor serigala tersebut.
Cerita ini mengandung pesan yaitu
sifat yang mudah tersinggung dan pemarah, tidak sabar, atau mudah terpancing
emosi, sehingga akibat dari sifat kesombongannya itu dapat berakibat fatal yang
dapat mencelakakan diri-sendiri.
Maka kiranya sebagai manusia
haruslah selalu bersabar, rendah hati, serta tidak mudah terhasut, dengan
begitu akan selalu menemui kehidupan yang tentram hati.
Cerita semacam ini sangat populer
pada masa klasik di Jawa. Pada masa kebudayaan Hindu-Budha seperti cerita ini
digunakan sebagai sarana penyebaran agama dan menanamkan pesan etika dan moral
bagi manusia, lewat simbol-simbol yang dilambangkan dengan tokoh-tokoh
binatang.
2.6. Deskripsi dari Cerita Relief tentang Ari Darma
atau Angling Darma pada Dinding Candi Jago (Jajaghu)
Relief
yang menceritakan Andarma (Anglingdarma) ini diawali dari sisi sudut barat daya
pada dinding bawah teras pertama. Relief ini menceritakan perjalanan sang prabu
Aridarma (Anglingdarma) sedang melakukan hobinya yaitu berburu binatang
dihutan. Setelah tiba di hutan Aridarma (Anglingdarma) bertemu dan melihat naga
Gini yang kesepian ditinggal suaminya yang bernama naga Raja yang melakukan
tapa, sedang berbuat zinah, bercumbu rayu dengan ular biasa yaitu ular tampar.
Melihat peristiwa itu Aridarma (Anglingdarma) sangat marah, karena perbuatan
naga gini itu sangat melanggar tatanan-tatanan dan asusila karena akan merusak
keturunan. Lalu dibunuhlah ular tampar itu, saying pada saat melakukan senjata
Aridarma (Anglingdarma) mengenai ekor naga Gini. Naga Gini kesakitan dan pergi
dengan membawa rasa sakit hati.
Setelah tiba ditempat pertapaan
suaminya naga Raja, ia mengadu melaporkan perbuatan Aridarma (Anglingdarma)
kepada naga Raja. Tetapi aduan naga Gini justru kebalikan dari peristiwa yang
sebenarnya yaitu malah memfitnah Aridarma (Anglingdarma).
Mendengar aduan istrinya naga Gini,
naga Raja marah dan akan menuntut balas kepada Aridarma (Anglingdarma), dengan
cara mengubah bentuk dirinya menjadi ular kecil (ular kingsi). Naga Raja
menyelinap di perambingan/tempat tidur Aridarma (Anglingdarma).
Setelah pulang dari berburu,
Aridarma (Anglingdarma) menemui permaisurinya yang bernama setyawati yang
sedang berada didalam kamar. Sambil tiduran Aridarma (Anglingdarma)
menceritakan peristiwa yang terjadi pada saat berburu di hutan.
2.7. Deskripsi dari Cerita Relief tentang Kunjarakarna
pada Dinding Candi Jago (Jajaghu)
Relief Kunjarakarna ini dipahatkan didinding bawah
teras pertama dari sisi timur laut. Kunjarakarna adalah seorang Yaksa, dia
murid setia sang Wairucana. Kunjarakarna pergi
untuk menemui wiraucana berniat belajar tentang ilmu pengetahuuan laku darma.
Setelah bertemu Wairucana, Kunjarakarna tidak langsung diberi ilmu tersebut,
dia diperintahkan pergi ke Yamani (neraka), untuk melihat orang yang disiksa
karena perbuatan dosa semasa hidup didunia. Setelah tiba dineraka atau Yamani
kunjarakarna menemui Yamadipati dewa penjaga neraka untuk minta penjelasan dan
ditunjukkan neraka tempat manusia menjalani dosa.
Kunjarakarna melihat sebuah tempat penyiksaan
berbentuk kawah/ketel berkepala lembu yang disebut “tembran goh muka” atau
“Candra goh muka”. Kunjrakarna lalu bertanya kepada Yamadipati tentang perihal
ada tempat penyiksaan yang masih kosong. Yamadipati menjelaskan bahwa
ketel/kawah yang kosong tersebut akan dipergunakan untuk menyiksa sahabatnya
yang bernama purnawijaya, karena dalam hidupnya banyak berbuat dosa.
Purnawijaya akan menjalani siksa di godok dalam kawah/ketel yang sangat panas
selama seratus tahun. Kunjarakarna sangat terkejut dengan penjelasan tersebut,
karena purnawijaya sebagai sahabatnya yang hidupnya penuh dengan kebahagiaan.
Selesai menimba ilmu pengetahuan hidup Yamadipati
Kunjarakarna langsung pergi menuju kediaman purnawijaya, setelah tiba di
kediaman purnawijaya ia menceritakan perihal yang terjadi waktu menyaksikan
diamani atau neraka.
Purnawijaya kaget serta dalam kegelisahannya setelah
,endengar cerita dari kunjarakarna kemudian mereka berdua pergi untuk menghadap
kuwairucana agar dapat petunjuk darma. Puncarakarna menghadap dulu untuk
mendapat ilmu tentang pelaku kesempurnaan hidup (darma). Kemudian kurnawijaya
menghadap kuwairucana penyesalan atas perilaku jelek dalam hidupnya.
Akhirnya kunawicara mendapat pelajaran tentang cara
menebus dosa dari sang kuwairucana dan setelah memahami ilmu tersebut
kurnawijaya menyadari kesalahan dan bertekat tidak akan mengulangi perbuatan
dosa yang dilakukan.
Setelah dianggap cukup menghadap sang Wairucana,
Purnawijaya pulang, langsung menemui istrinya yang ebrnama kusumagandawati agar
sewaktu-waktu dia meninggal, agar jasadnya dijaga/ditunggui.
Konon Atma/Roh Purnawijaya setelah lepas dan
jasadnya, langsung ditangkap dan dimaksudkan kedalam tempat penyiksaan yang
berbentuk kawah/ketel (tambran goh muka) yang panas mendidih. Ternyata baru
empat puluh hari Purnawijaya menjalani siksaan, tiba-tiba kawah/ketel tersebut
pecah dan berubah menjadi biduk/sampan kecil yang berada ditengah telaga dengan
airnya yang jernih dan indah suasana lingkungannya. Para penjaga neraka lapor
kepada Yamadipati atas peristiwa tersebut. Dan akhirnya Purnawijaya menjelaskan
yang sebelumnya bertemu dan mendapat petunjuk dari Wairucana, kemudian
yamadipati dengan diikuti purnawijaya pergi menghadap kepada Wairucana,
akhirnya Yamadipati mendapat penjelasan mengenai Kunjarakarna dan Purnawijaya.
Setelah usai menjalani siksa di Yamani/Neraka,
Purnawijaya pulang yang disambut istrinya dengan penuh bahagia. Kemudian
Purnawijaya menjelaskan niatnya kepada istrinya, bahwa dia akan mengikuti jejak
Kunjarakarna sebagai sahabatnya, pergi kegunung Mahameru untuk menjalani tanpa
agar menjadi menusia suci. Akhirnya sang istri Kusumagandawati juga ikut
mandampingi kepergian kepuncak Mahameru guna menjalankan laku Tapa.
2.8. Deskripsi dari Cerita Relief tentang Parthayadnya
pada Dinding Candi Jago (Jajaghu)
Cerita relief Parthayadnya (Mahabarata) ini
diperlihatkan pada dinding tengah bagian atas, yang ceritranya diawali dari
adegan Pandawa dan Kurawa sedang bermain jadi dadu.
Setelah pulang dari Indraprasta, Duryudana putra
mahkota Hastina sering termenung memikirkan cara untuk mendapatkan kemegahan
dan kemewahan yang ada diIndraprasta. Namun dirinya bingung bagaimana cara
untuk bisa mendapatkannya. Maka Duryudana minta pendapat pada Pamannya yang
bernama Sengkuni.
Sengkuni berkata; “Aku tahu Yudistira suka bermain
Dadu dengan akal-akalan. Untuk itu undanglah dia untuk bermain Dadu, nanti aku
yang bermain Dadu dengannya atas nama anda. Dengan tipu dayaku tentu dia akan
kalah Dengan demikian anda akan mendapat apa yang anda impi-impikan.
Akhirnya Duryudana menyuruh pada Ayahnya yang
bernama Drestarata untuk menyiapkan arena bermain Dadu diistana Hastinapura.
Setelah arena Dadu sudah disiapkan Duryudana mengutus pamannya yang bernama
Widura untuk mengundang para Pandawa, untuk diajak bermain dadu. Yudistira
menerima undangan itu, dengan diikuti adik-adiknya juga istrinya yang bernama
Dropadi, mereka berangkat menuju Hastinapura.
Sesampainya di Hastinapura mereka disambut dengan
ramah dan suka cita oleh Duryudana. Lalu mereka dipersilahkan beristirahat
selama satu hari, kemudian mereka menuju kearena bermain Dadu.
Yudistira
yang senang bermain Dadu, akhirnya kena rayuan sang Sengkuni, maka permainan
Dadupun dimulai. Mula-mula Yudistira mempertaruhkan harta yang akhirnya kalah.
Kemudian Yudistira mempertaruhkan hartanya lagi namun kalah lagi. Begitu
seterusnya sampai hartanya habis dipertaruhkan. Kemudian dipertaruhkan
prajuritnya, namun kalah lagi. Kemudian Yudistira mempertaruhkan kerajaannya,
juga kalah. Setelah tidak memiliki apa-apa lagi, Yudistira terpaksa
mempertaruhkan adik-adiknya berturut-turut yaitu; Sadewa, Nakula, kemudian
Arjuna, dan Bima, trrnyata kalah juga. Yudistira sudah tidak memiliki apa-apa
lagi, akhirnya nekat mempertaruhkan dirinya sendiri, namun sekali lagi dia
kalah, dan akhirnya semua menjadi milik Duryudana.
Sengkuni yang berkidah tajam membujuk Yudistira untuk
mempertaruhkan istrinya yang bernama Dropadi. Karena termakan oleh rayuan
Sengkuni, akhirnya Yudhistira mempertaruhkan istrinya juga. Banyak hal ini yang
tidak setuju dengan tindakan Yudistira yang sangat konyol itu, namun mereka
semua membisu kata karena tidak mempunyai kekuasaan, sebab hak ada pada
Yudistira.
Doryudana menyuruh adiknya yang bernama Dursasana untuk
menjemput dewi Dropadi. Dropadi menolak datang karena bermain Dadu, akhirnya
dengan paksa Dropedi diseret secara kasar oleh Dursasana yang tidak mempunyai
rasa kemanusiaan. Dropadi menangis dan menjerit karena rambutnya yang panjang
dijambak dan ditarik lalu diseret sampai diarena permainan Dadu, dimana
suaminya berkumpul.
Mereka yang berkumpul diarena permainan Dadu, menyaksikan
peristiwa penganiayaan dan pelecehan harga diri wanita, tetapi semua hanya diam
membisu bagaikan patung tidak bisa berbuat apa-apa. Para Striya gagah perkasa
Pandawa lima telah lenyap keperkasaannya karena terpedaya oleh permainan judi
Dadu.
Yang lebih mengejutkan lagi, Dropadi
diminta untuk menanggalkan pakaiannya, namun ditolak oleh Dropadi. Dursasana
yang berwatak kasar, tiba-tiba menarik kain/jarit yang dipakai Dropadi. Dengan
perlakuan kasar Dursasana, Dropadi hanya bisa menangis dan berdoa kepada para
Dewa agar dirinya diselamatkan. Sri Kresna mendengar doa Dropadi secepatnya
menolong dengan cara gaib. Sri Kresna mengulur kain/jarit yang dipakai Dropadi
sehingga menjadi panjang dan tak bisa habis bila ditarik. Dengan penuh napsu
Dursasana terus menarik kain/jarit Dropadi sampai payah dan jatuh terjerembab
kelantai. Dursasana gagal untuk menelanjangi Dropadi.
Dengan perbuatan Dursasana kepada Dropadi, Bima bersumpah
kelak dalam perang Bharatayudaakan
membunuh dan merobek dada Dursasana dan meminum darahnya sebagai pembalasan
atas laku Dursasana. Dropadi juga bersumpah, bahwa ia tak akan menyanggul
(gelung) rambutnya yang terurai karena dijambak dan ditarik oleh Dursasana,
sebelum mandi keramas (jamas) dengan darah Dursasana. Setelah mereka
mengucapkan sumpah, tiba-tiba terdengar lolongan srigala sebagai tanda sumpah
mereka akan menjadi malapetaka pada kurawa khususnya pada Duryadana.
Drestarata sebagai ayah para kurawa, perasaannya sangat
mengerti dengan firasat buruk yang akan menimpa anak-anaknya. Dari apa yang
sudah terjadi, Drestarata mengambil keputusan yang bijak, bahwa para Pandawa
dan Dropadi harus melakukan pengasingan/pembuangan dihutan selama tiga belas
tahun.
Atas nasehat pamannya yang bernama Widura, Arjuna
disarankan memisahkan diri dengan saudara-saudaranya pergi menuju gunung
Indrakila untuk melakukan Tapabrata agar mendapatkan senjata yang sakti, yang
nantinya dapat digunakan untuk berperang melawan Kurawa dalam Bharatayuda.
Dalam
perjalanan menuju gunung Indrakila, ditengah hutan banyak mengalami
kejadian/peristiwa sebagai ujian diri Arjuna. Waktu ditengah hutan Arjuna juga
bertemu Dewi Sri yang memberikan semangat dalam perjalanannya. Dan Arjuna
melanjutkan perjalanannya hingga sampai ditempat pertapaan Rsi Dwipayana atau
Begawan Abiyasa yang juga eyangnya sendiri. Lalu Rsi Abiyasa memberi pengetahuan
ebagai petunjuk dalam laku tapabrata digunung Indrakila. Setelah menerima
pengetahuan dan petunjuk dari eyangnya
Rsi Abiyasa, Arjuna melanjutkan lakunya menuju Indrakila.
2.9. Deskripsi dari Cerita Relief tentang Arjunawiwaha
pada Dinding Candi Jago (Jajaghu)
Relief Arjunawiwaha dipahatkan pada teras ketiga.
Dari relief ini menceritakan tentang sang Arjuna sedang laku tapabrata digunung
Indrakila. Dalam laku tapabratanya, Arjuna mendapat ujian dari para Dewa untuk
melihat keteguhan sang Arjuna dalam lakunya. Para Dewa mengutus tujuh Bidadari
untuk menggoda Arjuna dalam laku tapa. Diantara tujuh bidadari itu ada yang
sangat terkenal cantiknya, yaitu yang bernama dewi Supraba dan dewi Tilotta.
Ternyata Arjuna teguh dalam laku tapanya yang tak tergoda oleh tujuh bidadari
iu. Dengan rasa kecewa para Bidadari kembali kekahyangan dan melaporkan atas
kegagalan kepada Bathara Indra.
Bathara Indra berniat sendiri akan kateguhan laku
tapa sang Arjuna dengan cara menyamar menjadi seorang brahmana tua. Ditempat
tapanya Arjuna didatangi seorang Brahmana/Rsi tua, Arjuna menyambut dengan
penuh hormat kepada Brahmana/Rsi tua tersebut. Mereka lalu berdiskusi soal
agama atau Falsafi, dan terpaparlah oleh mereka suatu uraian mengenai kekuasaan
dan kenikmatan dalam ma’na yang sejati, dalam segala wujudnya, termasuk
kebahagiaan di Surga, juga kenikmatan dan kekuasaan didunia yang semu dan
ilusi. Sekali lagi Arjuna masih kokoh dalam laku tapanya dalam memanuhi
kewajibannya selaku Ksatriya.
Dalam cerita Arjunawiwaha berikutnya, yaitu raja
raksasa yang bernama Niwatakawaca mendengar berita, bahwa ada seorang manusia
yang teguh dalam laku tapabratanya digunung Indrakila. Lalu dia menyuruh
Patihnya yang bernama Mamangmurka untuk menggagalkan laku tapa manusia
tersebut. Dengan cara merubah wujud menjadi seekor Babi hutan yang sangat
besar, Mamangmurka merusak dan mengacaukan hutan disekitar tempat Arjuna
bertapa. Arjuna keluar dari tempat tapanya sambil mengangkat panah, dan pada
saat yang tepat Arrjuna melepas anak panah dari busurnya, dan melesat mengenai
babi hutan tersebut, dan matilah babi itu. Tetapi pada saat yang bersamaan
seorang Pemburu (Kirata) juga melepas anak panah dan menancap juga ditubuh babi
hutan tersebut, akhirnya ada dua anak panah yang menancap ditubuh babi hutan yang
mati itu.
Terjadilah pertengkaran hingga perkelahian ntara
Arjuna dengan eorang pemburu (Kirata) untuk merebutkan siapa yang lebih dahulu
membunuh babi tersebut. Arjuna yang hampir kalah, lalu memegang kaki lawannya,
akan tetapi pada saat itu juga wujud si pemburu (Kirata) tiba-tiba hilang, dan
berubah menjadi Dewa Ciwa.
Arjuna memuja dengan suatu madah pujian yang
mengungkapkan pengakuannya terhadap Dewa Ciwa yang selalu hadir dalam segala
laku. Akhirnya Dewa Ciwa menganugerahkan sebuah senjata panah yang sangat sakti
namanya “PASOPATI” dengan mantranya kepada Arjuna.
Arjuna di jemput oleh utusan Dewa Indra, untuk
membantu para Dew yang berperang dengan Raja Raksasa yang bernama Niwatakawaca.
Dan akhirnya Arjuna bersedia membantu para Dewa, dan pergi kekahyangan untuk
menemui Bhatara Indra.
Setelah tiba di Keindraan, Arjuna yang dibantu Dewii
Suprabha, ditugaska oleh Bhatara Indra untuk pergi ke Himantaka tempat kerajaan
raksasa Niwatakawaca, gunna mengetahui rahasia rahasia kesaktian dari
Niwatakawaca, dengan tipu daya dan rayuan Dewi Supraba, akhirnya Niwatakawaca
membeberkan rahasia kesaktiannya, bahwa diujung lidahnya merupakan
kelemahannya.
Pada saat terjadi perang antara bala raksasa
Niwatakawaca dengan bala para Dewa, Arjuna menyusup ketengah-tengah barisan
untuk mencari kesempatan yang tepat guna membunuh raja rakssa Niwatakawaca. Dan
akhirnya pada saat yang tepat. Arjuna melepas anak panahnya dan berhasil
menembus ujung lidah Niwatakawaca, dan matilah raja itu dimedan
perang.
2.10. Deskripsi dari Cerita Relief tentang Kresnayana pada
Dinding Candi Jago (Jajaghu)
Relief
Kresnayana ini dipahatkan pada teras ketiga dinding paling atas sisi kiri kanan
pintu candi.
Relief ini menceritakan tentang dewa
Wisnu yang menjelma menjadi manusia dengan nama kresna pada jaman Dwipara.
Ada suatu kerajaan yang bernama
Dwarawati dengan rajanya yang bernama kresna. Kresna selalu bermusuhan dengan
raja raksasa angkara murka yang bernama Kalayawana dari kerajaan Yawana. Kresna
tidak mau berhadapan langsung berperang dengan raksasa itu, tetapi dengan cara
siasat yang seakan-akan dia terdesak dan lari kedalam goa yang terletak
dilereng gunung himawan. Ternyata di dalam goa tersebut ada seorang raja yang
bernama Mucukunda yang sedang tidur untuk melepas lelah setelah berperang
melawan raksasa dalam membantu para Dewa. Dia mempunyai kesaktian luar biasa,
dari sorot matanya bisa mengeluarkan Api.
Setelah tiba didalam goa, Kresna
bersembunyi dibelakang tempat raja Mucukunda yang lagi tidur. Tidak beberapa
lama raksasa Kalayawana beserta balatentaranya yang mengejar Krena masuk
kedalam goa dengan suara hiruk-pikuk. Kalayawana langsung mengijak raja
Mucukunda yang sedang tidur, karena dikiranya Kresna. Maka raja Mucukunda
bangun dan sangat marah sekali, maka keluarlah semburan api dari sorot matanya
dan membakar raksasa Kalayawana beserta bala tentaranya.
Arca
dicandi Jago (Jajaghu)
Dari reliefnya saja tidak bisa
dibedakan sifat keagamaan candinya,
tetapi dengan mencermati keberadaan arca-arcanya dapat diketahui dengan jelas
sifat keagamaan bangunan candi ini, yaitu bersifat Bhudistis (Budha).
Dari sisa reruntuhan candi ini dapat
diperkirakan bahwa dahulunya didalam bilik atau kamar candi terdapat satu arca
utama yang merupakan perwujudan dari Wisnuwardhana sebagai arca Bhudissatwa
Awalokiteswara yang disebut AMOGHAPASA arca ini sangat disayangkan pada bagian
kepalanya sudah putus, dan dipahatkan bertangan delapan. Sedang pada sisi kiri
kanan dihiasi dengan Padma atau bunga Teratai yang tumbuh dari bongkolnya yang
menjulur keatas, hal ini merupakan seni pada masa Singhasari.
Selain arca Amoghapasa, dihalaman candi masih terdapat
tiga arca Muka Kala (Muka Raksasa), yang dahulu posisinya ada diatas ambang
pintu candi. Muka kala dicandi Jago ini bentuknya lebih detail dan terlihat
menyeramkan serta memakai rahang bawah yang merupakan ciri khas kala pada candi
periode Jawa Timur.
Terdapat juga bentuk padmasana/Padma asana, yaitu suatu
singgasana (umpak) arca yang berbentuk/motif bungai teratai.
NB: https://www.youtube.com/watch?v=kHT-sYs2ALg (Lebih Lengkap)
NB: https://www.youtube.com/watch?v=kHT-sYs2ALg (Lebih Lengkap)
DAFTAR PUSTAKA
Soekmono.2002. Pengantar
Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.
Suryadi. (Tanpa Tahun). Kupasan Seajarah Candi Jago (Jajaghu). Malang.
Https://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Candi_Jago. [dikutip
pada tanggal 01 Mei 2016]
http://sejarahbudayanusantara.weebly.com/candi-jago.html
[dikutip pada tanggal 01 Mei 2016]
http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_timur-candi_jago
[dikutip pada tanggal 01 Mei 2016]
http://www.tempatwisatamalang.com/candi-jago-malang/
[dikutip pada tanggal 01 Mei 2016]
https://hurahura.wordpress.com/2013/09/07/candi-jago-dongeng-tantri-dan-perdamaian/
[dikutip pada tanggal 01 Mei 2016]



